Apoteker Berperan Tanggulangi TBC

Apoteker Berperan Tanggulangi TBC

  Senin, 30 November 2015 09:46
WORKSHOP: Pemateri Abdul Salam (kiri) saat menyampaikan materinya "Patofisiologi Tuberkulosis". Acara yang diikuti sejumlah apoteker dan dokter praktek swasta dalam pelayani pasien Tuberkulosis di Hotel Harris. HARYADI/PONTIANAKPOST

Tuberkulosis (TB) yang juga dikenal dengan singkatan TBC merupakan penyakit menular yang menyebabkan masalah kesehatan terbesar kedua di dunia setelah HIV. Berbagai pihak khususnya di bidang kesehatan terus melakukan peningkatan penanggulangan. Tak terkeculai para apoteker yang juga memiliki peran strategis.

“Peningkatkan kompetensi para Apoteker penting dilakukan, sebeb memiliki peran strategis dalam mengurangi penyebaran penyakit TB di Indonesia dan Kalbar khususnya,” ungkap Ketua Panitia Workshop Pharamaceuitical Care pada penanganan Tuberkulosis Pandu Wibowo yang diadakan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) di Harris Hotels Pontianak, Minggu (29/11).

Dia menjelaskan, bahwa Kalbar memiliki jumlah apoteker lebih dari 400 orang yang tersebar di 14 kabupaten atau kota. Melalui workshop yang dihadiri apoteker perwakilan dari tiap daerah serta berbagai instansi, diharapkan mereka bisa lebih berperan aktif dalam memberikan pelayanan pengobatan terhadap penyakit ini.Selain itu, Project Manager SR Global Fund IAI Liliek Yusuf Indra Jaya menambahkan, saat ini pasien yang terserang TB sebagian besar adalah mereka yang berusia produktif dan kelompok ekonomi lemah. Jumlah kasus di Indonesia sekitar lima persen dari total seluruh pasien TB di Dunia. Data WHO 2013 menunjukan Indonesia memiliki 460 ribu kasus TB baru. Dari kasus terbaru itu ada 1,9 persen kasus TB kebal obat atau disebut TB multidrugs resistance (MDR).

Sampai sekarang TB di Indonesia sudah mencapai angka nomor dua di dunia. Meningkat setelah sebelumnya di peringkat ketiga. Secara nasional, penanggulangan TB diharapkan bisa bersama-sama digalakkan. Hal tersebut menurutnya hanya dapat tercapai dengan upaya yang sistematis. Dalam hal ini harus melibatkan penyedia layanan baik publik maupuan privat. Serta tenaga kefarmasian yang memiliki peranan penting, karena berkaitan langusng dengan pelayanan.

Selian itu peran apoteker atau apotek swasta merupakan salah satu dari enam pilar keberhasilan penanggulangan TB. Dari data di atas maka peran apoteker dalam penganggulangan sangat diperlukan. Apoteker tidak hanya dituntut mampu memahami efek kimia obat dan bahan-bahan obat, tetapi juga harus memahami dan mendampingi pasien dalam proses memberikan serta pemakain obat. “Juga melakukan monitoring guna menjamin pasien mengenal obat,” ujarnya.  

Karena itu dengan workshop, apoteker diharapkan lebih memperhatikan layanan kefarmasian dalam penganggulangan TB secara baik dan maksimal. Sesuai dengan strategi penanggulangan TB adalah, pertama menggalakkan kampanye penanggulangan. Memutus rantai penularan TB di masyarakat. Meningkatkna pengetahun masyarakat tentang tata cara pencegahan TB. Kemudian mengobati dan memberikan kemudahan akses layanan kesehatan.

Lalu advokasi kepada lintas sektor agar bersama-sama meningkatkan komitmen penanggulangan TB. Dengan cara melibatkan pemerintah daerah dan pihak-pihak lainnya. Kemudian terus mempromosikan penggunaan obat nasional yang berstandar. Plus  harus ada dukungan kepatuhan pasien terhadap keberhasilan pengobatan TB dan pencegahannya. Dalam hal ini apoteker sangat dapat berpartisipasi untuk memberikan dan mengimformasikan tentang obat secara rasional kepada pasien. Apoteker bisa berperan aktif menumbuhkan dan mempertahankan  kualitas hidup. “Bisa membantu mencegah, mengurangi, memonitor dan mengevaluasi penularan TB,” pungkasnya.(bar)