Ambil yang Baik, Buang yang Buruk, Ciptakan yang Baru

Ambil yang Baik, Buang yang Buruk, Ciptakan yang Baru

  Selasa, 29 March 2016 10:06   1

Oleh: Sahniar, S.Pd.

Penulis terinspirasi dengan pepatah: “ambil yang baik, buang yang buruk”. Namun penulis menambahkan kalimat terakhir dengan “ciptakan yang baru” sehingga menjadi pepatah yang ‘baru’ yaitu “Ambil yang baik, buang yang buruk dan ciptakan yang baru”. Artinya, segala apa saja yang baik harus diambil untuk dipertahankan dan dilanjutkan dengan meninggalkan hal buruk yang pernah dilakukan agar tidak terulang kembali untuk dijadikan sebagai pembelajaran, serta dengan menciptakan sesuatu hal baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya atau yang disebut dengan istilah inovasi.

Sepertinya judul opini di atas sangat relevan untuk diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, terutama dalam hal pemerintahan pada umumnya dan pemimpin pada khususnya. Betapa tidak, hidup ini adalah sebuah dinamika sosial yang terus bergulir silih berganti. Generasi sekarang pasti akan menjadi pemimpin di masa depan. Begitulah hukum alam (sunnatullah), satu generasi akan digantikan oleh generasi berikutnya. Jika generasi yang sekarang ini baik, niscaya pemimpin di masa yang akan datang juga baik. Namun sebaliknya, jika generasi sekarang buruk, maka bisa dipastikan pula pemimpin yang akan datang juga buruk.

Generasi penerus yang bijak tentu akan mengambil contoh yang baik dan mengabaikan hal-hal yang buruk serta berusaha berinovasi untuk ‘menciptakan’ hal baru yang belum pernah ada/terjadi dari generasi sebelumnya. Oleh karena itu, sebagai generasi penerus harus memiliki prinsip “ambil yang baik, buang yang buruk, dan ciptakan yang baru”.

Ambil yang Baik

Di era kemerdekaan, sosok dan wibawa seorang Seokarno sangat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia, tak terkecuali penjajah dan tokoh luar negeri pada waktu itu. Kemerdekaanpun dapat direbut dari tangan penjajah berkat rahmat Allah SWT. dan dengan dorongan serta tekad yang kuat dari masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Semangat seperti inilah yang patut dicontoh oleh kita di masa kini dan nanti. Tantangannya adalah bagaimana Indonesia bisa keluar dari kesulitan ekonomi dan mewujudkan kesejahteraan rakyat yang adil, makmur dan sentosa serta disegani oleh negara luar. Apalagi sekarang ini sudah diberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Pada pemerintahan Soeharto atau yang lebih dikenal dengan zaman orde baru pernah terjadi kelebihan pangan terutama beras. Indonesia pada waktu itu menjadi salah satu negara pengekspor beras terbesar di dunia. Pemerintah dan pemimpin sekarang dan yang akan datang harus mampu mewujudkan ketahanan pangan secara nasional dengan tetap memperhatikan rakyat jangan sampai ada yang kelaparan atau pengidap penyakit busung lapar.

SBY diangkat menjadi presiden Indonesia dengan dipilih langsung oleh rakyat, tidak seperti sebelumnya, pemilu dilaksanakan hanya dengan mencoblos partai politik, tetapi tidak tahu siapa yang nantinya akan menjadi presiden dan anggota dewan. Istilahnya “membeli kucing dalam karung”, tidak tahu bagaimana bentuk dan rupa ‘kucing’ itu karena di dalam karung. Begitulah dunia politik sebelum era reformasi, rakyat hanya disuruh mencoblos, namun yang duduk di parlemen dan yang menjadi presiden ditentukan oleh pusat.

Pada pemerintahan SBY, ada beberapa lembaga independen yang mengurusi permasalahan-permasalahan tertentu seperti Badan Nasional Narkotika (BNN), Densus 88 penumpas terorisme, Komisi Pemilihan Umum (KPU), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan masih banyak lagi yang lainnya.

Buang yang Buruk

Tumbangnya rezim Soeharto adalah kentalnya unsur Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Kelemahan lainnya pada pemerintahan Soeharto adalah keterbatasan pers dalam melakukan peliputan berita karena tidak diterbitkannya UU kebebasan pers. Kebebasan mengemukakan pendapat di muka umum oleh pemerintahpun dikekang dan dibatasi.

Perkelahian antaranggota dewan juga hal buruk yang tidak patut ditiru di masa yang akan datang. Apalagi ada oknum yang maju ke meja pimpinan DPR disertai melempar botol minuman. Termasuk anggota dewan yang sering mangkir dalam rapat, juga yang sering kedapatan tidur-tiduran. Parahnya lagi ada oknum DPR yang mengunggah video porno saat sidang rapat berlangsung, na’udzubillah.

Hal buruk lainnya yang harus ditinggalkan adalah pembesar partai dan koleganya yang terlibat kasus korupsi, gratifikasi, pencucian uang dan sejenisnya. Tentu saja hal ini terjadi akan berimbas pada turunnya kepercayaan rakyat (konstituen) pendukung partai tertentu, sehingga hasil survey oleh beberapa lembaga survey menunjukkan merosotnya rating partai yang anggota dan pengurusnya ikut terlibat dalam kasus kriminalitas dan tindak pidana.

Ciptakan yang Baru

Mengambil yang baik pada pemerintahan sebelumnya memang layak untuk dipertahankan dan diteruskan sepanjang masih sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Tantangannya adalah pemerintah sekarang dan yang akan datang harus berupaya berinovasi untuk mewujudkan dan menciptakan hal-hal baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Menurut hemat penulis, apa yang dilakukan oleh presiden Joko Widodo (Jokowi) merupakan salah satu inovasi dengan menciptakan hal yang baru dan belum pernah ada sebelumnya, sehingga masyarakat merasa hal yang dilakukannya itu bagus, apa itu, apa lagi kalau bukan blusukan. Artinya, Presiden Jokowi lebih memilih bekerja turun ke lapangan dan tidak hanya ‘duduk manis’ di kursi empuk di kantor. Hal ini dilakukan ketika menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta dan walikota Solo. Konon katanya, ada yang bilang bahwa apa yang dilakukan Jokowi selama ini sebenarnya sudah pernah dilakukan oleh orang-orang pendahulunya namun tidak terekspos ke media.

Contoh lain adalah dibentuknya satu kementerian khusus kemaritiman dengan maksud agar lalu lintas laut di Indonesia lebih aktif dengan membangun beberapa pelabuhan yang representatif di beberapa titik yang strategis sebagaimana yang pernah terjadi di zaman kerajaan. Mudah-mudahan ada terobosan dan/atau hal baru dari seorang pemimpin bangsa yang memang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Sosok berikutnya yang patut dicontoh dalam hal menciptakan hal yang baru adalah Bapak Dahlan Iskan. Mantan Dirut PLN dan mantan Menteri BUMN itu adalah satu-satunya menteri yang tidak memerlukan jasa supir pribadi untuk urusan kementerian selama beliau menjabat. Bapak Dahlan Iskan juga yang ‘berani’ merampingkan pos-pos atau jabatan-jabatan penting di kementerian BUMN yang menurut beliau pemborosan anggaran jika tidak dirampingkan.

Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal baik dari pemimpin/pejabat terdahulu di negeri ini yang patut dipertahankan oleh pemimpin/pejabat yang sekarang. Tentu saja masih banyak pula hal-hal yang buruk dari pemimpin negeri ini terdahulu untuk tidak ditiru dan dibuang jauh-jauh oleh pemimpin yang sekarang. Semoga!

*) Guru SMP Negeri 7 Tebas
Kabupaten Sambas.