Asfiksia, 29 Bayi Meninggal

Asfiksia, 29 Bayi Meninggal

  Jumat, 25 March 2016 13:25

Berita Terkait

MEMPAWAH – Dalam laporan tahunannya, Dinas Kesehatan (Dinkes) mengungkapkan terdapat 12 ibu hamil, bersalin, dan masa nifas yang meninggal dunia di Kabupaten Mempawah. Termasuk 29 bayi berusia 0-28 hari meninggal akibat asfiksia atau kegagalan bernafas secara teratur dan berat badan lahir rendah.

“Meskipun para bidan telah aktif memberikan sentuhan dan kontribusi maksimal, namun masih diperlukan sinergitas kebijakan yang komprehensif guna memberikan ruang partisipasi yang lebih luas bagi tenaga bidan untuk terus berkarya,” pendapat Bupati Ria Norsan menghadiri Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ke-65 yang dirangkaikan dengan Muscab IBI ke-7 di Wisma Chandramidi Mempawah, kemarin pagi.

Norsan mengatakan, kasus kematian ibu dan bayi di  Kabupaten Mempawah sangat memprihatinkan. Menyikapi hal itu, maka dia mengajak semua pemangku kepentingan untuk menyatukan komitmen melaksanakan tugas pokok dan fungsi masing-masing. Khususnya, dalam memberikan pelayanan terbaik sebagai bagian upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

“Para bidan di Kabupaten Mempawah juga harus terus kompetitif dalam meningkatkan kemampuan dan keahliannya. Agar ke depan menjadi pengawal terbaik dalam upaya menekan angka kematian ibu dan bayi,” tuturnya.

Sebab, imbuh Norsan, pelayanan dan penanganan yang tepat terhadap para ibu dan bayi akan melahirkan generasi muda yang bermutu dan berkualitas. Namun yang terpenting, mampu menekan kasus kematian ibu dan bayi dalam setiap proses persalinan.

“Mudah-mudahan pelayanan persalinan yang baik akan menghasilkan generasi muda yang bermutu dan berkualitas pula. Sehingga mampu membawa Kabupaten Mempawah menjadi daerah yang berdaya saing tinggi dan tidak tertinggal dengan kabupaten lain,” harapnya.

Ditempat yang sama, Ketua IBI Kalimantan Barat, Yusniati menyebut bidan sebagai salah satu profesi kesehatan strategis. Ia mengatakan bidan mengawal seribu hari pertama kehidupan manusia.

“Makna seribu hari tersebut yakni sembilan bulan dalam kandungan dan dua tahun di luar kandungan. Pada seribu hari yang disebut golden period atau masa emas itu bidan bertugas mengawal pertumbuhan dan perkembangan seorang anak manusia,” paparnya.

Yusniati menerangkan, bidan memiliki tugas penting dalam meningkatkan status kesehatan ibu dan anak guna mempersiapkan generasi yang berkualitas. Semuanya itu dimulai dari dini sejak sebelum hamil, pengawasan selama hamil, pertolongan persalinan, asuhan bayi baru lahir dan balita berkualitas, serta intervensi dini tumbuh-kembang balita yang akan menentukan kualitas anak sebagai penerus generasi masa depan.

“Bidan juga dituntut mampu melaksanakan pelayanan keluarga berencana dan deteksi dini penyakit maternal, perinatal, dan neonatal yang memerlukan pembinaan klinis serta manajemen kesehatan ibu dan anak yang baik. Untuk mencapai itu maka diperlukan peningkatan kompetensi bidan, melanjutkan pendidikan formal maupun nonformal,” tukasnya.(wah)

 

Berita Terkait