Asinan

Asinan

  Kamis, 3 March 2016 08:19

Berita Terkait

“Ini hidangan berbasis irisan buah-buahan serta sayur-mayur yang diberi atau direndam dalam kuah berbumbu. Cuma, sesuai penamaannya, walau sama-sama menggunakan  gula, kuah asinan cenderung lebih bercita rasa asin.”

Asinan menjadi salah satu menu favorit bagi banyak kalangan, terutama para wanita. Rasanya yang asam, dengan kesegaran buah-buahan dan sayuran membuat banyak orang senang menikmatinya. Asinan sebenarnya hampir mirip dengan rujak, tetapi perbedaannya rujak disajikan dengan buah segar.

Terdapat banyak jenis asinan yang terkenal di Indonesia. Seperti asinan Betawi dan asinan Bogor yang paling terkenal. Para pecinta kuliner tentu akan berburu makanan ini ketika berkunjung ke daerah tersebut. Penjualnya pun tersebar di banyak tempat, mulai dari rumah makan, warung dan pedagang keliling.

Di Pontianak, For Her menemukan satu lokasi yang baru beberapa bulan merintis asinan Bogor. Asinan ini terbuat dari olahan buah-buahan yang dipotong-potong. Beragam jenis buah yang digunakan. “Ketersediaannya suka kosong, bergantung musim. Yang paling banyak isinya itu bengkuang, kemudian ada juga ubi rambat, ketimun, jambu air, nanas dan kedondong. Dicampur semua,” ucap Reza, salah satu owner di Asinan Bogor Jalan Jeranding Pontianak.

Menurut Reza, yang membedakan asinan sama manisan ini adalah bahan baku yang digunakan untuk pengawetannya. “Kalau manisan biasanya menggunakan induk gula. Kalau tidak, sebentar sudah berubah warna. Kadang juga mencampurkan asam benzoat dan kapur. Kalau asinan sistem pengawetannya menggunakan garam,” beritahunya.

Di daerah Jawa, lanjut dia pengawetannya dilakukan di dalam toples-toples. Selain garam, juga menggunakan air cuka. “Kalau sudah direndam berarti air cuka. Makanya disana jauh lebih asam,” papar dia. Sementara asinan buatannya ini tidak menggunakan air cuka seperti di Jawa, melainkan memanfaatkan buah jeruk sambal. ”Kalau pakai cuka bisa saja, hanya cuka disini sama di Jawa beda. Kalau cuka disana yang biasa digunakan itu bisa diminum, sementara kalau cuka kita disini lebih kelat  rasanya,” jelasnya yang mengatakan akan lebih alamiah menggunakan jeruk sambal.

Buah-buahan tidak bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama. Itu sebabnya, Reza memilih memasukkan buah ke dalam kulkas ketika sudah dikemas ke dalam kemasan. “Jika masuk dalam kulkas, bisa tahan 3 hari tetapi tidak boleh dikeluar masuk kulkas. Kalau keluar satu jam saja dikeluarkan dari kulkas, pasti sudah berubah kualitasnya,” Jelas dia yang mengatakan ketika buah dimasukkan dalam kulkas, maka buah tidak memerlukan garam lagi. Ketika dicampur dengan kuah, rasanya kuahnya tidak akan berubah.

Dikatakan dia, alasannya memisahkan buah dari kuahnya karena orang Pontianak tidak begitu suka membeli asinan yang sudah bercampur kuah. “Sering minta pisah kuah dengan buah-buahan. Biar mereka campur sendiri di rumah,” katanya.  Memulai usaha ini, Reza mengalami berbagai tantangan, salah satunya dalam penyajian kepada konsumen. “Ibarat baru, dan disini jarang sekali ada yang menjual asinan, maka belum ada yang bisa di contoh. Kalau ke Jawa khan lebih gampang cari contoh. Awalnya saya coba cara yang A, pakai toples-toples ternyata rugi, tidak pakai modal. Cara B dengan cara buah-buahannya dikupas di depan pembeli. Ternyata terlalu lama orang menunggu. Kalau ada dua orang nunggu 10 menitan,” bebernya.

Merasa kedua cara tersebut tidak efektif, dia pun memilih untuk memaketkan buah-buahan tersebut dan disimpan dalam kulkas. “Penjualannya tergantung musim. Kalau lagi musim buah, peminatnya kurang. Sekarang permintaan mulai bertambah, terutama jelang sore hari,”  pungkasnya. **

Berita Terkait