Anton Medan Beri Ceramahi Narapidana

Anton Medan Beri Ceramahi Narapidana

  Sabtu, 20 February 2016 08:57
CERAMAH: Anton Medan saat memberikan ceramah di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Pontianak, Jumat (19/2). ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Sosok Anton Medan lekat dengan dunia kriminalitas. Pria pemilik nama Tan Kok Liong itu adalah mantan perampok dan bandar judi. Namun, ia kini telah insyaf, setelah memeluk Agama Islam pada 1992. Belakangan ia justru kerap terlihat menjadi penceramah. Perjalanan dari bui mengantarkannya menjadi seorang Dai.ARIEF NUGROHO, Pontianak

Siang kemarin (19/2), Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Pontianak kedatangan tamu istimewa. Dia bukan seorang menteri, anggota dewan atau pejabat tinggi di pemerintahan. Dia adalah Anton Medan, mantan penjahat.Kedatangan pengasuh pondok pesatren At-Taibin, Pondok Rajeg, Cibinong disambut oleh Kepala Lapas Klas IIA Pontianak Sukaji. Setelah beberapa menit bercengkrama, Anton pun diminta untuk memberikan motivasi dan pencerahan di hadapan ratusan warga binaan di lapas itu.

Dengan mengenakan baju koko hitam dipadu dengan celana jins, ia berdiri depan ratusan warga binaan. Setelah mengucap salam, Anton lalu bertanya, “Ada yang kenal dengan Anton Medan?” Sebagian warga binaan berteriak mengaku mengenalnya. Sebagian lainnya diam.Rekam jejaknya yang cukup panjang di dunia hitam membuat Anton Medan merasa paham betul apa yang dialami warga binaan di hadapannya. Sehingga ia pun membawakan ceramahnya dengan santai dan penuh humor. Tak pelak, mereka pun tertawa terbahak-bahak.

Terlebih saat Anton mencerikan pengalaman pribadinya. Kala itu, Anton yang baru tiga bulan memeluk Islam ditaya rekannya soal tulisan arab yang tertera pada kain penutup keranda. Seorang teman bertanya, “Loe kan sudah masuk Islam. Loe tahu dong apa bacaan tulisan arab di kain keranda itu?” Anton yang belum paham tulisan arab pun mencari akal. Ia menerka-nerka jika tulisan arab di kain keranda itu berbunyi Innalilah Wa ina illahi Rojiun.

Jawaban Anton ternyata tak membuat temannya puas. Lalu sang teman menanyakan apa arti tulisan tersebut. Dalam hati Anton mengatakan, “Tulisan arab aja gua kagak tau, apa lagi artinya”. Tak lama Anton lantas menjawab, “Tulisan arab itu artinya, bagi yang tidak berkepentingan dilarang masuk”. Lelucon itu kontan membuat warga binaan tertawa lepas.  

Pria yang dulu namanya pernah lekat dengan dunia kriminal ini menceritakan pengalaman pribadinya di masa lalu. Tanpa ragu dan malu, Anton menceritakan kisah hidupnya yang kelam. Mulai dari membunuh, merampok dan menjadi bandar judi.

Masa kecilnya ia lewatkan di penjara. Waktu umurnya baru 12 tahun, ia harus mendekam di balik jeruji besi selama empat tahun karena membunuh orang yang mencuri uang hasil kerjanya yang akan ia bawa ke kampung halamannya di Tebing Tinggi.  “Saya ambil golok tukang es dan membacok itu orang sampai mati,” kenangnya. Akibat dari perbuatannya itu, ia harus merasakan dinginnya “hotel prodeo” selama empat tahun.

Selepas keluar dari penjara, Anton lalu kembali pulang ke rumah orang tuanya di Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Harapan untuk dapat diterima kembali oleh kedua orang tuanya. Namun apa yang ia dapat? Orang tua Anton merasa malu dengan perbuatan pembunuhan yang dilakukan Anton. “Mereka tak mau menerima saya kembali,” kenangnya.

Sikap penolakan dari kedua orang tuanya tersebut membuat perasaannya gusar dan tak tentu arah. Orang tua dan rumah yang selayaknya menjadi tempat berlindung tak ia raih. Akhirnya ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta. “Saya coba ke rumah paman saya di Jakarta, tapi ditolak,” ungkapnya.

Di ibukota, tak ada pekerjaan yang layak bagi dirinya mengingat pendidikannya yang tak lulus SR (Sekolah Rakyat). Akhirnya, ia bergelut dengan dunia kejahatan dengan menjadi seorang perampok dan penjudi kelas kakap.

Entah sudah berapa toko emas yang sudah digasaknya. Yang pasti, namanya sendiri sudah sangat dikenal sebagai seorang penjahat ternama di masyarakat. Kala itu, pihak berwajib pun sudah sangat gerah dengan segala perbuatan Anton. Keluar masuk penjara sudah ia lakoni setelah menjadi seorang penjahat.

Mulai dari LP Cipinang, Nusakambangan, hingga Sukamiskin, Bandung sudah pernah ia rasakan sebagai akibat dari perbuatannya. Namun, tetap saja ia tidak jera dengan kejahatan yang ia lakoni. Sebaliknya, justru semakin banyak kejahatan yang dilakukannya.

Segala macam bentuk kejahatan yang dilakukan Anton ternyata mencapai titik baliknya. Ia mulai merenungkan nasibnya dan mencari kebenaran yang hakiki. Salah satunya adalah dengan mencari sang pencipta yang selalu menyelamatkan dirinya dari enam peluru yang sempat menembus tubuhnya.Tepat di tahun 1992, Anton secara resmi mengucapkan dua kalimat syahadat setelah melewati masa lalu kelam yang dianggapnya sebagai masa pencarian sosok yang dinamakan Tuhan.

Baginya, hukuman total kurungan penjara selama 18 tahun 7 bulan sudahlah cukup. “Saya bersyukur saya bisa masuk penjara,” ungkap Anton. Berkat pengalaman di penjara itulah, Anton mendapatkan pelajaran berharga tentang arti hidup. Ia menganggap bahwa dunia merupakan sebuah penjara yang lebih besar ketimbang lembaga pemasyarakatan.Proses taubat yang dilakukan Anton ternyata bukanlah datang tiba-tiba. Ia juga mengaku tidak mendapatkan beberapa kejadian yang menghadirkan hidayah bagi dirinya. “Agama itu tidak datang sendiri, tapi kita yang harus mencarinya sebagai pedoman hidup,” tutur Anton.

Dalam masa pencariannya itulah, ia dapat menemukan hidayah dari Allah. Namun, di saat mengucapkan dua kalimat syahadat, ada semacam keraguan yang dirasakannya. “Waktu itu saya sempat ragu apa saya bisa menjadi orang yang bermanfaat,” ujarnya.

Tahun 1993, Anton memutuskan untuk pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Di sanalah, ia memohon ampun atas segala macam perbuatannya di masa lampau. Nama Anton Medan kemudian diubahnya menjadi Haji Ramdhan Effendi. Ia berharap dengan mengubah nama, dapat berdampak positif terhadap image barunya yang kini lebih bersahaja.Setahun kemudian, rutinitas melakukan ceramah mulai dilakoninya terutama dari penjara ke penjara untuk memberikan pencerahan kepada para napi. “Ada kepuasan batin tersendiri. Saya hidup harus bermanfaat,” katanya.Dia juga mengatakan hidupnya terasa semakin nikmat karena sebagian hartanya bisa dia gunakan menghidupi yayasan pendidikannya.Sementara itu Kepala Lapas Klas IIA Pontianak Sukaji berharap hal ini menjadi motivasi bagi warga binaannya. “Semoga ini menjadi motivasi,” katanya singkat. (*)

 

Berita Terkait