Anak Suka Membantah

Anak Suka Membantah

  Rabu, 9 December 2015 08:41
Gambar dari internet

Berita Terkait

Orang tua tentu menginginkan anak-anak mereka tumbuh dan berkembang menjadi anak yang manis, penurut dan mudah diatur. Namun, pola asuh yang diterapkan tak selalu sesuai dengan harapan. Justru hal inilah yang menjadi tantangan bagi orang tua. Sebab banyak anak yang kemudian tumbuh dan berkembang menjadi anak yang pembantah. Oleh : Marsita Riandini

 
 
Umumnya orangtua akan kesal jika menghadapi perilaku anak yang suka membantah. Beragam respon yang ditimbulkan. Ada yang menganggap itu wajar, biasa saja. Ada yang terkejut anaknya sudah mulai membantah, bahkan banyak pula yang memarahi anaknya. Lantas bagaimana sebaiknya orang tua menyikapi anak yang suka membantah?

Menjawab For Her, Psikolog H. Armijn Ch. S. Besman, S.IP, S.Psi mengatakan usia anak merupakan usianya mencari jati diri. Salah satunya dengan cara menolak sesuatu yang tidak dia harapkan secara terbuka. “Inilah yang disebut dengan membantah. Dia menolak apa-apa yang dianggap tidak sesuai dengan yang dia harapkan,” jelasnya.

Anak yang suka membantah, menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua dalam mengasuhnya. Semakin dibiarkan, kelak anak akan tumbuh menjadi anak yang pembantah. Namun, bukan tidak boleh mengajarkan anak membantah. Pada kasus-kasus tertentu yang mengancam masa depan anak, maka anak harus diajarkan membantah.  “Kalau dibiarkan, tak hanya kepada orang tuanya saja, tetapi dengan teman, guru dan orang lain pun dia lebih sering membantah,” paparnya.

Anak-anak dari sejak usia 4 tahun, sudah bisa membantah orang tua. Bantahan itu akan semakin sering dilakukan ketika dia memasuki usia 8 tahun hingga remaja. Pada masa ini, anak memang mengalami fase-fase peralihan fisik dan emosi dari rentang hidup sebagai anak-anak menuju masa remaja.

Tidak mudah memang bagi orang tua menghadapi anak yang suka membantah. Apalagi jika pola asuh yang diterapkan tidak sesuai, maka anak bukannya menurut,  malah semakin membantah. “Orang tua harus terus belajar dalam mengasuh anak. Itulah kenapa tak ada sekolah khusus bagi orang tua.  Orang tua juga harus bisa menerapkan pola asuh sesuai dengan tahap perkembangan anak,” ujarnya.

Hubungan orang tua dan anak juga akan semakin renggang, bila sikap anak ini tidak diatasi segera. “Sebagai orang tua bukan lagi mendidik dengan otoritas, tetapi menjadi fasilitator dan sahabat bagi anak sehingga anak merasa tidak berada dibawah perlawanan,” ungkapnya.

Kadang kala, sikap membantah anak juga dipengaruhi oleh lingkungan dia. Seperti ibunya yang selalu membantah perkataan bapaknya, atau kakak yang selalu membantah orang tua. Hal ini jika terus dilihat anak, maka akan menginspirasinya untuk melakukan hal yang sama di kemudian hari. Termasuk pula ketika dia melihat temannya yang suka membantah orang tuanya.“Anak-anak ini khan memang senangnya meniru. Jika dia menyontoh sikap tersebut dari temannya, dekati anak dan coba berikan pengertian bagaimana dia seharusnya bersikap,” pungkas Armijn. **

 

Berita Terkait