Asap Indonesia Sampai Malaysia dan Singapura

Asap Indonesia Sampai Malaysia dan Singapura

  Minggu, 28 Agustus 2016 09:59

Berita Terkait

JAKARTA – Dampak asap kebakaran hutan dan lahan di Riau tidak hanya sampai Singapura saja. Tapi, asap itu dilaporkan terbawa angin sampai Malaysia siang kemarin (27/8). Tapi, berangsur berkurang intensitasnya sampai sore hari. Pada sore hari sebaran asap itu sampai di sekitar Selat Malaka.

Data yang dihimpun dari Badan, Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika  (BMKG) menyebutkan sekitar pukul 12.00, asap dari kebakaran hutan dan lahan di Riau telah sampai ke Malaysia dan Singapura. Lokasinya berada di sekitar selatan Malaysia. Mereka mengunakan data cirta satelit Himawari.

Kepala Humas BMKG Hary T. Djatmiko menuturkan pada pagi kemarin asap kebakaran hutan itu masih di sektiar Riau saja. Lantaran, belum ada hembusan angin. Tapi, menjelang siang hari, ada angin kencang yang membawa asap itu hingga ke wilayah udara Malaysia dan Singapura. ”Kalau sore ini sudah di sekitaran Selat Malaka saja. Tidak bergerak lagi ke Singapura,” ujar dia saat dikonfirmasi kemarin (27/8).

Asap pada sore hari semakin sedikit lantaran ada upaya pemadaman yang dilakukan oleh satuan tugas (satgas) udara dan darat yang berjumlah 7.200 orang. Mereka terdiri atas anggota TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Damkar, relawan dan karyawan perusahaan. ”Sampai sore sudah berkurang titik panasnya,” kata dia.

Meskipun begitu, Hary menuturkan asap yang bercampur debu dan partikel lain itu akan sulit hilang. Bahkan, hembusan anginpun tidak akan cukup untuk membersihkan udara yang telah tercemar asap. ”Harus nunggu hujan agar bersih lagi. Selama tidak ada hujan ya melayang-layang,” ujar pria asal Kediri, Jawa Timur itu.

Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan kondisi kualitas udara di wilayah Provinsi Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Utara, Jambi,  dan Aceh kondisinya baik hingga sedang. Sedangkan di Kabupaten Bengkalis, Riau yang kategori sedang hingga sangat tidak sehat kemarin (27/8) pukul 07.00 Wib. Indeks  Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Bengkalis mencapai 287 psi. Batas ISPU kategori Sangat Tidak Sehat adalah 200 – 299 psi.

Sementara kualitas udara mulai membaik di Singapura. Pos pengamatan kualitas udara dengan PM 2,5 mengukur 87 psi atau pada level Sedang pada (27/8) pukul 17.00 Wib. Kualitas udara di Malaysia juga level Baik hingga Sedang. ”Tidak ada kualitas udara yang Tidak Sehat seperti halnya kemarin,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Dia menuturkan Kepala BNPB Willem Rampangilei memimpin langsung operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Riau kemarin (27/8). Pantauan dari pesawat Air Tractor dan helicopter water bombing BNPB kebakaran hutan dan lahan ditemukan di Kabupaten Siak, Dumai, Bengkalis, Rokan Hilir, Kampar dan Rokan Hulu. ”BNPB menambah helicopter water bombing di Riau sehingga keseluruhan terdapat 4 helikopter water bombing,” imbuh dia.

Kebakaran di Riau salah satu yang terparah selama kurun tiga tahun terakhir. Data dari BMKG menyebutkan sepanjang Agustus ini sudah tercatat ada 183 titik panas (hotstpot). Jauh lebih banyak pada Agustus 2014 sebanyak 117 hotstpot. Sedangkan pada Agustus 2015 total 217 hotstpot.

Sementara itu, Nur Masripatin, Direktur Jenderal (Dirjen) Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan bahwa kebakaran hutan di Riau sebagian besar lebih disebabkan oleh ulah manusia, bukan karena iklim atau cuaca. Dia menjelaskan bahwa kondisi cuaca di daerah yang terdapat hotspot, relatif tidak terlalu kering.

"Saat ini memang sedang kemarau, namun lebih banyak aktivitas manusia (membakar lahan, Red) di sana," kata Nur kepada Jawa Pos, kemarin (27/8).

Nur menyampaikan bahwa hingga kini kabut asap akibat kebakaran hutan Riau yang memasuki wilayah Singapura dan Malaysia belum dapat terelakkan. Selain karena masih adanya api yang membara, arah angin yang masih menuju ke wilayah kedua negara tersebut membuat pemerintah tidak dapat berbuat banyak.

Kendati demikian, Nur menyatakan bahwa sampai saat ini pihaknya terus berupaya memadamkan api dengan mengerahkan bantuan dari berbagai elemen. Terkait dengan kabut asap yang sampai ke Singapura dan Malaysia, dia mengatakan bahwa Indonesia terus menjalin komunikasi dengan kedua negara tersebut.

"Indonesia selalu berkomunikasi setiap hari. Ini adalah salah satu upaya bersama dalam mengatasi kabut asap yang hampir terjadi setiap tahun," tuturnya.

Di lain kesempatan, Dirjen Penegakan Hukum KLHK Rasio Ridho Sani atau yang akrab disapa Roy menyatakan pihaknya terus melakukan pengawasan dan tindakan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam kasus karhutla di Indonesia. Khusus dalam kebakaran hutan kali ini di Riau, Roy berjanji akan menindaklanjutinya."Kalau penegakan hukum tentu terus berjalan. Itu tidak akan berhenti," tegasnya. 

Singapura Ingin Bantu

Sementara itu, Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Singapura di Jakarta Nicola-Anne Singh mengatakan, pemerintah Singapura sudah mengambil tindakan terkait isu asap yang sampai ke Singapura. Menurutnya, pemerintah negara Merlion itu sudah menawarkan bantuan setiap tahunnya kepada Indonesia untuk menanggulangi asap.

Tahun ini, bantuan berupa dua pesawat C-130 untuk mengawal pemadam kebakaran, satu pesawat C-130 untuk hujan buatan, pembuatan rencana pemadaman kebakaran hutan, dan gambar setelit telah ditawarkan. ’’ National Environment Agency (NEA) Singapura juga sudah meminta pemerintah Indonesia agar secepatnya menangani masalah tersebut,’’ ujarnya. 

Singh menjelaskan, NEA terus berkomunikasi dengan pihak Indonesia untuk menanyakan perkembangan kebakaran hutan dan asap yang menuju Singapuira. Mereka khawatir peristiwa tahun lalu terjadi lagi tahun ini. ’’Pemerintah kami juga sudah menghimbau penduduknya agar lebih memperhatikan kesehatan mereka,’’ ungkapnya.

Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Air Singapura Masagos Zulkifli menyoroti bahwa asap masih berskala besar hingga Singapura meskipun jumlah hotspot sudah berkurang dibanding tahun lalu. Karena itu, dia berharap semua pihak bisa mendorong agar jumlah hotspot bisa benar-benar ditekan.

Pemerintah pun diakui sudah menerapkan undang-undang asap lintas batas kepada perusahaan yang terkait pada isu kebakaran hutan. Sejak tahun lalu, pihaknya sudah memberikan peringatan kepada enam perusahaan di Indonesia. Termasuk, memberikan pemberitahuan ke perusahaan Asian Paper and Pulp di Singapura.

“Sampai saat ini, sudah ada empat perusahaan Indonesia yang merespon kami. Sedangkan dua lagi kami berikan pemberitahuan lagi saat direkturnya berada di Singapura,’’ ungkapnya.  

Zulkifli menegaskan pemerintah dan masyarakat Singapura sangat tegas dalam menanggapi masalah asap. Oktober tahun lalu, pemerintah sempat mencekal produk perusahaan yang diduga terlibat pembakaran hutan. Hal tersebut pun akhirnya berujung terhadap penarikan produk perusahaan tersebut dari seluruh jaringan penjualan ritel. ’’Mulai kuartal II 2016, pemerintah akan menyeleksi produk kertas yang sesuai standar praktek bisnis sustainable,’’ ungkapnya. (jun/dod/bil)

Berita Terkait