Anak Alami Cerebral Palsy

Anak Alami Cerebral Palsy

  Jumat, 24 June 2016 09:30

Berita Terkait

Anak sejak lahir mengalami gangguan fungsi gerak? Jangan anggap remeh, sebab bisa jadi anak mengalami Cerebral Palsy, yakni gangguan yang mempengaruhi gerak, keseimbangan, dan postur tubuh. Cerebral Palsy disebabkan oleh cedera otak atau kurangnya asupan oksigen ke otak saat proses kelahiran sehingga mengakibatkan perkembangan abnormal pada kendali otot dan gerakan.

Oleh : Marsita Riandini

Anak bisa saja mengalami masalah pada otaknya saat dalam kandungan, proses persalinan, maupun setelah persalinan. Itu sebabnya dokter selalu menyarankan kepada ibu hamil agar memeriksakan kesehatan bayi sejak dalam kandungan. Pemeriksaan ini untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan.

Salah satu kasus yang banyak terjadi pada anak yakni Cerebral Palsy. Selain kasusnya banyak, orangtua juga banyak yang terlambat melakukan penanganan terhadap anaknya. 

“Cerebral palsy itu ada gangguan kelumpuhan di sel otak,” ujar Fisioterapis Anak, Agustinus Hendro Ellyantoro kepada For Her. 

Wakil Ketua Ikatan Fisioterapis Indonesia (IFI) Kalbar ini menjelaskan cerebral palsy pada prinsipnya sama dengan stroke. Perbedaannya, kerusakan terjadi pada masa tumbuh kembang sehingga penderita cerebral palsy adalah anak-anak. 

“Cerebral palsy berkaitan dengan gangguan geraknya, gangguan motoriknya, gangguan neurologi lainnya, termasuk fungsi belajar, komunikasi, serta kemampuan menelan dan lainnya,” jelasnya.

Anak dengan cerebral palsy ini biasanya menunjukkan tanda tidak mampu untuk mengontrol gerakan tubuhnya dengan baik. Misalnya, tidak bisa berdiri dengan tegak dan tidak bisa mengangkat kepala. Ia mengalami kelambatan dalam pertumbuhan. 

“Masih terus merangkak d iusia yang seharusnya sudah bisa berdiri tegak bahkan berjalan,” ungkapnya. 

Ada tiga penyebab seseorang mengalami cerebral palsy, diantaranya selama dalam kandungan, ketika proses persalinan, atau setelah proses persalinan. Pada masa dalam kandungan ini bisa disebabkan virus, keracunan obat-obatan, narkoba, ataupun ada upaya aborsi yang gagal dilakukan. 

Cerebral palsy yang terjadi saat proses kelahiran berkaitan dengan tindakan atau prosedur saat melahirkan yang menyebabkan anak trauma, ataupun terlalu lama proses persalinan sehingga kekurangan oksigen di otak. 

“Setelah lahir bisa gangguan infeksi, atau demam yang bisa menyebabkan anak kejang, ataupun sempat mengalami kehilangan oksigen. Termasuk juga lahir prematur dengan berat badan rendah, ataupun usia kandungan yang belum sampai tujuh bulan,” ungkapnya. 

Hendro mengatakan ada beberapa tipe gangguan. Diantaranya spastik atau tipe kaku-kaku, yakni gerakan anak cerebral palsy tipe ini kaku karena otot-ototnya terlalu ketat sehingga kesulitan saat menggerakkan tubuh dari satu posisi ke posisi lain. Ada pula tipe Atetoid. Penderita yang tidak bisa mengontrol gerak ototnya.  Biasanya mereka punya gerakan atau posisi tubuh yang tidak biasa. Terdapat pula cerebral palsy kombinasi yang merupakan campuran spastic dan athetoid. Tipe lainnya adalah hipotonis yang terjadi pada anak-anak dengan otot-otot yang sangat lemah sehingga seluruh tubuh selalu terkulai. Biasanya berkembang menjadi spastic atau athetoid.  Lumpuh otak juga bisa berkombinasi dengan gangguan  penyakit lainnya, seperti epilepsi mental, belajar, penglihatan, pendengaran, maupun bicara. **

-----------------------------------------

Pola Asuh Pengaruhi Kesuksesan Terapi

Cerebral palsy bisa diobati. Fisioterapis Agustinus Hendro Ellyantoro menuturkan  orang tua harus satu persepsi terlebih dahulu dalam proses pengobatan. Kenapa? Sebab secara medis, anak tersebut mungkin saja sembuh dalam pemeriksaan dokter, tetapi menurut fisioterapi belum. Ini dikarenakan fungsi gerak anak belum berfungsi dengan baik. 

“Tidak jarang  setelah dirawat di rumah sakit, anak sudah boleh pulang tetapi fungsi geraknya belum baik. Pada usia enam bulan dia belum bisa angkat kepala. Inilah kenapa sembuh menurut dokter dan fisioterapi berbeda,” jelas Fisioterapis Anak di RSUD Soedarso ini. 

Proses penyembuhan juga berbeda. Menurut pandangan fisioterapi, lanjut Hendro cerebral palsy bisa dikatakan sembuh, jika kemampuan motorik anak sesuai dengan usianya. “Proses terapi pada prinsipnya lebih awal lebih baik. Semakin usianya awal, lebih bagus daripada setelah enam bulan, ataupun setahun. Cara terapi yang benar juga menentukan tingkat kesembuhan,” papar dia. 

Kerjasama dengan orang tua juga penting. Artinya ketika anak sudah mendapatkan terapi, maka harus didukung di rumah. Cara mengasuh, menggendong, dan cara orang tua memperlakukan anak di rumah juga mempengaruhi kesuksesan dalam proses terapi untuk mendapatkan kesembuhan yang maksimal.  

“Artinya kalau kita sudah lakukan proses terapi dengan benar, tetapi di rumah penangannnya salah, maka dia akan balik lagi,” terangnya. 

Sebagai contoh, anak itu tipe spastik, posisi badan selalu menunduk kepalanya, sikunya mendempet ke tubuh, dirumah digendong dengan pola yang sama. Ini tidak akan membantu penyembuhan. “Idealnya saat digendong, badan anak di tegakkan, tangan di renggangkan. Jangan posisi anak membungkuk,” ulas dia. (mrd)

Berita Terkait