Aset Eks Gafatar Belum Diambil

Aset Eks Gafatar Belum Diambil

  Minggu, 7 Agustus 2016 10:57
ASET: Puluhan sepeda motor dan mobil masih teronggok di halaman Mapolres Mempawah. Barang-barang ini merupakan aset atau harta benda milik eks Gafatar yang belum diambil pemiliknya. (ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST)

Berita Terkait

PONTIANAK- Sejumlah aset milik eks Gafatar masih teronggok di halaman Mapolres Mempawah. Aset berupa 70 unit sepeda motor, 4 unit mobil serta ribuan barang seperti alat elektronik, kasur dan kelengkapan rumah tangga lainnya itu masih diamankan di Mapolres  Mempawah. Hanya beberapa barang yang diambil oleh pemiliknya. 

Kepala Kepolisian Resort Mempawah AKBP Dedi Agustono mengatakan, paska insiden pengusiran eks Gafatar dari Kabupaten Mempawah beberapa bulan lalu, aset eks Gafatar diamankan di Mapolres Mempawah. Menurut Dedi, bagi pemilik aset dipersilahkan untuk mengambilnya, namun tentu saja dengan berbagai prosedur. 

"Bagi pemiliknya, silahkan mengambil, tapi harus melalui beberapa syarat diantaranya seperti surat kepemilikan kendaraan bermotor dan yang terpenting harus memiliki surat keterangan dari Pemerintah Daerah asal," ujar Dedi kepada sejumlah wartawan belum lama ini.

Menurut Dedi, sebulan lalu pihaknya sudah menerima permintaan harta benda eks Gafatar dari Pemda Jawa Tengah, yakni satu unit mobil Grand Max. Sedangkan, untuk harta tidak bergerak seperti surat tanah dan lainnya memang sampai saat ini masih dipegang Pemkab Mempawah.

“Saya tegaskan, kami tidak menyita barang-barang eks Gafatar, tapi kami haya dititipi,  karena kebetulan tempat kami punya halaman luas, sehingga oleh pemkab dititipkan ke sini," katanya.

Dikatakan Dedi, aset milik eks Gafatar ini berupa 70 unit sepeda motor, empat unit dan barang-barang elektronik dan barang-barang lainnya, seperti kasur serta kelengkapan rumah tangga lainnya. 

"Semua masih tersimpan dengan baik. Motor dan mobil ada di halaman samping, sedangkan untuk barang-barang lain seperti kasur, elektronik dan kelengkapan rumah tangga ada di asrama. Semua bisa diambil dengan catatan ada surat dari Pemda asal,” terangnya.

Dedi mengatakan, pengambilan harta benda ini semestinya dilakukan kolektif atau diwakilkan saja kepada Pemerintah Daerah tempat asal eks gafatar itu. Karena dikhawatirkan, akan kembali memancing aksi protes warga.

Hal ini kata dia, seperti yang terjadi pada bulan Mei 2016, ratusan masyarakat kembali menghadang sekitar 4 orang eks Gafatar yang ingin mengambil harta bendanya. Untungnya pada saat itu, sejumlah anggota polisi dari Resor Mempawah langsung mengamankan eks Gafatar ini, sehingga kejadian anarkis bisa dihindarkan.

Sebelumnya, pada bulan Januari tepatnya tanggal 19 di tahun ini, sekitar seribu warga yang berada di Moton Panjang Kecamatan Mempawah Timur Kabupaten Mempawah, diusir warga dengan cara membakar sejumlah kamp yang telah berdiri sejak tahun 2015.

Pembakaran dan pengusiran ini menyusul informasi jika sejumlah warga yang eksodus dari berbagai daerah di Indonesia ke Mempawah itu dianggap pengikut aliran sesat dan diduga akan mendirikan Negara baru. Padahal hingga saat ini pembuktian secara hukum mengenai hal itu belum ada.

Sementara Pemerintah Kabupaten Mempawah, berdasarkan Surat Keputusan Bupati Nomor 153 tahun 2016 dibentuklah Tim penanganan aset warga eks Gafatar. Tim ini bertugas untuk menginventarisir, mengumpulkan serta mengembalikan harta benda baik barang dan tanah milik warga eks Gafatar.

Namun memang, ada prosedur yang harus ditaati jika warga eks Gafatar menginginkan asetnya kembali. Diantaranya, menyurati pertama kali Pemkab Mempawah. Setelah surat itu dibalas maka warga diwajibkan menghubungi Pemerintah Daerahnya untuk kembali menyurati Pemkab Mempawah.

Tak habis disitu, warga pun harus membuktikan kepemilikan akan barang bergerak atau tidak bergerak ini. Seperti BPKB jika memang yang diklaim adalah kendaraan bermotor, dan surat tanah baik SKT dan SHM. (arf)

Berita Terkait