Amplang Tembus Bali dan Yogyakarta

Amplang Tembus Bali dan Yogyakarta

  Sabtu, 21 May 2016 08:59

Berita Terkait

Camilan sehat khas Kabupaten Ketapang amplang tak pernah kehilangan penggemar. Selain dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat sebagai kudapan, amplang Kalimantan Barat juga populer sebagai buah tangan bagi wisatawan yang berkunjung ke provinsi ini. Kini makin banyak wirausaha rumah tanggan memproduksi amplang. Tak hanya di Ketapang, tapi juga daerah lain.

Aristono, Pontianak

BILA ada orang yang baru belajar membuat amplang, lantas langsung berani berjualan, kemudian berhasil, maka Sorhandi adalah orangnya. Pria 39 tahun ini baru pada tahun 2013 bisa membuat cemilan dari ikan tenggiri dan tepung kanji ini yang digoreng ini. Saat itu dia merasa penghasilannya dari berjualan bensin eceran dan pekerjaan serabutan lainnya tak cukup untuk membiayai kebutuhan hidup yang kian meningkat.

Lahir di Ketapang dan akrab dengan makanan amplang, dia berpikir untuk berbisnis di bidang ini. Walaupun sebelumnya dia sama sekali tak pernah membuatnya. “Kebetulan sepupu saya pandai membuat amplang. Saya minta diajari sama dia. Beberapa hari saya sudah bisa, tetapi saya tidak yakin benar dengan rasanya, apakah bisa diterima konsumen atau tidak. Tetapi beberapa teman yang coba, bilang enak,” sebutnya kepada Pontianak Post.

Sorhandi pun memberanikan diri memulai usahanya. Tak mau tanggung-tanggung, hari pertama berjualan dia langsung membeli 10 kilogram ikan tenggiri. Siapa sangka, ternyata amplang yang hanya dijualnya kepada kerabat dekat dan dititipkan ke warung-warung kecil tersebut habis hanya dalam tempo beberapa hari saja. Semangatnya kian membara.

Dia adalah orang yang mau belajar. Lewat Inkubator Bisnis Bank Indonesia, Sorhandi belajar arti pentingnya brand produk dan strategi pemasaran. Dengan segera dia menciptakan merek Oky untuk amplang kemasannya. Tak hanya dititipkan ke supermarket dan pusat oleh-oleh di berbagai daerah di Kalbar, dia juga menjual produknya secara online. Bahkan Amplang Oky juga sudah dijual di toko oleh-oleh di Bali dan Yogyakarta.

Saat ini produksi usahanya terletak di Jalan Pak Benceng No 2A Kota Baru Pontianak. Sedangan untuk rumah pribadinya sendiri di Pal 9 Perumahan Cika Permata Asri Pontianak.

Untuk produksinya, saban hari Sorhandi membeli rata-rata 35 kilogram ikan tenggiri kiriman dari Ketapang dan Pasar Flamboyan. Namun apabila permintaan sedang tinggi-tingginya, dia mampu menghabiskan hingga 100 kilogram per hari. “Biasanya kalau Lebaran dan Natal itu permintaan sangat tinggi. Berapapun yang kami buat pasti habis terjual,” katanya.

Untuk harga, dia membanderol Rp 100 ribu per kg. Sementara dalam kemasan 100 gram yang dijual dihargai Rp 10 ribu per bungkus. Amplang Oky ini keawetannya mencapai tiga bulan selama disimpan tempat tertutup. Hanya saja, jangan dikira dia selalu untuk besar. Pasalnya harga ikan tenggiri rawan berfluktuasi. Sedangkan harga jual Amplang Oky tetap. am menjalankan bisnis cemilan Amplang, Sorhandi mengaku kesulitan bahan baku Ikan Tenggiri, selain tingginya harga ikan tersebut. “Bila harga ikan di atas Rp 50 ribu per kilo, maka usaha saya ini hanya mendapat untung sedikit bahkan bisa merugi,” terangnya.

Sorhandi adalah satu dari banyak orang yang sukses berbisnis amplang. Di Pontianak ada pula puluhan pemain amplang lainnya. Mardiyah misalnya. Pemilik brand Amplang Ikan Tenggiri ini mampu menjual amplang sebanyak 30 kotak per hari. “Satu kotak kemasan amplang saya berisi 100 gram. Permintaannya memang masih sekitar Pontianak. Tetapi saya ingin lebih dikenal lagi,” ujarnya warga Jalan Gusti Hamzah, Pontianak ini.

Berbeda dengan Herman (30). Warga Desa Kapur, Kubu Raya ini berjualan amplang hanya untuk sambilan. Sehari-hari dia adalah sekuriti di sebuah perusahaan swasta. “Lumayan untuk tambahan penghasilan. Pembelinya cukup banyak, orang-orang di sekitar kantor. Lumayan lah untuk nambah-nambah penghasilan,” sebutnya. (**)

Berita Terkait