AM Fatwa Tutup Usia, Oso Kehilangan Sosok Petarung

AM Fatwa Tutup Usia, Oso Kehilangan Sosok Petarung

  Jumat, 15 December 2017 10:00
AM FATWA WAFAT: Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) dan Ketua MPR, Zulkifli Hasan berdoa di sisi jenazah anggota DPD, AM Fatwa saat melayat di rumah duka kawasan Pejaten, Jakarta, Kamis (15/12). AM Fatwa wafat pada usia 78 tahun di Jakarta. MIFTAHUL HAYAT/JAWAPOS

Berita Terkait

Anggota DPD AM Fatwa Tutup Usia

JAKARTA - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Andi Mappetahang (AM) Fatwa meninggal dunia di Rumah Sakit MMC, Jakarta, Kamis (14/12) sekitar pukul 6.25 karena sakit. Kepergian sosok yang dikenal sebagai aktivis pemberani itu meninggalkan duka mendalam bagi para koleganya. 

Salah satu tokoh yang merasa kehilangan sosok AM Fatwa adalah Ketua DPD Oesman Sapta Odang (OSO). "Dia adalah seorang petarung," kata OSO di Gedung Parlemen, Jakarta, Kamis (14/12).  

OSO mengenang, Fatwa kalau sudah mengambil keputusan maka tidak akan berubah. Termasuklah ketika memimpin sidang yang memutuskan Oso menjadi ketua DPD. "Saya juga salah satu produksinya. Dia yang memimpin sidang dan memutuskan sehingga saya menjadi ketua DPD," jelasnya. 

OSO mengaku masih sempat berbicara lewat telepon dengan Fatwa sehari sebelum kepergian salah satu deklarator Partai Amanat Nasional (PAN) itu. Fatwa mengabarkan bahwa dirinya usai berobat dan akan masuk rumah sakit. OSO pun kaget mendengar kabar duka keesokan harinya. "Ya akhirnya kami harus mengikhlaskan beliau. Saya, terutama keluarga dan seluruh anggota DPD RI dan MPR RI mengucapkan turut berduka cita semoga arwahnya ditempatkan di sisi Allah SWT," kata wakil ketua MPR itu. 

Senator asal Kalimantan Barat ini juga mengaku ada pesan yang dititipkan Fatwa kepadanya. OSO mengatakan Fatwa pernah datang dengan dokternya saat ingin berpamitan. "Yang kemudian mengatakan bahwa, "saya menitipkan keluarga saya". Tapi, saya tidak terpikir apa arti dari titipan ini," kata OSO. Dia mengaku sangat tidak mudah mencari sosok seperti Fatwa yang konsisten dengan sikap dan perjuangannya. OSO menegaskan Fatwa merupakan salah satu penggerak reformasi. Berbagai cobaan berat dalam menjalani karier dan perjuangan pernah dialami Fatwa. "Kalau dengar cerita, lebih berat lagi. Pernah disiksa dan semacamnya di zamannya. Dia selalu cerita dan banyak bikin buku-buku," ungkapnya.  

Sebelum dibawa ke rumah duka di kawasan Condet, Jakarta Selatan, jenazah Fatwa sempat disinggahkan ke gedung MPR/DPR/DPD untuk penghormatan terakhir. 

“Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Berduka untuk wafatnya ayah, sahabat, sekaligus teladan kami dalam berjuang Pak AM Fatwa,” kata Ketua MPR Zulkifli Hasan saat memberikan penghormatan terakhir sekaligus melepas jenazah AM Fatwa di Gedung MPR , Kamis (14/12). 

Zulkifli merasa sangat kehilangan atas meninggalnya Fatwa. Zulkifli sudah mengganggap sosok  Fatwa sebagai ayah, senior sekaligus teladan dalam berjuang. Zulkifli mengatakan Indonesia kehilangan sosok pejuang yang teguh pada prinsip, berani membela kebenaran dan lurus di jalan pengabdian. Karena itu, Zulkifli mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk mendoakan Fatwa agar husnul khatimah dan diterima di sisi Allah. “Mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya untuk almarhum Pak Fatwa. Semoga Allah berikan tempat terbaik untuk beliau di sisi-Nya," imbuh Zulkifli. 

Sosok Fatwa juga sangat luar biasa di mata Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. Fahri sudah lama mengenal Fatwa di banyak momentum. Fatwa juga pernah tinggal lama di kampung Fahri, di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. "Sebagai tokoh Bugis di Jakarta tentu kami juga sama-sama memiliki darah Bugis kelahiran Bone," kata Fahri, Kamis (14/12). Saat tiba di Jakarta, Fahri mengaku sudah mengenal Fatwa sebagai sosok yang melegenda. Fatwa terlibat dalam peristiwa-peristiwa politik pada masa lalu, baik orde lama maupun orde baru. "Beliau termasuk yang dipenjara lama karena tuduhan-tuduhan politik di masa lalu. Lebih dari 12 tahun menjalani penjara yang vonisnya seumur hidup,"  kata Fahri. (ody)

Berita Terkait