Antisipasi Dampak La Nina

Antisipasi Dampak La Nina

  Selasa, 5 July 2016 09:43   3,174

Beberapa waktu yang lalu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memberikan warning akan datangnya La Nina di bulan Juli, Agustus, dan Sepetember. Terakhir kali La Nina menyambangi Indonesia di tahun 2010, kala itu banyak menimbulkan banjir di beberapa wilayah Indonesia dan juga gagal panen para petani kita.

Pengaruh La Nina pada sistem gerak atmosfer global menyebabkan angin pasat timuran dan sirkulasi Monsoon menguat. Hal ini berdampak pada meningkatnya akumulasi curah hujan di atas normal, terutama bagian timur dan selatan Indonesia. La Nina merupakan kondisi cuaca yang normal kembali setelah terjadinya gejala El Nino, dimana kita ketahui El Nino terjadi di tahun 2015 yang lalu dan sekarang adalah kondisi normalnya. Namun La Nina tidak selalu mengekor dengan El Nino, menurut data histori La Nina menyerang di tahun 2010, 2004, dan 1998, padahal El Nino datang di tahun 2009 dan 1997. Lampung merupakan wilayah yang digadang-gadang akan terkena dampak langsung dari fenomena ini ditambah lagi dengan Indeks Dipole Mode yang Negatif akan berdampak dengan meningkatnya potensi curah hujan pada musim kemarau kali ini.

Kondisi Dipole Mode Negatif ini merupakan dampak dari meningkatnya suhu muka laut di perairan Hindia bagian timur yang merupakan pusat panas. Sehingga saat keadaan itu, perairan Hindia sebelah barat mengalami pedinginan suhu muka laut. Akibatnya awan-awan akan banyak tumbuh sebelah barat wilayah Indonesia dan sekitarnya. Untuk wilayah yang memiliki pola hujan equatorial atau curah hujan ada disepanjang tahun tentunya datangnya La Nina tidak memberikan dampak yang begitu nyata, hanya saja untuk wilayah yang memiliki pola hujan monsunal (puncak hujan desember-januari-februari) dan lokal (puncak hujan juli-agustus-september) kondisi ini tentu saja mengacaukan prediksi dari masyarakat dalam hal pertanian atau pembangunan proyek besar.

Dengan kita mengetahuinya lebih awal bahwa ada indikasi datangnya fenomena ini kita lebih bisa mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan apa saja yang dapat terjadi dan juga mepersiapkan solusinya. Dengan datangnya La Nina musim kemarau kali ini diprediksi akan lebih banyak curah hujan, sehingga petani akan banyak mengalami kerugian jika tidak mengantisipasi hal tersebut. Dengan meningkatnya intensitas curah hujan di musim kemarau otomatis petani kita tidak memiliki waktu yang banyak untuk menjemur hasil panennya. Bahkan jika lahan tergenang air bisa mengancam gagal panen.

Petani kita harus bisa memaksimalkan lahannya paling tidak sampai pertengahan Juli karena La Nina mulai memberikan dampaknya diprediksi akhir Juli nanti. Solusi yang bisa diambil untuk mengatasi gagal panen adalah mempercepat proses produksi pertanian hal ini perlu jika La Nina sudah aktif akan susah untuk memberikan hasil panen yang maksimal. Informasi terkait La Nina ini harus disebar luaskan agar para petani kita mengetahui apa saja yang harus mereka kerjakan sebelum bulan agustus nanti.

Peran media massa dan juga media sosial harus dimanfaatkan dengan baik agar informasi ini dapat tersalurkan hingga pelosok daerah. Pemerintah tentu harus memiliki stok pangan pokok di gudang untuk antisipasi kemungkinan buruk ini terjadi, mulai saat ini kita semua harus berkerja sama membantu pemerintah dan juga seluruh instansi terkait untuk mempersiapkan hal ini agar ketahan pangan kita tetap terjaga dengan baik. Untuk mencegah kemungkinan buruk lainnya yang dapat terjadi seperti banjir dan tanah longsor, masyarakat perlu bersinergi dengan instansi-instansi terkait dan juga pemerintah tentunya agar hal buruk dapat diantisipasi. Tidak ada salahnya sedia payung sebelum hujan turun.

Untuk mencegah terjadinya banjir mari kita memperbaiki kembali sistem drainase kita agar air dapat mengalir dengan lancar dan juga akan lebih baik jika kita bekerja sama membuat daerah resapan air disekitar tempat tinggal kita. Dengan strategi mempercepat sistem produksi pertanian dan juga strategi terkait mitigasi bencana ini diharapkan hal buruk terkait La Nina di tahun 2016 ini sebisa mungkin diminimalkan. Datangnya La Nina tidak seluruhnya menimbulkan hal buruk, sisi positifnya tentuk saja produksi panen di sektor perikanan akan meningkat drastis.

Pada saat La Nina terjadi maka ikan tuna akan bermigrasi ke wilayah Indinesia, ikan tuna akan bergerak dari laut yang bersuhu lebih dingin menuju ke laut yang bersuhu lebih hangat. Saat La Nina suhu muka laut di sebelah barat Samudera Pasifik hingga Indonesia akan menghangat. Sektor perikanan tentu saja harus digenjot pada saat tersebut bisa dengan menambah armada kapal ikan atau menambah jam berlayar pengangkapan ikan. Pemerintah harus bisa melihat sisi positif ini dan memberikan fasilitas yang memadai bagi para nelayan kita agar tangkapannya bisa lebih maksimal. Salam

Ramadhan Nurpambudi

Prakirawan Stasiun Meteorologi Radin Inten Lampung

 

Ramadhan Nurpambudi

Prakirawan Stasiun Meteorologi Radin Inten Lampung