Anak-Anak Afrika Tampil Dalam Satu Pertunjukan Seni dan Budaya di Pontianak

Anak-Anak Afrika Tampil Dalam Satu Pertunjukan Seni dan Budaya di Pontianak

  Kamis, 4 Agustus 2016 10:45
ATRAKSI : Anak-anak Swaziland tengah menampilkan bakatnya dalam memperagakan beberapa jurus dalam seni bela diri Kungfu Shaolin dan Wushu. Penampilan mereka dalam malam Perjalanan Rasa Syukur 2016 di Aston Hotel, Pontianak Selasa (2/7) mendapatkan sambutan dan apresiasi dari penonton. MIFTAH/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Dalam sebuah pertunjukan seni dengan menggabungkan budaya Afrika, Tiongkok dan Indonesia, mereka menyampaikan bakat alami dan semangat mereka untuk terus berkembang walau hidup serba kekurangan,” Agus Tjandra, Ketua Panitia Perjalanan Rasa Syukur 2016, Pontianak. 

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak.

MULAI pukul 18:00 waktu setempat, kursi yang disediakan panitia sudah terisi penuh. Para penonton menantikan seperti apa penampilan seni budaya yang disuguhkan anak-anak dari Swaziland tersebut. Di belakang panggung, anak-anak Afrika tengah bersiap dengan kostum unik asli Afrika.

Begitu ketujuh belas anak-anak itu keluar menuju panggung, para penonton dibuat kaget dengan sebuah penampilan budaya asli dari Swaziland. Mereka menggunakan pakaian adat serba merah, mereka menyuguhkan tarian Umhlanga Dance. Tarian ini menggambarkan bahwa di Swaziland, cantik atau tidaknya seorang wanita dinilai dengan seberapa tinggi mereka dapat mengangkat kaki mereka dalam sebuah tarian.

Pertunjukan tarian pembuka dilanjutkan dengan drama musikal yang dibawakan dengan bahasa mandarin. Anak-anak Afrika tersebut terlihat sangat cakap berkomunikasi dengan bahasa Mandarin. Penonton semakin dibuat tergumam dengan bakat bernyanyi dan akting salah satu dari anak-anak tersebut.

Selain menyuguhkan budaya asli dari Afrika, mereka juga membawakan sebuah lagu berbahasa Indonesia. Sebuah lagu berjudul Laskar pelangi, dipilih untuk mewakili salah satu budaya Indonesia. Anak-anak dengan fasih menyanyikan lagu tersebut dengan sedikit tarian kecil.

Bakat terbaik anak-anak yatim piatu bianaan Amitofo Care Centre terlihat saat menyuguhkan satu pertunjukan seni bela diri kungfu shaolin dengan paduan senjata. Mereka tampak sangat menguasai beberapa jurus yang cukup populer, seperti jurus dewa mabuk dan jurus bumi. Salah satu dari mereka juga sangat ahli membawakan seni bian lian, seni mengubah wajah, ia pun sempat berinteraksi langsung dengan beberapa penonton untuk memperlihatkan keahliannya.

Mereka mendapatkan sambutan luar biasa dari sebagian masyarakat Pontianak yang hadir dalam pertunjukan seni budaya tersebut. Anak-anak dari Swaziland tersebut merupakan anak yatim dan piatu. Sebelumnya, mereka ditampung dalam satu panti asuhan Amitofo Care Centre (ACC). Selama diasuh ACC, mereka tetap mendapatkan fasilitas sekolah berdasarkan kurikulum yang ditentukan di negara asal mereka, kerajaan Swaziland.

“Mereka berusaha diselamatkan dan diberikan pendidikan sebelum akhirnya mereka kembali dan mengabdi kepada negara mereka,” kata Sandi, Koordinator Pelaksana Acara Perjalanan Rasa Syukur 2016 ACC Indonesia.

Disamping itu mereka juga didampingi oleh kurikulum dari Tiongkok, berupa bahasa mandarin dan budaya tiongkok. Tak lupa mereka juga diberikan pelatihan bela diri kungfu shaolin yang akhirnya dipertontonkan dalam pertunjukan malam itu. Pelatihan bela diri shaolin bertujuan untuk menambah daya tahan tubuh anak-anak tersebut.

Pelatihan bela diri tersebut untuk menghindari salah satu masalah utama tersebut yaitu masalah kesehatan dan kemiskinan. Masalah tersebut akhirnya menyebabkan angka kematian yang tinggi lantaran persebaran HIV/AIDS yang sangat marak.

“Ketika mereka datang ke Indonesia, kami ingin memperlihatkan kepada anak-anak Indonesia dengan segala kekurangan yang mereka miliki mereka mampu bertahan hidup dengan semangat juang yang luar biasa dari mereka. Besar harapan kami bagi anak-anak di Indonesia dengan segala fasilitas yang telah tersedia, bisa memiliki semangat juang seperti mereka,” tutur Sandi.

Yandi Algresto, wakil ketua komisi A DPRD Kota Pontianak yang menyempatkan diri hadir pada malam itu mengatakan, ia menyambut baik ada niatan yang luar biasa dari Amitofo care Centre (ACC) Indonesia dan Ehipasiko Family Club Pontianak untuk mendatangkan anak-anak bertalenta luar biasa dari Swaziland Afrika. “Talenta itu merupakan anugerah luar biasa,” katanya kepada Pontianak Post Selasa (2/7) di Ballroom Aston Hotel pontianak.

Ia mengatakan, sebelumnya ia juga sudah menerima rombongan tersebut di kantor DPRD Pontianak. “Saya datang juga mewakili DPRD, dalam hal ini untuk menyampaikan dukungan dan apresiasi luar biasa kepada mereka,” ujarnya. 

Pertunjukan ini, katanya dapat memberikan contoh dan inspirasi kepada masyarakat Pontianak, utamanya anak-anak bangsa yang selama ini selalu berpikir mereka kekurangan dan kesusahan. “Coba lihat mereka sekarang,” katanya. Dalam keterbatasan itu mereka mampu bangkit menunjukkan talenta yang luar biasa. 

Oleh karena itu, ia pun berharap, ke depannya anak-anak di Pontianak dapat tertular semangat seperti itu. Anak-anak di Pontianak harus bangkit dan menjadi penerus bangsa, apalagi di Indonesia yang serba memiliki segala sesuatunya. Mereka telah berjuang dengan semangatnya seperti pada hari itu dapat membuka mata masyarakat Pontianak.

Kedatangan mereka ini merupakan yang pertama ke Pontianak. Setelah mendapatkan sambutan yang luar biasa, ia juga menginginkan acara seperti ini terus dapat bisa hadir setiap tahunnya dan memberikan pencerahan kepada anak-anak lain yang mungkin pada hari ini belum sempat datang. “Menjadi awal kebangkitan kita setelah melihat pertunjukkan seperti ini,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Ketua Ehipasiko Family Club Pontianak, sekaligus sebagai ketua panitia Perjalanan rasa Syukur 2016 ke Pontianak mengatakan, kedatangan anak-anak Afrika dan menampilkan segala bakat yang mereka punya merupakan satu bentuk pertunjukkan yang pada dasarnya bertujuan untuk memotivasi anak-anak di Pontianak.

Menurut pengamatannya, dewasa ini anak-anak di Pontianak agaknya manja dengan fasilitas yang ada. “Fasilitasnya lengkap tapi tidak dimanfaatkan dengan baik,” katanya. Harusnya seperti anak-anak tersebut, mereka mau dan mampu untuk berkembang dalam kekurangan.

Ia juga menuturkan, jika saja nantinya Pontianak diberikan kesempatan untuk menampilkan pertunjukkan serupa, ia mengaku sangat senang meyambut hal tersebut. “Kenapa tidak?  Kalau kami diberikan kesempatan dari ACC, kami akan tampilkan lagi,” pungkasnya.

Seusai pertunjukkan, para penonton yang juga didominasi oleh anak-anak diberikan kesempatan untuk bercengkerama langsung dengan anak-anak Swaziland tersebut. Mereka berbagi kesenangan, walaupun berbeda ras, keakraban dapat tumbuh dalam hitungan detik di antara mereka.(*)

Berita Terkait