Anak Sanca Gagal Dikirim

Anak Sanca Gagal Dikirim

  Kamis, 29 Oktober 2015 09:34
ULAR SANCA : BKSDA memperlihatkan anakan ular sanca yang diamankan di terminal kargo Bandara Supadio karena tidak memiliki dokumen. MEIDY KHADAFI/PONTIANAKPOST

PONTIANAK - Petugas keamanan Bandara Internasional Supadio Pontianak kembali menggagalkan upaya pengiriman satwa liar melalui terminal kargo, Rabu (28/10) pagi.  Sebuah kotak kardus berisi dua ekor anakan ular Sanca diamankan.Menurut Komandan Satuan Polisi Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Bekantan BKSDA Kalimantan Barat David Muhammad menuturkan, dua ekor anakan ular Sanca ini rencananya akan dikirim seseorang melalui jasa pengiriman barang (ekspedisi) dengan tujuan Jakarta. Pada saat pemeriksaan x-ray di kargo Bandara Internasional Supadio Pontianak, kotak tersebut terdeteksi berisi satwa liar. “Untuk saat ini barang bukti sudah diserahkan ke Pos BKSDA di Bandara Internasional Supadio,” kata David, kemarin.

Menurut David, modus dari pengiriman satwa liar ini sama seperti kasus pengiriman satwa liar sebelumnya. Pengirim mengaburkan identitas barang yang dikirim. “Memang satwa liar seperti ular Sanca ini bukan termasuk satwa yang dilindungi, tetapi ada aturan, seperti dokumen sesuai dengan PP No. 8 tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar,” terangnya.

Terkait dengan pengiriman satwa liar tersebut, pihaknya akan mengusut hingga tuntas. “Kami mendapat arahan dari kepala balai, agar mengusut kasus ini hingga tuntas. Kami juga akan memanggil dan memeriksa jasa ekspedisi yang bersangkutan. Supaya hal-hal seperti ini tidak terjadi,” katanya.

Dalam kesempatan itu, pihaknya mengimbau kepada ekspedisi untuk bisa lebih teliti dan selektif. Jangan sampai barang yang dikirim ternyata barang yang berbahaya.

Sebelumnya BKSDA Kalbar juga mengamankan belasan ekor reptile berbagai jenis, diantaranya tujuh ekor anakan ular sanca kencang/dipong (python breitensteini), lima ekor viper hijau/borneo pit viper (tropidolaemusd subannulatus borneo), satu ekor ular terbang (chrysopelea paradisi) dan empat ekor cicak hutan (aeluroscalabotes filinus).

Satwa-satwa liar ini rencananya dikirim dari Pontianak tujuan Jogjakarta melalui jasa ekspedisi via Bandara Internasional Supadio Pontianak. Satwa liar tersebut diamankan di terminal kargo Bandara Internasional Supadio Pontianak, Senin (19/10) sekitar pukul 12.10.

Di hari yang sama, sekira pukul 19.00, petugas BKSDA kembali menggagalkan pengiriman delapan ekor anakan ular sanca kencang/dipong (python breitensteini) yang rencananya juga akan dikirim melalui jasa pengiriman di Bandara Supadio Pontianak. “Kami tidak ingin kecolongan lagi. Karena sebelumnya sebanyak delapan ekor satwa endemic Kalimantan (biawak borneo) lolos dari pemeriksaan di Bandara Supadio. Satwa itu dibawa oleh seorang warga Jerman,” kata Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sustyo Iriono, Selasa (20/10).

Menurut Sustyo, modus pengiriman satwa liar ini berbagai cara. Para pengirim mencoba mengelabuhi petugas dengan memalsukan identitas barang di dalam resi. Seperti yang terjadi pada kasus ini. “Modus mereka memalsukan identitas barang, yang seharusnya tertulis satwa liar, namun ditulis barang antik,” terangnya.BKSDA mendorong masyarakat dalam pemanfaatan satwa liar (yang tak dilindungi), namun ia meminta warga masyarakat untuk memiliki izin terlebih dahulu. “sehingga tidak sembarangan, meskipun itu mengambil dari alam. Mereka juga harus ada izin menangkap dan mengumpulkan,”tegasnya

Jika untuk perdagangan, maka harus ada izin pengedar tumbuhan dan satwa liar yang tidak dilindungi, dari BKSDA. “Kami sebenarnya mengajak masyarakat, karena ini satwa liar. Untuk bisa tertib administrasi dalam tata cara pengangkutan dari satu wilayah ke wilayah lain di Republik Indonesia. Harus dilengkapi dengan dokumen dari BKSDA, dan akan lebih sempurna lagi jika ada dokumen dari Balai Karantina,” jelasnya. (arf)