Anggie Rahmat, Membawa Desain Etnik Kalbar ke Jepang

Anggie Rahmat, Membawa Desain Etnik Kalbar ke Jepang

  Selasa, 16 February 2016 14:06
SHANDO/PONTIANAK POST

Wajah Anggraini atau akrab disapa Anggie Rahmat ini  tentu tidak asing lagi dimata Anda. Anggie  sering tampil di TVRI Kalbar sebagai pembawa acara, khususnya acara dialog. Tak hanya dikenal sebagai presenter, ternyata perempuan bernama lengkap Anggraini Husmiati SE, MM ini juga seorang desainer yang menjadikan desain etnik Kalbar sebagai ciri khasnya. Bahkan ia pernah tampil di Jepang membawakan hasil rancangannya. 

Oleh : Marsita Riandini

Lulusan Pascasarjana Universitas Padjajaran ini sering bertemu banyak kalangan untuk membahas isu-isu  menarik.  “Saya pikir menjadi presenter TV punya banyak wawasan karena bertemu banyak orang. Meskipun saya tidak punya background disitu. Tetapi berproses, learning by doing,” ucap wanita kelahiran Palembang, 37 tahun ini.

Istri dari AKBP Rachmat Tri Haryadi inipun kemudian merambah ke dunia fashion. Hal ini bermula dari kecintaannya terhadap kain-kain etnik. “Kebetulan suami waktu itu menjadi Wakapolres di Sintang, jadi saya ikut kesana. Saya melihat ada banyak kain tenun khas Kalbar yang menarik untuk dieksplore. Lantas saya kepikiran untuk mengaplikasikan ke dalam busana yang ready to wear, bukan hanya untuk acara tertentu saja,” kata wanita yang karya perdananya masuk di salah satu majalah bersama 8 desainer lain, salah satunya Dian Pelangi ini.

Sebelum ke Kalbar, dia juga tertarik untuk mengkritisi batik besurek khas Bengkulu saat mengikuti suaminya bertugas disana. Hal itu pula  yang menjadi bahasan tesisnya ketika menyelesaikan gelar magisternya. “Saya melihat batik ini juga punya potensi. Saya mengkritis kenapa kain ini tidak bisa seperti batik lain. Padahal punya potensi untuk dikembangkan,” papar dia yang tanggal 8 Maret mendatang akan melakukan fashion show di Jakarta.

Di rumah di Jalan Subarkah Pontianak, ada beberapa koleksi pakaian hasil rancangannya terpajang apik. Sementara ada pula yang sudah dikemas rapi untuk dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia. “Untuk pemasaran, saya lebih kuat di sosial media. Sudah sampai ke seluruh Indonesia,” ucap ibu dua anak ini yang mengatakan hampir tiap hari ada pengiriman.
Busana rancangannya ini tidak sepenuhnya menggunakan kain-kain etnik, melainkan ia kombinasikan. “Ada desainer yang keukeuh bahwa kain etnik itu tidak boleh digunting, harus utuh. Tetapi bagi saya, itu tidak masalah. Terpenting ada unsur  etniknya dan orang mau memakainya di berbagai kesempatan. Kemudian ciri khas lainnya dari karya saya ini selalu ada sentuhan tangannya, seperti payetan dan sebagainya,” ulasnya.

Berawal dari promosi di media sosial, kini permintaan pun kian banyak. Bahkan dia mengaku keteteran melayani pesanan. “Sekarang sudah mulai banyak orang mau pakai. Bahkan beberapa instansi pun ada yang pesan untuk seragam mereka,” ungkap Anggie yang sempat terkendala pemasaran, bahkan awalnya  ragu melihat respon masyarakat.

Melihat rancangannya, Anggie diundang oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk mengikuti Minangkabau Fashion and Festival 2015. Acara ini sekaligus menjadi launching pertamanya. “Saya difasilitasi tetapi menggunakan tenun-tenun mereka. Saya pikir saya harus tetap konsisten, saya harus tetap ada menggunakan tentu khas Kalbar, sebab saya mulainya dari sini,” ujar dia yang juga pernah mengikuti fashion show di International Fashion and Product 2015.

Alhasil beberapa rancangan, ia mengkombinasikan etnik dari Kalbar dan dari Sumatera Barat. Seperti kombinasi antara songket Sambas dan Sulam Peniti dari Bukit Tinggi. Tak hanya untuk orang dewasa saja, dia juga mendesain busana etnik yang cocok digunakan oleh remaja, tetapi tidak terlalu formal. Selang beberapa lama, melalui Kementerian terkait, ia diminta untuk presentasi di depan ibu negara. “Saya berusaha menjembatani kondisi pengrajin di perbatasan dengan hasil desain saya. Terutama akses mereka yang jauh dan harus membeli bahan baku ke Malaysia karena jaraknya yang lebih dekat. Ini kali pertama saya membawakan satu desain saya. Alhamdulillah diapresiasi positif,” katanya yang ketika dihadapan first lady RI menggunakan kain tenun Sidan Kapuas Hulu ini. 

Mendapatkan apresiasi yang positif, dia pun mulai mengikuti berbagai even dan ikut bergabung ke berbagai komunitas fashion. “Pernah satu panggung dengan Dian Pelangi, Ivan Gunawan. Bahkan ada yang melibatkan desainer international, seperti dari Timur Tengah dan Australia,” jelasnya yang pernah mengikuti Fashion Crowded Competition Tokyo, Jepang dengan menampilkan desain berkonsep harajuku etnik style menggunakan kain khas Kalbar. **