Anak-Anak Penantang Risiko: Kisah Para ABK di Bawah Umur di Ternate

Anak-Anak Penantang Risiko: Kisah Para ABK di Bawah Umur di Ternate

  Minggu, 28 February 2016 09:20

Keselamatan penumpang turut menjadi tanggung jawab para ABK anak di penyeberangan Ternate–Tidore. Otoritas setempat mengaku dilematis kalau harus melakukan penertiban.

IKA FUJI RAHAYU, Ternate

ANAK yang berkulit gelap karena terbakar matahari itu berteriak untuk mengundang naik penumpang yang mulai berdatangan. Nama orang yang hendak menumpangi speedboat lantas dia catat satu per satu di kertas daftar nama penumpang.

Pelabuhan Penyeberangan Bastiong tak terlalu ramai Rabu siang lalu (24/2) itu. Ternate dan pulau-pulau di sekitarnya di Maluku Utara memang tengah menghadapi musim hujan.

Beberapa hari belakangan, hujan yang disertai angin kencang kerap datang, menghambat

berbagai aktivitas. Tak terkecuali trayek penyeberangan speedboat rute Bastiong (Ternate)–Rum (Tidore). Begitu kuota 16 orang terpenuhi, dengan lincah Andika Nurdin, anak buah kapal (ABK) yang masih bocah itu, kembali melompat ke speedboat. Dia berjalan ke moncong depan, mengawasi kondisi lautan di depannya. Sementara itu, sang nakhoda menyalakan mesin dan memulai perjalanan menuju Pelabuhan Rum.

”Begitu sampai di Rum, saya yang ikat tali speedboat ke tiang dermaga,” tuturnya kepada

Malut Pos (Jaringan Pontianak Post).

Di usia yang baru 15 tahun, tanggung jawab yang diemban Andika sungguh tak ringan. Selain harus terbiasa berjalan ke sana kemari di titian speedboat yang membelah ombak dengan kecepatan tinggi, dia bertanggung jawab penuh atas keselamatan penumpang.

Sebab, tak jarang anak-anak seperti Andika diserahi tanggung jawab memegang mesin oleh sang nakhoda. Artinya, dia harus mengendalikan ke mana arah speedboat melaju.

Risikonya jelas tak kecil. Apalagi dalam cuaca seperti sekarang. Terjatuh ke laut dan

tenggelam merupakan risiko yang paling nyata. Namun, Andika sama sekali tak takut.

”Saya bisa renang kok,” katanya.

Andika adalah satu di antara lebih dari 30 anak yang menjadi kru speedboat rute Bastiong–Rum. Rata-rata berusia di bawah 15 tahun. Dermaga pun seolah menjadi taman bermain bagi mereka.

Hanya, taman bermain itu menghasilkan uang yang tak sedikit. Bahkan terkadang lebih

banyak daripada yang mampu dihasilkan orang tua mereka. Sebagian besar di antara mereka juga telah putus sekolah.

”Papa kerja jadi tukang ojek di pelabuhan feri Bastiong. Mama di rumah saja (ibu rumah

tangga, Red),” kata Andika. Lahir dan besar di pulau yang dikepung lautan, sejak kecil Andika dan koleganya sesama ABK di bawah umur telah akrab dengan laut. Mereka justru lebih takut ketahuan syahbandar karena menjadi ABK ketimbang jatuh ke laut.

”Kalau syahbandar tahu, kami dimarahi. Dilarang kerja karena masih anak-anak,” kata

Andika.

Ibrahim Kaufua, kepala Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai (KPLP) Bastiong, mengakui

bahwa keberadaan ABK anak di Pelabuhan Bastiong menimbulkan dilema. Di satu sisi,

membenarkan mereka bekerja berarti melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak.

Di sisi lain, tanpa anak-anak itu, sebagian besar speedboat akan kehilangan izin operasi.

Sebab, speedboat yang nekat berlayar tanpa ABK akan dikenai sanksi. ”Karena keberadaan ABK ada kaitannya dengan keselamatan penumpang juga. Tapi, pada dasarnya, memang tidak bisa mempekerjakan mereka,” tutur Ibrahim.

Pada akhirnya, hukum ekonomi juga yang berlaku. Ada demand, ada supply. Karena suplai ABK dewasa di Bastiong terbatas, ABK anak ramai dipekerjakan.

Karena yang berminat banyak, persaingan pun muncul. Andika, misalnya, mengaku harus

terus bersiaga di pelabuhan. Itu cara dia menyikapi persaingan agar diajak oleh nakhoda untuk menangani sebuah speedboat.

Saking banyaknya yang melayani rute Bastiong–Rum, angkutan-angkutan laut tersebut dibagi ke dalam dua sif, yakni A dan B. Dua sif itu bergantian beroperasi tiap hari.

Tiap sif terdiri atas 51 unit speedboat. Tiap sif juga memiliki seorang ketua. ABK anak masuk ke sif B. ”Kalau pas giliran sif A yang operasi, saya bisa jadi buruh. Angkat barangnya penumpang,” papar Andika, yang berasal dari Pulau Maitara, Kota Tidore Kepulauan.

Semua ABK di bawah umur bekerja kala giliran sif B. Sebab, ketua sif A melarang keras

speedboat asuhannya menggunakan tenaga ABK anak. Berbeda dengan pengawasan di sif B  yang lebih lunak. ”Di sif A, apabila ketahuan ada speedboat yang mempekerjakan ABK di bawah umur, bakal kena sanksi tidak bisa beroperasi sehari penuh. Tapi, di sif B, tidak begitu aturannya,” ungkap Asri Usman, salah seorang nakhoda.

Sudah lima tahun terakhir Andika memilih menjadi ABK. Sudah lima tahun pula dia

menanggalkan seragam sekolahnya untuk selama-lamanya. Bukan lantaran tak suka bersekolah, melainkan kedua orang tuanya memang tak mampu menyekolahkannya.

”Berhenti sekolah kelas V SD. Orang tua tidak mampu karena kami banyak saudara,” tutur anak kedua di antara delapan bersaudara itu.

Agak berbeda dengan Andika, Jufri Kadir dan Dafri Suleman adalah ABK cilik yang masih berstatus pelajar. Jufri duduk di kelas VII salah satu SMP negeri di Tidore, sementara Dafri siswa kelas VIII di sebuah sekolah swasta di Ternate.

Lantaran masih terikat dengan jam sekolah, keduanya baru bisa bekerja setelah jam sekolah  usai. Hanya saat libur pekerjaan sampingan itu bisa mereka lakoni secara maksimal. Meski

hanya setengah hari, pendapatan mereka bisa dikatakan lumayan. ”Paling rendah Rp 95 ribu. Uangnya ditabung di celengan. Kadang-kadang kasih mama juga,”ujar Jufri, yang berasal dari Kelurahan Rum Balibunga, Tidore Utara. Karena ”jam kerjanya” lebih panjang, Andika otomatis bisa meraup penghasilan lebih besar jika dibandingkan dengan Jufri dan Dafri. Dalam sehari, dia bisa wira-wiri sembilan kali jalur Bastiong–Rum. Mengantongi Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu. Angka tersebut akan naik berkali

lipat pada musim mudik Lebaran, yakni mencapai rata-rata Rp 1 juta.

Namun, Andika tak memiliki tabungan. Sebagian penghasilan dia berikan kepada sang ibu. Sisanya digunakan untuk membeli kebutuhan sendiri dan bersenang-senang dengan teman-teman. ”Kadang beli rokok, kadang minum (minuman keras, Red) juga,” kata salah seorang teman Andika.

Sebagai nakhoda, Asri Usman mengaku sangat terbantu oleh para ABK anak. Sebab, seperti halnya dengan operator speedboat lain di Bastiong, dia tidak memiliki ABK tetap.

Jadi, tiap kali beroperasi, dia biasanya langsung memanggil tenaga yang tersedia. Siapa lagi kalau bukan para bocah yang lebih setia berada di dermaga. Sebab, ABK dewasa pada umumnya punya pekerjaan sampingan.

”Tanpa mereka, kami tidak bisa beroperasi. Sebab, nakhoda tidak mampu mengontrol bagian depan dan belakang speedboat sekaligus,” kata Asri.

Rute Bastiong–Rum merupakan satu-satunya rute di Kota Ternate yang masih menggunakan pekerja anak. Di pelabuhan speedboat lain seperti Dufa-Dufa dan Kotabaru, anak-anak di bawah umur tak lagi diberi kesempatan untuk bekerja di atas speedboat. ”Mungkin karena jarak tempuh Bastiong–Rum terhitung pendek, yakni sekitar sepuluh menit. Jadi, nakhoda masih ’berani’ menggunakan tenaga ABK anak,” sambung Asri, yang juga ABK anak sebelum menjadi nakhoda.

Ibrahim mengatakan, pihaknya sejatinya telah berkoordinasi dengan ketua tiap-tiap sif

speedboat. Dalam koordinasi tersebut, para ketua sepakat untuk melakukan pengawasan ketat. Namun, toh Rabu siang lalu masih sangat banyak pekerja anak yang dapat ditemui di Pelabuhan Bastiong. Berkelahi dengan waktu, mengais rezeki tanpa mengkhawatirkan risiko untuk membantu orang tua yang semestinya justru melindungi dan menafkahi mereka. (*/JPG/c11/ttg)