Aset Perbankan Tetap Tumbuh

Aset Perbankan Tetap Tumbuh

  Sabtu, 20 February 2016 09:12

Berita Terkait

Selain laba, pertumbuhan aset adalah hal penting di dunia perbankan. Karena itu meski pertumbuhan ekonomi melambat, jangan sampai aset juga ikut melambat. Lantas bagaimana pertumbuhan aset perbankan di Kalimantan Barat  di tahun 2015. Ramses L Tobing

Kondisi perekonomian dunia di tahun 2015, termasuk di Indonesia  sedang tidak stabil. Kondisi itu juga mempengaruhi perekonomian di Kalbar. Namun di tahun yang sama aset perbankan tetap tumbuh.  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalbar mencatat pertumbuhan aset perbankan sebesar 11,10 persen di tahun 2015. Tercatat jumlah itu aset sebesar Rp55,33 triliun.“Ada pertumbuhan sebesar 11,10 persen, dibandingkan dengan triwulan II 2015 sebesar Rp53,69 triliun,” kata Kepala OJK Kalbar Asep Ruswanti baru-baru ini. Kemudian di triwulan ke IV tahun 2015 pihak perbankan berhasil menghimpun dana pihak ketiga sebesar Rp44,093 triliun. Persentasenya sebesar 11,44 persen dan itu lebih besar dibandingkan triwulan ke II 2015. “Triwulan II tahun 2015 hanya sembilan persen,” kata dia.

Selanjutnya kontribusi perbankan konvensional terhadap pengumpulan DPK adalah sebesar Rp41,69 triliun atau 95,85 persen. Asep menyebutkan ada pertumbuhan sebesar 9,19 persen.  Namun kondisi yang berbeda pada kontribusi perbankan syariah terhadap total DPK. Tercatat kontribusinya Rp1,81 triliun atau 4,15 persen. Asep menilai pertumbuhan ini cukup tinggi, sebab mencapai angka 19,39 persen .

Lalu pembiayaan yang dilakukan perbankan. Pada triwulan ke empat tahun 2015 penyaluran kredit perbankan di Kalbar tumbuh sebesar Rp6,92 triliun atau sebesar 14,37 persen. “Dengan adanya pertumbuhan itu maka tercatat pembiayaan yang dilakukan sebesar Rp55,15 triliun,” kata dia.Dia menilai pertumbuhan itu cukup baik jika dibandingkan dengan pertumbuhan kredit nasional sampai dengan November 2015 yang menunjukkan perlambatan menjadi 9,85 persen.

Hanya saja masih ada perlambatan yang disebabkan ketidakpastian perkembangan perekonomian. Hal itupun membuat kredit pada seluruh sektor ekonomi turun.   “Sektor pertanianlah yang mengalami penurun terbesar. Itu dilihat dari turunnya harga komoditas dunia,” ujar dia.Sedangkan tingkat Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan Kalbar dianggap cukup baik. Hanya saja ada penurunan. Pada triwulan sebelumnya LDR sebesar 86,15 persen namun di triwulan selanjut tercatat hanya 83,19 persen. Lalu rasio non performing loans (NPL) Triwulan IV Kalbar di posisi 2,95 persen. Asep melihat angka menggambarkan kualitas pembiayaan masih terjaga meskipun lebih tinggi dibandingkan rasio NPL di tahun sebelumnya yakni sebesar 2,66 persen. (*)

Berita Terkait