Andalan Ekonomi Pulau Putri; Bangun PPI dan Revitalisasi Dermaga

Andalan Ekonomi Pulau Putri; Bangun PPI dan Revitalisasi Dermaga

  Sabtu, 14 May 2016 13:53
GUSLAN GUMILANG/JAWA POS JEMPUT POTENSI: Dermaga di Desa Sidogedungbatu yang rencananya dikembangkan untuk Pusat Pendaratan Ikan (PPI) Bawean.

Pulau Bawean tidak bisa lagi dipandang dengan sebelah mata dalam hal perekonomian. Saat Pemkab Gresik mulai melirik sisi pariwisata, bidang perikanan masih menjadi andalan di pulau yang mendapatkan julukan Pulau Putri itu. Potensi di perairan sekitar Bawean pun masih sangat menggiurkan.

 

PULAU Bawean berpenduduk sekitar 70 ribu jiwa. Berbagai etnis, di antaranya Jawa, Madura, dan Kalimantan, hidup rukun serta bergotong royong. Dari total penduduk, 60 persen berprofesi sebagai nelayan. ”Masyarakat kami merupakan pemburu ikan yang andal. Bukan hanya udang, ikan tuna juga banyak mereka hasilkan,” ungkap Baharudin, sekretaris Yayasan Pengembangan Pulau Bawean. Pria berusia 64 tahun itu menegaskan, laut menjadi penopang utama nafkah masyarakat Boyan –sebutan lain Bawean.

Pemkab Gresik terus berupaya mendongkrak pendapatan di sektor perikanan. Sebuah pusat pendaratan ikan (PPI) saat ini di rencanakan. PPI yang bakal menopang perekonomian Kota Pudak itu berada di lokasi strategis. Yakni, Dusun Pamona, Desa Sidogedungbatu, Bawean. Saat ini lokasi itu memang masih berstatus dermaga penyeberangan.

Maklum, sebagian besar penggunanya memang warga yang tinggal di Pulau Gili. Sebuah pulau yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Bawean. Secara perlahan, Dermaga Pamona semakin ramai dan diminati para pengepul ikan. Jumlah kapal yang bersandar terus bertambah. Jenisnya pun bermacam-macam. Paling banyak jenis perahu klotok yang biasa dimanfaatkan wisatawan. Ada pula perahu-perahu yang hanya dimiliki ”juragan”. Yakni, perahu berukuran pan jang 13 meter yang berfungsi untuk menangkap dan mengumpulkan ikan dari keramba.

”Kapalnya bukan saja milik warga Bawean. Saya sering menjumpai kapal milik warga Lamongan yang datang ke Dermaga Pamona,” ungkap Kepala Dusun Gili Wakid. Menurut dia, tujuan kedatangan warga Lamongan bukan berwisata. Mereka menghadang para pelaut Bawean untuk menawarkan transaksi. Saudagar Lamongan memang dikenal sebagai salah satu pengepul ikan yang paling bersemangat di perairan Gili. Kini Dermaga Pamona semakin berkembang. Pemkab terus merenovasi dan menambah fasilitas. Terakhir, lokasi itu direnovasi pada 2015. Pemkab membangun dermaga yang lebih kuat. Pelapisan dengan aspal dan perawatan terus dilakukan. Karena itu, mobil pun bisa melintas dan masuk ke dermaga.

Adanya dermaga apung di ujung juga mempercantik lokasi tersebut. ”Seingat saya, panjang dermaga sekitar 1 kilometer dengan lebar 3 meter,” ungkap Wakid. Pria berusia 45 tahun itu membenarkan, Dermaga Pamona semakin ramai. Bapak empat anak itu optimistis PPI Pamona bisa meningkatkan ekonomi masyarakat Pulau Bawean dan Gili. Secara terpisah, Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, dan Peternakan (DKPP) Gresik Langu Pindingara menjelaskan, pembangunan PPI Pamona terus dilakukan. Bukan hanya itu, pihaknya juga gencar mempromosikannya.

Menurut Langu, pemkab telah menyiapkan dana Rp 2 miliar untuk membuat penutup dermaga dan fasilitas lain. Saat ini prosesnya masih berada dalam tahap pembuatan masterplan. ”Sebenarnya lokasi itu awalnya mirip pasar ikan. Kami berupaya menyulapnya dan mem perbaiki sistem pengelolaan,” ujar Langu.

Berdasar catatan pihaknya, hasil ikan dari Pulau Bawean memang cu kup besar. Namun, ikan-ikan itu sering kali tidak terakomodasi sampai Gresik. Faktor transportasi dan jarak menjadi masalah utama.

Langu menjelaskan, PPI diharapkan bisa menyelamatkan ikan-ikan di Bawean yang terbuang sia-sia. Langkah itu juga dilakukan untuk mendukung perekonomian masyarakat Bawean. Keberadaan PPI Pamona bakal menambah jumlah lokasi transaksi perikanan. Sebelumnya, pemkab mengandalkan PPI Desa Campurejo untuk menarik pengusaha luar daerah. PPI Pamona dan Campurejo bakal ditopang 18 tempat pelelangan ikan (TPI) yang tersebar di seluruh Kota Giri.

DKPP Gresik telah memastikan bahwa hasil perikanan meningkat. Ikan yang terdata pada 2014 sebanyak 97 ribu ton. Angka itu bertambah menjadi 98 ribu ton tahun lalu. Tak bisa dimungkiri, sebagian besar ikan merupakan hasil para pelaut di pulau yang mayoritas penduduknya muslim tersebut.

Lalu, bagaimana pengangkutannya? Alumnus Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya tersebut menuturkan, pihaknya sempat meminta kapal pengangkut barang ke pusat. Nilainya sekitar Rp 5 miliar. Langu optimistis Pemkab Gresik bakal memiliki kapal tersebut. Kapal itu diharapkan menjadi solusi pengangkutan ikan. Selama ini, memang ikan hanya diangkut perahu nelayan dengan kapasitas yang masih kecil. ”Nanti kapal dikhususkan mengangkut ikan dari Bawean. Itu kapal bakal dikelola Pemkab Gresik,” ujar Langu. (hen/c11/ady)