Antara Dorongan Ekonomi dan Warisan Budaya

Antara Dorongan Ekonomi dan Warisan Budaya

  Minggu, 23 July 2017 10:57

Berita Terkait

Industri Gamelan 

Bagi masyarakat Indonesia khususnya Jawa pasti tidak asing dengan alat musik bernama gamelan. Alat musik satu ini memegang peranan penting dalam kehidupan kebudayaan dan kesenian. Tapi tidak semua orang mengetahui bagaiamana proses pembuatannya. 

ARIEF NUGROHO, Surakarta

Pagi itu, Kamis (13/7) saya berkesempatan mengunjungi Desa Wirun, desa yang  terletak sekitar 10 kilometer arah Timur Tenggara Kota Solo, tepatnya di Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. 

Meski agak jauh dari pusat keramaian Kota Solo, tetapi desa ini memiliki tingkat aksesibilitas yang mudah dijangkau dari berbagai arah maupun jenis kendaraan. 

Desa Wirun sendiri sudah sangat populer di kalangan masyarakat lokal bahkan hingga internasional. Betapa tidak, desa kecil ini memiliki banyak potensi, salah satunya menjadi desa sentra pembuatan gamelan.

Salah satu perajin gamelan yang hingga kini masih eksis adalah Supoyo, yang beralamat di Dusun Mertan Rt 01/10 Desa Witun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Di rumah itu, saya dipersilakan menyaksikan langsung bagaimana proses pembuatan gamelan. 

Pada dasarnya, para perajin menggunakan pemanas berbahan bakar gas untuk memasak bahan lempengan dan memanaskan lempengan. Sementara untuk proses pembentukan lempengan hingga menjadi satu item gamelan, perajin masih mengandalkan tenaga manusia.

Pembuatan gamelan dimulai dengan memasak bahan untuk membuat lempengan. Bahan yang digunakan adalah timah dan tembaga. Kedua bahan tersebut dimasak di dalam wadah yang terbuat dari tanah liat. Setelah kedua bahan itu meleleh atau lebur dan menghasilkan campuran yang pas, lalu dituangkan ke dalam cetakan kemudian didinginkan. Ukuran cetakan serta jumlah bahan yang dimasak tergantung pada ukuran gamelan yang akan dibuat. 

Setelah dingin, campuran dua bahan tadi akan dikeluarkan dari cetakan lalu jadilah plat. Plat inilah yang kemudian secara berulang-ulang dipanaskan lalu ditempa hingga menghasilkan bentuk yang diinginkan. Proses penempaan plat, jika tanpa hambatan, hingga menghasilkan bentuk yang diinginkan sekitar dua jam 15 menit. Proses ini melibatkan sekitar tujuh hingga sembilan pekerja.

Ketika bentuk yang diinginkan serta ukuran sesuai dengan standar sudah diperoleh, gamelan akan memasuki proses selanjutnya. Nada gamelan akan diatur sesuai dengan standar bunyi yang sudah ada. Pengaturan nada ini, walau sudah ditemukan teknologi yang memudahkan proses, tidak jarang masih dilakukan berdasarkan insting. Setelah memperoleh nada yang diinginkan, gamelan akan dipoles agar penampilannya terlihat menarik dan dikumpulkan dengan gamelan-gamelan lain.

Di Desa Wirun setidaknya ada beberapa perajin gamelan yang berhingga kini masih bertahan. Salah satunya Supoyo. Menurut dia, industri kerajinan gamelan di Desa Wirun sudah muncul sejak tahun 1956, dan dirintis pertama kali oleh ayahnya, Reso Wiguno (Bakir). 

"Pertama kali yang merintis bapak saya dan industri ini kemudian turun ke saya," katanya. 

Untuk membuat satu perangkat gamelan lengkap yang terdiri dari 26 item, seorang perajin harus menyediakan 1,3 ton tembaga dan tiga kuintal perunggu. Jadi jangan heran jika satu perangkat gamelan harganya mencapai ratusan juta rupiah, yakni kisaran Rp 300-450 juta. 

Di Desa Wirun, industri gamelan sempat mencapai zaman keemasannya pada tahun 1999. Masa itu, tak sedikit perajin yang mengekspor barang dagangannya dan membukukan omzet miliaran rupiah.

Ada beberapa negara yang menjadi langganannya, seperti Malaysia, Jerman Barat, Singapura, Belanda dan Amerika Serikat. 

"Negara-negara itu rutin membeli gamelan dari sini. Bahkan mereka juga sering datang untuk sekadar meliat langsung proses pembuatannya," papar Supoyo. 

Gamelan merupakan alat musik khas Jawa yang mempunyai nilai seni adiluhung. Roh gamelan Jawa inilah yang sejak dulu menghidupkan inspirasi dan semangat para perajin gamelan di Desa Wirun.

"Tapi kami harus melanjutkan usaha ini. Bukan semata-mata alasan ekonomi, tapi juga karena gamelan itu warisan budaya. Kami tetap akan melestarikannya." lanjutnya.

Gamelan jelas bukan musik yang asing. Popularitasnya telah merambah berbagai benua dan telah memunculkan paduan musik baru jazz-gamelan, hingga menghasilkan pemusik gamelan ternama.

Pandangan hidup Jawa yang diungkapkan dalam musik gamelannya adalah keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledak-ledak serta mewujudkan toleransi antarsesama. 

Wujud nyata dalam musiknya adalah tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.

Jika Anda ingin menikmati gamelan dengan laras asli, maka datanglah ke Solo.(*)
 

Berita Terkait