Anak Tidak Naik Kelas

Anak Tidak Naik Kelas

  Rabu, 22 June 2016 09:30

Berita Terkait

Ketika tak naik kelas, anak sangat memerlukan pendampingan. Ia juga memerlukan empati, bimbingan, dan pengawasan. Terpenting, sang anak harus merasa tak putus asa. Ia harus tetap memiliki semangat untuk terus belajar dan meraih masa depan.

Oleh : Marsita Riandini

Pembagian rapor telah usai. Para siswa pun telah mengetahui nilai hasil proses pembelajaran mereka selama setahun. Ada yang tersenyum. Ada pula yang bersedih karena tak naik kelas. 

Saat mengetahui sang anak tak naik kelas, beragam reaksi ditunjukkan oleh orangtua. Ada yang lebih tenang. Ada pula yang langsung memarahi anaknya. Lantas, apa sebaiknya yang dilakukan orangtua?

Menanggapi For Her, Endah Fitriani, M. Psi, Psikolog mengatakan tanda-tanda seorang anak akan tidak naik kelas dapat dilihat beberapa waktu sebelum penerimaan rapor terakhir. 

“Sebelum pengumuman kenaikan kelas, sebenarnya orangtua sudah menerima tiga rapor. Dua rapor mini pada saat mid semester, satunya lagi raport semester pertama.  Jadi sebenarnya orang tua sudah bisa melihat apa saja yang menjadi kekurangan anak. Apa yang harus diperbaiki dan mengonsultasikannya ke wali kelas,” ujar guru Bimbingan Konseling di SMP Negeri 10 Pontianak ini. 

Sayangnya, tidak semua orang tua aktif dalam menindaklanjuti hasil belajar anak. Beragam pula alasan penyebabnya. Ada orangtua yang memang tak paham. Ada pula yang terlalu sibuk dalam bekerja. Mereka menyerahkan sepenuhnya pada sekolah. “Inilah yang disayangkan. Pemberian rapor mini dan rapor semester pertama itu agar orang tua bisa bersikap harus seperti apa jika nilai anaknya menurun, atau bahkan jika terancam tidak naik kelas,” ulas dia. 

Menurut Endah, ketika seorang anak tak naik kelas, tak selalu anak tersebut kurang dalam pembelajaran. Seharusnya orangtua tak langsung mengecap sang anak bodoh karena malah dapat memperburuk psikologis anak. 

“Ada banyak syarat untuk kenaikan kelas. Salah satunya memang nilai belajar,” jelasnya. 

Ada pula, lanjut Endah, nilai belajar anak sudah baik. Tetapi perilakunya yang bermasalah. Sekolah sudah berupaya memanggil orang tua, tetapi tidak ada follow up yang baik, sehingga diputuskanlah anak tersebut tidak naik kelas. 

“Ada orang tua yang melepaskan sepenuhnya tanggung jawab anak kepada sekolah. Ketika mengetahui perilaku anaknya bermasalah di sekolah, mereka lalu menyalahkan sekolah. Menganggap sekolah tidak bisa mendidik anak mereka,” tutur Endah. 

Endah menjelaskan pihak sekolah tetap memerlukan peran orangtua dalam mendidik anak. Sekolah tidak bisa sembarang memutuskan sikap terhadap anak didik mereka. “Apalagi anak lebih banyak waktunya di rumah. Belum lagi ada orang tua merasa guru tidak banyak memberikan PR pada anak, sehingga anaknya lebih banyak bermain di luar dibanding belajar dirumah,” terang dia. 

Di sisi lain, kata Endah, anak bisa menjadi stres, jika tetap dijejali dengan pekerjaan rumah padahal ia sudah mendapatkan pembelajaran yang cukup banyak di sekolah. Selain belajar, anak juga memerlukan waktu bermain. 

“Anak membutuhkan waktu luang untuk bersantai. Disinilah pentingnya kontrol orangtua untuk mengupayakan pendampingan di rumah,” papar Endah. 

Ia menambahkan kalaupun anak sudah tak naik kelas, orang tua dan anak harus bisa saling menerima. Semua pihak harus bisa menarik pelajaran dari kejadian tersebut sehingga bisa lebih baik kedepannya.

 “Latih anak untuk menerima kenyataan dan bertanggung jawab atas hasil yang diraih anak,” pungkasnya. **

--------------------------

Agar Tak Gagal Lagi 

Berikan Anak Motivasi
Tidak mudah menerima kenyataan tidak naik kelas. Orangtua harus tetap memberikan dukungan dan semangat kepada anak untuk tetap sekolah. “Bangkitkan semangat anak untuk mau tetap melanjutkan pendidikan. Semangat untuk memperbaiki kesalahan,” ucap Psikolog Endah Fitriani. 

Kerjasama dengan Sekolah Hindari Bully
Anak yang tidak naik kelas rentan menjadi korban bully. Oleh karenanya, orangtua dan guru harus bekerjasama untuk meminimalisir bully yang mungkin akan diterima anak. 

Perbaiki Pola Belajar
Introspeksi diri menjadi sangat penting untuk memperbaiki kesalahan. Ajak anak untuk memperbaiki pola belajarnya. “Jika nilai anak menurun, cobalah untuk mengubah pola belajarnya. Bila perlu tambahkan les. Dampingi anak saat belajar, terutama pada pembelajaran yang memang kurang,” saran dia. 

Memindahkan Anak ke Sekolah Lain
Masalah anak satu dengan yang lainnya dalam belajar memang berbeda-beda. Memindahkan anak saat tidak naik kelas ke sekolah yang baru, itu menjadi keputusan dari orang tua. Pastikan keputusan itu demi kebaikan anak, dan anak bisa belajar dengan nyaman di sekolah yang baru. “Ada pula anak yang sebenarnya mampu, tetapi tidak bisa bersaing di sekolahnya. Mungkin karena target pencapaiannya di sekolah ini jauh lebih tinggi dari sekolah lain. Hal-hal ini juga bisa memicu masalah dalam belajar,” terang dia. 

Perbaiki Perilaku Anak
Jika masalahnya pada perilaku anak, maka menjadi PR orang tua dan pihak sekolah untuk membantu anak memperbaiki perilakunya. “Bagaimana pun anak tetap tanggung jawab orangtua,” tutupnya. (mrd)

Berita Terkait