Angka KIA Masih Tinggi

Angka KIA Masih Tinggi

  Rabu, 13 April 2016 10:13
BIMBINGAN: Kegiatan Bimtek Terpadu Program Kesehatan Keluarga tahun 2016 Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kapuas Hulu, yang diselenggarakan di Aula Dinkes, kemarin. MUSTA’AN/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PUTUSSIBAU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kapuas Hulu mencatat angka kematian ibu dan anak (KIA) di daerah ini yang masih begitu tinggi pada 2015 lalu. Umumnya, diakui mereka jika KIA terjadi saat proses persalinan berlangsung. Data dimaksud menyebutkan jika pada tahun lalu, sedikitnya ada 14 orang yang meninggal. Tingginya angka kematian tersebut disebabkan oleh dua masalah utama yakni pembiayaan  dan sumber daya manusia.

Kepala Dinkes Kabupaten Kapuas Hulu, Harisson Azroi, menyayangkan sebagian besar masyarakat Kapuas Hulu yang masih enggan melakukan proses persalinan di rumah sakit. Bahkan, dia menambahkan, meskipun sudah dirujuk ke rumah sakit karena dideteksi mengalami risiko tinggi pada kehamilannya oleh petugas kesehatan. Masyarakat, diakui dia, masih ada yang memilih melahirkan di kampung atas bantuan dukun beranak di desa mereka masing-masing.

Padahal, menurut dia, petugas medis sudah menyarankan agar dirujuk ke rumah sakit, namun mereka tidak mau dan memilih bertahan di rumah karena masalah pembiayaan. “Alasan ekonomi paling banyak dikemukakan keluarga ibu hamil," kata Harisson usai mengikuti Bimtek Terpadu Program Kesehatan Keluarga tahun 2016, Selasa (12/4) pagi yang diselenggarakan di Aula Dinkes Kabupaten Kapuas Hulu.

Kendati ada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, masyarakat miskin, diakui dia, tetap masih memikirkan biaya saat ke rumah sakit. Terlebih, dia menambahkan, tidak menutup kemungkinan akan ada obat tambahan yang harus ditanggung oleh pasien di luar obat yang ditanggung BPJS. Inilah yang menurut dia, memberatkan warga untuk dirujuk ke rumah sakit. “Akhirnya mereka minta bantuan dukun beranak di desanya,” ucapnya.

Dijelaskan Harisson, kondisi daerah Kapuas Hulu dengan jarak tempuh dari desa ke kota kecamatan dan dari kota kecamatan ke kota kabupaten sangat jauh. Belum lagi, diungkapkan dia, masyarakat masih dihadapkan dengan sulitnya akses, terutama desa-desa di pedalaman. Konidisi tersebut, menurut dia, menjadikan masyarakat harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk melahirkan ke puskesmas atau ke rumah sakit. “Biaya transportasinya sangat besar, apalagi bagi masyarakat hulu Kapuas, dan daerah pedalaman lainnya,” paparnya. 

Daerah yang jauh ini, diakui dia, menjadi kendala juga untuk menyelamatkan ibu hamil saat melahirkan. Untuk menyelamatkan ibu hamil saat dirujuk menghadapi proses persalinan tersebut, diungkapkan dia jika standarnya hanya 2 jam. “Jika dirujuk 2 jam, saya yakin ibu dan bayinya bisa selamat,” tutur dia. 

Hanya saja, dia tak memungkiri bagaimana desa-desa di daerah Kapuas Hulu sangat jauh. Akibatnya, dia menambahkan, begitu dirujuk pasiennya harus menempuh perjalanan lebih dari dua jam. Masalah lainnya, diungkapkan dia yakni SDM yang masih sangat kurang. Yang ada saat ini, mereka hanya diperkuat bidan pegawai tidak tetap (PTT) yang sebentar lagi akan diangkat menjadi PNS. "Mereka itu kan hanya perubahan status, tak membawa perubahan jumlah petugas,” bebernya.(aan)

Berita Terkait