Ambil Nilai Tragedi Mandor

Ambil Nilai Tragedi Mandor

  Rabu, 29 June 2016 09:30
TABUR BUNGA: Wakil Gubernur Kalbar Christiandy Sanjaya didampingi para anggota Forkorpimda Kalbar melakukan tabur bunga di salah salah cungkup (kuburan masal) yang berada di lokasi Makam Juang Mandor, kemarin. HUMPROV KALBAR FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Meski usia yang tidak muda lagi, Juliana masih semangat berziarah ke Makam Juang Mandor siang kemarin. Kedatangannya bertepatan dengan peringatan Hari Berkabung Daerah pada tanggal 28 Juni 2016. 

Wanita berusia 82 tahun itu, adalah salah seorang ahli waris dari korban tragedi berdarah mandor yang terjadi tahun 1942 hingga 1944. Dia datang bersama keluarganya. 

Usai upacara di Taman Makam Juang Mandor, Juliana menabur bunga di areal komplek pemakaman. Ada 10 makam yang terpisah jarak antara satu dan lainnya. Masing-masing makam dibuatkan berbentuk rumah tanpa diri. 

“Bapak dan abang saya dijemput ketika kami semua sedang berdoa,” cerita Juliana kepada wartawan koran ini. 

Sebelum dijemput paksa oleh tentara Jepang, Juliana diminta oleh bapaknya agar terus belajar dengan baik. Dan ketika itu, ceritanya, sang ayah memang sudah mengetahui jika dirinya akan menjadi korban dalam tragedi berdarah itu. 

“Bapak sudah tahu dan beliau meminta agar kami terus sekolah,” kenangnya. 

Wakil Gubernur Kalimantan Barat Christiandy Sanjaya yang memimpin upacara dan ziarah Makam Juang Mandor Kabupaten Landak itu menilai jika itu adalah peristiwa yang luar bisa.

Sebab mengingat jumlah korban yang tidak sedikit. Hanya dalam waktu dua tahun sudah 21 ribu nyawa yang melayang akibat kekejaman tentara Jepang. Dan para korban itu, sebut dia, adalah tokoh-tokoh sentral yang berusaha membangun Kalbar.

Karena itu dia meminta agar semua pihak mengambil nilai penting dalam tragedi berdarah tersebut. Menurutnya semangat yang perlu diambil dan ditanam dalam jiwa itu adalah kebersamaan, kepintaran dan keikhlasan. Dengan mengambil semangat itu, jelas dia, maka peringatan satu tahun sekali ini tidak hanya sekedar mengenang jasa para korban saja. 

Akan tetapi, tambah dia, dengan semangat itu maka seluruh lapisan masyarakat bergotong royong membangun Kalimantan Barat. 

“Dulunya para pejuang dengan semangat kebersamaan, kepintaran dan keikhlasan mau membangun Kalimantan Barat. Sekarang dengan semangat ini mari disimpan dalam jiwa ini untuk generasi penerus kita,” kata dia. 

Terkait dengan permintaan maaf dari pihak Jepang, Christiandy menilai jika persoalan itu sudah diakomodir pemerintah pusat melalui Kementerian Luar Negeri. 

Selain itupun Christiandy mengimbau agar masyarakat memasang bendera tiang setiap tanggal 28 Juni sebagai wujud tanda berkabung dalam peristiwa tersebut.

“Bagi yang belum tahu, maka itu menjadi tugas dinas terkait untuk mensosialisasikan. Tapi kantor pemerintah sudah diwajibkan agar mengibarkan bendera setengah tiang agar semua menyadari jika ini adalah peristiwa besar,” pungkasnya.  

Muatan Lokal di Sekolah

Akademisi Pendidikan Universitas Tanjungpura Dr. Aswandi menyatakan jika sudah sejak lama dirinya mengusulkan agar peristiwa itu dijadikan muatan lokal dalam proses pembelajaran di sekolah. 

Usulan itu disampaikannya karena mengingatkan banyak hal yang bisa diangkat dalam peristiwa berdarah tersebut. 

“Setiap ada kejadian sejarah pasti ada yang dipelajari. Dan saya memang sudah lama mengusulkan itu,” kata Aswandi usai upacara peringatan hari berkabung daerah di Taman Makam Juang Mandor siang

Selain itupun, lanjut dia, masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui tentang peristiwa ini. Hal itu dialaminya ketika bertandang ke Negara Jepang. 

“Saya pernah ke Jepang dan bertanya ke Kedutaaan Indonesia di sana. Mereka tidak tahu dengan tragedi ini. Padahal ada puluhan ribu yang dibunuh,” kata dia.

Menurut Aswandi kondisi seperti itu bisa terjadi karena peristiwa ini tidak tersosialisasi dengan baik. Padahal, tambahnya, nilai-nilai ini mesti diajarkan dan internalisasikan secara luas. 

“Jika tidak percuma saja, peringatan seremonial ini dilakukan setiap tahun,” ujarnya.

Selain itupun, Aswandi menilai ini peristiwa juga berdampak pada indeks pembangun manusia (IPM) di Kalimantan Barat. Satu generansi dihabiskan maka sangat sulit untuk memunculkan  kembali sebab sejarah sudah terputus akibat tragedi tersebut.

“Orang pintar dibunuh secara keji. Ini harus jadi pelajaran belum lagi yang lain yang banyak diungkapkan dari peristiwa ini. Banyak cerita menarik yang bisa dikaji,” tuturnya. (mse)

Berita Terkait