Anggota DPRD Susul Gatot ke Tahanan

Anggota DPRD Susul Gatot ke Tahanan

  Rabu, 11 November 2015 08:59
DITAHAN: Ketua DPRD Sumatera Utara Ajib Shah ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seusai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Selasa (10/11). IMAM HUSEIN/JAWA POS

Berita Terkait

JAKARTA – Empat di antara lima anggota DPRD Sumatera Utara (Sumut) yang menjadi tersangka penerimaan suap menyusul Gubernur (nonaktif) Sumut Gatot Pujo Nugroho menjadi tahanan KPK. Kemarin (10/11) mereka ditahan setelah menjalani pemeriksaan selama lebih dari 8 jam.Empat wakil rakyat Sumut yang menjadi penghuni baru tahanan KPK itu adalah Saleh Bangun, Ajib Shah, Chaidir Ritonga, dan Sigit Pramono. Chaidir dan Sigit adalah anggota DPRD Sumut 2009–2014. Ajib Shah dan Saleh terpilih kembali sebagai anggota legislatif Sumut periode 2014–2019. Bahkan, Ajib yang tak lain merupakan saudara kandung anggota DPD Rahmat Shah kini menjabat ketua DPRD.

Empat politikus itu ditahan secara terpisah untuk kepentingan penyidikan. Saleh dititipkan di Rutan Polres Jakarta Selatan, Ajib ditahan di Rutan Salemba, Chaidir ditahan di Rutan Polda Metro Jaya, dan Sigit ditahan di Polres Jakarta Pusat. ’’Keempatnya ditahan untuk 20 hari pertama terhitung mulai hari ini (10/11),’’ jelas Plh Kabiro Humas KPK Yuyuk Andriyati.Saat digelandang ke mobil tahanan, Saleh dan Ajib enggan berkomentar. Sementara itu, sebelum masuk ke mobil tahanan, Chaidir berharap kasus-kasus korupsi yang selama ini terjadi di Sumut berhenti pada perkara dirinya. ’’Semoga kasus ini membawa kebaikan untuk saya dan keluarga dan tidak diulangi yang lain,’’ ucapnya.

Sigit juga tidak banyak bicara. Dia menyerahkan kepada pengacaranya, Zainuddin Paru. Pengacara yang juga politikus PKS itu menegaskan, kliennya siap kooperatif menjalani penyidikan. Menurut Paru, Sigit tidak menerima suap. Dia hanya meminjam uang dan telah dikembalikan ke sekretariat dewan.’’Pinjamnya itu ke setwan. Bukti peminjaman dan pengembaliannya juga ada,’’ ujar pengacara mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) itu. Sepengetahuan Sigit, beberapa anggota DPRD yang lain memang menerima uang. Jumlahnya 40-an orang.

Seorang di antara 40 penerima suap itu adalah Evi Diana, istri Plt Gubernur Sumut Teuku Erry Nuradi. Uang tersebut diterima Evi saat menjadi anggota DPRD Sumut periode 2004–2009. Saat diperiksa KPK, Erry menegaskan bahwa uang yang diterima istrinya telah dikembalikan. Meski begitu, KPK menilai hal tersebut tidak bisa menghapus perbuatan pidana.Dalam perkara suap anggota DPRD Sumut tersebut, KPK telah menetapkan enam tersangka. Mereka adalah Gatot Pujo Nugroho sebagai pemberi suap. Dari sisi penerima suap, KPK menetapkan Saleh Bangun (ketua DPRD Sumut 2009–2014 dari Partai Demokrat), Chaidir Ritonga (wakil ketua DPRD 2009–2014 dari Golkar), dan Ajib Shah (anggota DPRD 2009–2014 dari Golkar).

Ketiganya merupakan penerima suap terkait dengan persetujuan laporan pertanggungjawaban, persetujuan perubahan APBD, pengesahan APBD 2014 dan 2015, persetujuan laporan pertanggungjawaban anggaran 2014,  serta penolakan penggunaan hak interpelasi.  Tersangka dari kalangan DPRD Sumut lainnya adalah Kamaludin Harahap (wakil ketua DPRD 2009–2014 dari PAN) serta Sigit Pramono Asri (wakil ketua DPRD 2009–2014 dari PKS). Keduanya disangka menerima suap terkait dengan persetujuan laporan pertanggungjawaban APBD 2012, persetujuan perubahan APBD 2013, pengesahan APBD 2014, serta pengesahan APBD 2015.

Sebenarnya KPK kemarin juga memeriksa Kamaludin. Namun, entah takut ditahan atau alasan lain, dia memilih mangkir. ’’Dia tidak hadir tanpa keterangan,’’ ujar Yuyuk.Kasus suap DPRD tersebut merupakan perkara korupsi keempat yang menjerat Gatot. Perkara itu merupakan pengembangan pengusutan perkara-perkara sebelumnya. Gatot telah menjadi tersangka untuk tiga kasus korupsi di KPK dan satu kasus di Kejaksaan Agung.Kasus yang pertama, dia ditetapkan sebagai pemberi suap kepada tiga hakim dan seorang panitera PTUN Medan. Dalam kasus itu, KPK juga menetapkan O.C. Kaligis serta anak buahnya, M. Yagari Bhastara, sebagai tersangka.

Kasus kedua Gatot adalah suap terhadap anggota Komisi III DPR sekaligus Sekjen Partai Nasdem Rio Patrice Capella. Suap diberikan kepada Rio karena politikus Nasdem itu menjanjikan pengamanan perkara Gatot di kejaksaan. Gatot percaya karena jaksa agung juga berasal dari partai yang sama dengan Rio.
Perkara korupsi ketiga yang menjerat Gatot ditangani Kejaksaan Agung. Perkara itu berkaitan dengan penggunaan anggaran bantuan sosial (bansos) di Pemprov Sumut. Kasus itulah yang menjadi sumber pengungkapan perkara-perkara lain oleh KPK. (gun/c5/agm)

 

Berita Terkait