Apakah Alam Ini Telah Menjadi Milik Segelintiran Orang Saja?

Apakah Alam Ini Telah Menjadi Milik Segelintiran Orang Saja?

  Minggu, 17 April 2016 08:39   1
Alam ini sedang sakit. Foto ilustrasi dok.Internet.

HUTAN  dan lingkungan hidup (yang melibatkan manusianya) atau menempati bumi sejatinya menjadi satu kesatuan hidup secara berdampingan dengan makhluk hidup lainnya yang tidak terpisahkan. Dari satu kesatuan tersebut, mungkin dapat dikatakan saat ini telah tejadi dominasi. Dominasi tersebut berkaitan langsung dengan sumber kekayaan alam ini Apakah atau sepertinya sudah, telah dan akan menjadi Milik segelintiran orang atau pihak-pihak tertentu saja?.

Pertanyaan ini tentunya menjadi alasan utama mengingat, alam ini diciptakan oleh Sang Pencipta untuk seluruh makhluknya tanpa adanya dominasi. Hutan yang tersedia menjadi sumber hidup seluruh makhluk hidup pula. Apa yang terjadi jika hutan menjadi dominasi, milik segelintiran orang?. Setidaknya hampir dipastikan, alam akan menjadi rebutan oleh banyak orang.

Mengapa demikian?. Coba tengok, kekhawatiran itu sejatinya telah lama terlihat dan terjadi. Seperti yang ada fakta berbicara dan tampak dalam realita nyata tentang kekalutan juga kegaduhan bahwa kini alam ini hanya seperti milik segelintiran orang saja. Alam ini terus saja dimiliki, didominasi bahkan hingga dikorbankan. Bukan tanpa alasan, alam ini milik bersama untuk semua juga bersama dalam kaitannya dalam merawat serta menjaganya. Memang, tidak bisa dihindari namun selalu ada solusi. Bukankah demikian?. Namun seiring perjalanan waktu, alam ini telah menjadi hak milik oknum para pemodal dan pengusaha yang tanpa ampun menggilas dan menindas masyarakatnya sendiri, masyarakat akar rumput di tanah tuan negerinya sendiri (negeri kita Indonesia) kembali dijajah di era modern.

Lihat saja, alam hijau dulu, kini semakin meranggas. Tengok saja hutan. Kering kerontang, tunggu saja jika waktu kemarau tiba. Atau ketika hujan, banjir tak terbendung. Hutan yang katanya rimba raya itu yang rimbun sebagai surga bagi semua makhluk segala bernyawa kian terkulai layu, rebah tak berdaya. Lagi-lagi, karena alam ini telah menjadi dominasi dan milik segelintiran orang saja. Sering kali lupa atau sengaja lupa, adanya investasi yang terus menggerogoti bumi, alam ini tidak tuntas menunaikan kewajibannya. Sudahkah mereka (pelaku investasi) ingat akan masa akan datang?. Semestinya demikian. Namun tidak semua serta merta ingat akan kewajiban mereka. Hal serupa juga terjadi kepada masyarakatnya, ada yang mudah terbuai janji menggiurkan dengan dokma mensejahterakan, namun mereka tidak juga kunjung maju. Tidak sedikit sakit karena tergoda dan terbuai. Alam sudah dan telah terlanjur  tergadai, rimba raya terlanjur berpindah tangan. Apa mau dikata.

Akan tetapi, sepertinya alam ini sudah semakin sering memberi tanda  waspada (lampu merah) kepada kita manusia tentang apa yang terjadi pada mereka tentang dampak-dampak  (alam) bila mereka semakin sulit bertahan (berdiri kokoh). Bukan tidak mungkin, jika alam ini terus didominasi (dikuasai) maka kita semua makhluk akan semakin sering menerima dampak langsung tersebut.

Apakah kita marah kepada alam ini?. Kepada para pemodal (para investor) yang semakin hari semakin berlomba melakukan investasi?. Atau kita manusia?.

Tidak untuk saling menyalahkan, alam ini sesungguhnya karya Sang Pencipta. Kita semua dititipkan amanah untuk merawat, menjaga, melindungi dan memperbaruhinya akan tetapi masih sanggup kah kita menunggu waktu yang tidak singkat?. Mengingat, dampak-dampak alam sudah semakin sering terjadi dan semakin sulit pula untuk dilacak. Alam ini menjadi tanggungjawab semua secara bersama pula untuk terus saling mengingatkan dan melestarikannya dengan tindakan nyata pula. Jika tidak, maka alam ini akan terus menerus seperti ini adanya. Jika benar alam ini telah menjadi milik segelintir orang, sudah sepantasnya juga mereka merawat, memupuk dan memperbaruhinya. Kita semua yang hidup berdampingan dengan alam ini pun tetap bertanggungjawab secara bersama-sama pula merawat dan menjaganya (alam ini). Semoga saja, alam ini bisa tetap lestari kini hingga nanti.

*) Bekerja di Yayasan Palung, Alumnus STPMD "APMD" Yogyakarta.

 

Petrus Kanisius

Suka berbagi informasi tentang fakta dan realita lingkungan dan satwa