Anak adalah Bintang

Anak adalah Bintang

Senin, 23 May 2016 09:11   1

JUDUL opini di atas “Anak adalah Bintang” merupakan sebuah sub tema Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2016, sub tema lainnya adalah; kembali ke sekolah, ekspresi merdeka, dan semua anak semua guru. Sementara tema utama Hardiknas tersebut adalah “Nyalakan Pelita, Terangkan Cita-Cita”.

Bintang adalah sebuah kata yang mengandung makna sempurna, mulia dan prestisius, dan mengindikasikan pemiliknya berada pada posisi tinggi, bahkan tertinggi. Bintang adalah benda yang memancarkan cahaya menerangi kehidupan dan peradaban yang semulanya gelap menjadi terang benderang. 

Sejarah membuktikan, maju-mundurnya sebuah bangsa, sangat ditentukan oleh peran anak pemilik bintang tersebut. 

Sejak dalam rahim ibunya, dari sekian ribu pasang kromoson cikal bakal manusia harus berjuang untuk tetap bertahan hidup, sementara pasangan kromoson lainnya punah sejak dalam rahim ibunya, dan akhirnya dari perjuangan selama kurang lebih sembilan bulan dalam kandungan ibunya lahirkan seorang bayi sebagai seorang bintang. Fenomena tersebut memberi pembelajaran bermakna bahwa untuk menjadi pemilik bintang, seseorang harus  berjuang dan bekerja keras dari sejak dalam kandungan ibunya atau tidak diperoleh secara gratis tanpa usaha keras.

Thomas Amstrong (2004) dalam bukunya “Awakening Genius in The Classroom” menegaskan bahwa setiap anak (siswa) adalah bintang: jenius, pemenang, grandmaster, unggul dan sejenisnya yang dicirikan sebagai berikut, memiliki; rasa ingin tahu, jenaka, imajinatif, kreatif, ketakjuban, bijaksana, penuh daya cipta, vitalitas, peka, fleksibel, lucu dan gembira.

Pertanyaannya, mengapa semua kita yang sejak lahir telah menjadi bintang, namun setelah dewasa hanya sedikit diantara kita memperoleh atau memiliki predikat bintang tersebut. Justru diantara kita lebih banyak penyandang  predikat lemah atau tidak berdaya.

Buckminter Fuller memberikan sebuah jawaban terhadap pertanyaan tersebut, bahwa “semua orang terlahir genius, tetapi proses kehidupan dan pendidikannya menghilangkan kegeniusan mereka”. Thomas Amstrong menyatakan hal yang sama bahwa “hilangnya kejeniusan pada anak akibat kesalahan proses pembelajaran sejak di lingkungan pendidikan informal (rumah oleh keluarganya) yang sering kurang memperhatikan atau mengabaikan ada kelainan emosional, kemiskinan, menjalani kehidupan dengan gaya menerabas atau jalan pintas, dan ideologi yang kaku, pendidikan formal (sekolah) seperti pengujian dan penilaian yang keliru, pemberian julukan dan penelusuran, metode dan strategi pembelajaran berbasis buku, kelelahan, dan peran media yang membangun citra stereotif, bahasa yang menjemukan, dan program kurang bermutu.   

Martin Seligman penggagas “Learned Helplessness” mengatakan hal senada bahwa ketidakmampuan atau ketidakberdayaan sebagai sebuah proses yang dipelajari. Ia menginternalisasi keyakinan bahwa apa yang dikerjakan tidak ada manfaatnya, hilangnya kemampuan mengendalikan peristiwa yang sulit, dan secara konstan menjadi hambatan definitif bagi pemberdayaan. 

Pendapat lain, John C. Maxwell (2013) dalam bukunya “Sometimes You Win Sometimes You Lose = LEARN” menyatakan bahwa menang atau sukses, kalah atau gagal, semua tergantung pada pembelajaran (learning), yakni konsep dan implementasi proses pembelajaran yang memperhatikan prinsip-prinsip berikut ini: (1) The Spirit of Learning is Humility; (2) This Foundation of Learning is Reality; (3) The First Step of Learning is Responsibility; (4) The Focus of Lerning is Improvement; (5) The Motivation of Learning is Hope; (6) The Pathway of Learning is Teachability; (7) The Catalyst of Learning is Adversity; (8) Opportunities for Learning is Problems; (9) The Prespective of Learning is Bad Experiences sebagaimana Aristoteles menyatakan, “The Roots of Education is Bitter, but the fruit is Sweet”; (10) The Price of Learning is Change; and (11) The Value of Learning is Maturity.

Peter F. Drucker (1997) dalam bukunya "The New Realities" menambahkan  bahwa seseorang tidak dapat membangun prestasi puncak (exellence) atau menjadi anak pemilik bintang di atas kelemahannya, sekalipun kelemahan itu sudah diperbaiki atau disembuhkan, seorang hanya dapat membangun prestasi puncak berdasarkan kekuatan (bakat, potensi, dan kecerdasan unik) yang dimilikinya. Dan itulah yang membedakan pendidikan di zaman Yunani yang dikesankan banyak orang zaman primitif dari pendidikan zaman yang kita sebut modern saat ini. Pendidikan di zaman Yunani adalah usaha sadar untuk membesarkan anak agar berprestasi atau memiliki bintang berfokus pada kekuatan, sehingga mereka unggul dalam bidang apapun. Berbeda dengan penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran di sekolah sekarang ini dimana guru lebih senang membesarkan anak berfokus pada kelemahan atau kekurangan si belajar. Contoh kecil, coba amati apa yang dilakukan oleh sebagian besar guru bimbingan dan konseling di sekolah. Mereka sering melaksanakan tugas mengahadapi anak yang "bermasalah", seperti melanggar tata tertib sekolah dan menunjukkan perilaku menyimpang lainnya, dan jarang mereka menghadapi atau memanggil anak yang menunjukkan kecerdasan unik untuk diarahkan mencapai prestasi puncak. Bukan hanya guru, sebagian besar orang tua pun membesarkan anak berfokus pada kelemahan anaknya bukan pada kekuatannya sebagaimana telah penulis uraikan di atas, misalnya memasukkan kelas privat setelah putra-putrinya memiliki nilai rendah atau tidak memberikan tambahan pembelajaran melalui berbagai privat setelah mengetahui prestasi anaknya adalah baik.

Harapan kita di saat merayakan Indonesia Emas di tahun 2045 nanti, bangsa ini dihuni oleh para anak pemilik bintang. Hal ini tergantung kepada kita dalam mempersiapkan mereka melalui proses pembelajaran yang hakikatnya adalah proses pembelajaran yang “Melahirkan Kegembiraan dalam Belajar” atau membangkitkan kejeniusan dalam diri anak melalui suasana pembelajaran yang menyenangkan, proses pembelajaran berpusat pada sibelajar (student center learning), antara lain pembelajaran berbasis potensi diri, berbasis gaya belajar dan kecerdasan ganda (multiple inteliegence) sebagaimana digagas oleh Howard Gardner dan dikembangkan oleh Thomas Amstrong dan berbasis kecakapan hidup. Dan pendidikan bermutu untuk semua warga negara Indonesia segera terwujud, Amiin.

(Penulis, Dosen FKIP Untan)

Aswandi

Penghobi membaca dan menulis ini lahir di Tebas Sungai pada 13 Mei 1958 dan memiliki motto hidup "Mencapai Muttaqiiin melalui Iman, ilmu dan amal". Pria yang menikahi Rusnawaty ini dikaruniai tiga anak.

Aswandi lahir dari pasangan Asy’ari (almarhum) dan Fatimah (almarhumah). Dosen FKIP Universitas Tanjungpura (PNS) itu tinggal di Jalan Danau Sentarum, Gang Pak Madjid 3/18 Pontianak.

Jenjang pendidikan dilalui Aswandi dengan menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Tebas Sungai (1971), MTs Gerpemi di Tebas (1974), SPG Negeri di Singkawang (1977), S1 FKIP Untan Pontianak (1984), S2 IKIP Malang (1993) dan S3 Universitas Negeri Malang (2001).

Karier pekerjaan Aswandi diawali dengan menjadi Guru SDN di Pontianak 1978-1986. Kemudian guru SMP-PGRI, Dosen FKIP UNTAN, Dosen Universitas Muhammadiyah Pontianak, Dosen STKIP PGRI Pontianak, Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pembantu Dekan I FKIP UNTAN, Dekan FKIP UNTAN kini Wakil Rektor Bidang Akademik Untan 2015-2019