Angkutan Tentara saat Konfrontasi RI-Malaysia

Angkutan Tentara saat Konfrontasi RI-Malaysia

  Senin, 11 April 2016 09:58

Berita Terkait

PENELUSURAN saya tentang asal usul dan kejayaan Kapal Bandong tempo dulu mulai sedikit terbuka. H Muhammad Juanda, sang juru mudi Bandong yang saya tumpangi merupakan pelaku sejarah kapal legendaris ini.

Pagi ini, saat bangun dari tidur, matahari mulai meninggi. Jarum jam menunjukan pukul 07.00.  Sinarnya tidak begitu menyengat. Maklum cuaca sedikit mendung dan berkabut.

Juanda mulai beranjak dari kursi kemudinya, setalah semalaman ia menunaikan tugasnya sebagai juru mudi. Ini kesempatan saya untuk mengorek informasi tentang asal usul Kapal Bandong.  

Wajahnya yang nampak lelah tidak menghalangi saya untuk mencari informasi. Juanda pun dengan senang hati menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan kepadanya. “Saya tidak tahu kapan Kapal Bandong ini ada. Sejak saya lahir tahun 1951, kapal ini sudah ada,” ujar Juanda, laki-laki usia 66 tahun itu.

Guratan di wajahnya melambangkan dia adalah pelaku sejarah. Tak sedikitpun kisah masa lalunya lepas dari ingatannya. Menurut Juanda, Kapal Bandong yang dulu ada tidak sebesar Bandong sekarang, ukurannya lebih kecil, bahkan beratnya tidak lebih dari 10 ton. Mesin yang digunakan juga relative kecil, hanya 4 PK. Untuk menuju Pontianak, setidaknya membutuhkan waktu hingga satu bulan. Tidak seperti mesin Bandong sekarang. Sudah banyak perubahan.

Dahulu, kata Juanda, sebulum dijadikan alat transportasi utama bagi masyarakat pedalaman Kalimantan Barat, Bandong kerap digunakan untuk berdagang keliling dari desa ke desa, untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat di pedalaman.

Masa itu berlangsung hingga tahun 1973 hingga 1974. Tahun 1974 hingga tahun 1980an, Bandong digunakan untuk mengangkut penumpang bagi masyarakat pedalaman disamping mengangkut hasil bumi dan sembako. Dimana Kapal Bandong penapaki puncak kejayaannya.

Tahun 1980 ke atas, Bandong beralih fungsi. Bandong lebih digunakan untuk mengangkut barang kebutuhan masyarakat dari Pontianak ke Putusibau, atau sebaliknya. “Jumlahnya dulu cukup banyak. Satu kecamatan saja bisa puluhan jumlahnya. Tapi sekarang sudah sangat berkurang. Untuk di kecamatan Jongkong tinggal beberapa,” kata Juanda, laki-laki yang pernah menjadi Kepala Desa di Jongkong ini.

Menurutnya, Bandong sekarang banyak yang pindah ke Kabupaten lain, seperti Sintang dan Sanggau, khususnya Meliau. “Di sana masih banyak,” lanjutnya.

Keberadaan Bandong tidak hanya sebagai sarana angkut penumpang, barang dan berdagang. Bahkan di tahun 1964, saat terjadinya konfrontasi Indonesia- Malaysia, kapal ini digunakan untuk sarana angkutan pasukan TNI dari Pontianak ke perbatasan atau dari Sintang ke Badau, kabupaten Kapuas Hulu.

“Ya gimana lagi, dulu tidak ada jalur darat maupun udara. Mau tak mau harus diangkut pakai kapal Bandong,” bebernya. “Jumlahnya satu regu, 40 orang,” sambungnya.

Dari situlah kapal ini disebut Kapal Bandong. “Saya tidak begitu tahu siapa yang pertama kali member nama kapal ini menjadi Kapal Bandong. Setahu saya dulu digunakan untuk mengangkut tentara dari Jawa. Mungkin mereka yang menamakannya. Kalau dulu namanya hanya motor air, bukan Kapal Bandong,” terangnya.

Hal itu, lanjut Juanda, berlangsung dari tahun 1964 hingga tahun 1971. Bahkan di tahun 1973, kata Juanda, Bandong masih kerap digunakan untuk sarana mengangkut pasukan.

Juanda sendiri pernah mengalami itu. “kapal saya pernah disewa untuk mengangkut pasukan, waktu itu tahun 1973,” ujarnya.

Meskipun usianya tak lagi muda, Juanda ingat betul masa lalunya. Bahkan ia sangat ingat saat Ryamizard Ryacudu,komandan di Korem Sintang (Menteri Pertahanan dan Keamanan Kabinet Kerja Joko Widodo_sekarang) pernah ingin menyewa kapal Bandongnya untuk mengangkut pasukan dari Sintang ke perbatasan. “Saya ingat betul Ryamizard Ryacudu. Waktu masih jadi komandan di Sintang, beliau pernah memerintahkan stafnya untuk mencari Kapal Bandong yang melintas di Sintang. Pesuruh itu kemudian mencegat kapal saya. Saya pun menghadap beliau, tapi saya beralasan, sebenarnya bukan maksud saya tidak mau. Saya kan bawa sembako, untuk masyarakat pedalaman, kalau kapal saya digunakan untuk mengangkut pasukan, barang saya mau dikemanakan? Saya pun dipersilahkan untuk melajutkan perjalanan kembali,” kenangnya.

Di era itu, kata Juanda, masyarakat pedalaman sangat membutuhkan pasokan sembako. Sementara yang mereka punya hanya beras, hasil bercocok taman. “Untuk minyak goreng, gula, biasanya mereka ambil dari Malaysia. Saat peristiwa konfrotasi, masyarakat perbatasan diungsikan,”katanya.

Waktu itu, pengamanan sangat ketat, sepanjang sungai banyak dibangun pos-pos pengamanan. Setiap kapal yang melintas harus melapor dan digeledah, barang apa saja yang dibawa. “Di Suka Lanting ada, di Sintang ada. Setiap pos itu lapor dulu. Digeledah,” lanjutnya.

Masa itu begitu lekat dengan ingatannya. Baginya itu bagian dari perjalanan hidup. Sejarah yang akan terus ia kenang.

Juanda kini hanya sebagai juru mudi di Kapal Bandong KM Cahaya Borneo. Baginya Kapal Bandong adalah rumah kedua. Di sini, dia menemukan keluarga baru selain istri, dan ketiga anak serta lima cucunya. “Asal saya memang dari Jongkong, tapi tahun 1983, saya pindah ke Singkawang. Anak-anak saya ada di Pontianak. Selain mereka, di sini saya menemukan keluarga baru. Rumah baru,” katanya.

Sebelum menjadi juru mudi di Kapal Bandong ini, Juanda pernah memiliki Kapal Bandong sendiri untuk berdagang. Kejayaan Kapal Bandong tidak ada musnah begitu saja, meskipun tergerus jaman. “Kapal Bandong akan tetap ada. Mungkin akan berganti nama. Karena pasti akan banyak yang membutuhkan kapal seperti ini untuk angkutan barang, selain murah juga bisa mengangkut barang dengan jumlah banyak,” harapnya.(arief nugroho)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait