Anak Difabel, Jangan Sampai tak Sekolah

Anak Difabel, Jangan Sampai tak Sekolah

  Kamis, 12 May 2016 10:29
TINJAU SLB: Bupati Kayong Utara Hildi Hamdi ketika berada di salah satu ruang kelas Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kayong Utara, untuk melihat langsung proses belajar dan mengajar di sekolah tersebut, kemarin. DANANG PRASETYO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

SUKADANA – Dengan telah berdirinya Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Sukadana, Bupati Kayong Utara Hildi Hamid berharap agar Dinas Pendidikan (Disdik) setempat berkoordinasi dengan desa. Instansi tersebut diminta dia agar melakukan jemput bola di lingkungan masyarakat, untuk mencari anak-anak difabel, agar dapat bersekolah di SLB.

“Berdirinya SLB di Kayong Utara diharapkan masyarakat yang memiliki anak atau keluarga dapat menyekolahkan anaknya di sini (SLB, Red). Karena, paling tidak untuk anak itu diharapkan paling tidak, dapat membaca, menulis, dan berhitung. Selain itu juga, saya berharap kita melalui dinas terkait, dapat melakukan jemput bola. Paling tidak dapat menujukkan ke sekolah, kalau kita juga memiliki sekolah untuk anak-anak itu,” terang Bupati usai melakukan meninjau pelasanaan Ujian Nasional (Unas) di SMP Negeri 1 Sukadana, Selasa (10/5) lalu.

Jemput bola tersebut dimaksudkan Bupati agar anak-anak yang dimaksud dapat terpenuhi haknya untuk bersekolah. Disdik diminta dia agar melakukan koordinsi ke masing-masing desa di kabupaten ini. Dia juga meminta agar pemerintah desa dapat berkoordinasi dengan para pengurus RT di lingkungan mereka masing-masing.

“Kalau sudah ada ditemukan anak tersebut, selanjutnya dapat diarahkan ke Sekolah Luar Biasa itu, agar keluarganya dapat mengetahui kegiatan belajar mengajar untuk mereka juga ada. Hal tersebut dilakukan, mungkin selama ini mereka tahu kalau kita punya SLB, namun malu untuk mengantarkan anaknya, maupun keluarga. Hal seperti itu sebaikan tidak lagi ada. Karena, walau anak tersebut memiliki keterbelakangan, namun tetap memiliki hak untuk sekolah,” ujar Hildi menegaskan.

Sementara itu, kepala Disdik (Kadisdik) Kabupaten Kayong Utara, Romi Wijaya, tak memungkiri masih ada sebagian warga yang kemungkinan masih memiliki rasa malu untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke SLB yang telah disedikan pemerintah.  Padahal, sambung dia, untuk meningkatkan kualitas hidup anak-anak ini, minimal harus dapat membaca, menulis, dan menghitung. Kemampuan-kemapuan tersebut, menurut dia, akan menjadikan anak-anak ini meningkatkan kemudahan mereka dalam ketika berinteraksi.

“Setiap anak itu memiliki hak untuk sekolah. Untuk itu, pemerintah menyediakan Sekolah Luar Biasa yang saat ini telah berjalan proses belajar dan mengajarnya,” kata Kadisdik, usai mendampingi Bupati meninjau pelaksanaan Unas dan proses belajar dan mengajar di SLB.

Ia juga berharap agar Pemerintah Daerah yang memiliki pemerintahan hingga ke tingkat desa, dapat turut berperan aktif. Selanjutnya, dia meminta agar pemerintahan desa dapat melakukan koordinasi. Dari koordinasi tersebut, dia mengharapkan agar semua pihak bersama-sama berusaha memberikan hak kepada anak-anak tersebut, untuk dapat menunaikan pendidikan di SLB. 

“Kita bersama-sama dari berbagai pihak, termasuk pemerintah desa hingga ke RT, dapat memeberikan pemahaman kepada masyarakatnya, agar dapat menyekolahkan keluarganya atau anaknya yang memang memilki keterbelakangan di sekolah yang telah disediakan,” harapnya. (dan) 

Berita Terkait