Aloysius Giyai, Dokter Pertama Papua yang Berbagi Pengalaman Kesehatan via Buku

Aloysius Giyai, Dokter Pertama Papua yang Berbagi Pengalaman Kesehatan via Buku

  Kamis, 17 December 2015 07:59

 
Buku pertama Aloysius Giyai yang didasarkan pada fakta dan pengalamannya menjadi pegangan luas praktisi kesehatan di Papua. Dia tak ingin anak-anak Papua bernasib seperti dirinya: kehilangan lima saudara karena penyakit.LUSIA ARUMINGTYAS, Biak

PESTA Natal yang semestinya indah malah berujung memalukan bagi anggota keluarga Giyaibo Raymondus Giyai. Mereka dilarang mengikuti pesta. Gara-garanya, tak membawa sarden dan mi seperti yang diwajibkan para tetua adat.
Karena malu, kecewa, dan marah, Raymondus pun bersumpah di hadapan puaknya di Kampung Onago, Kabupaten Benyai, Papua. ”Saya akan menyekolahkan anak-anak saya agar tak hanya bisa membeli kedua barang itu, tapi juga bisa langsung melihat pembuatannya,” kata Raymondus.
Dengan kata lain, sekolah setinggi-tingginya dan menduduki jabatan terhormat. Ternyata, 54 tahun berselang setelah Natal kelam pada 1961 tersebut, sumpah Raymondus itu terwujud.
Salah seorang anaknya, Aloysius Giyai, tak hanya telah menyandang gelar dokter gigi dan magister kesehatan dari perguruan tinggi terpandang, Universitas Airlangga, Surabaya. Tapi juga dipercaya sebagai kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua sejak 2014.
Alo –sapaan akrab Aloysius– memang baru lahir sebelas tahun setelah kejadian yang mempermalukan keluarganya itu. Tapi, insiden tersebut melekat di benaknya berkat cerita sang bapak yang lantas diabadikannya di buku yang ditulisnya, Memutus Mata Rantai Kematian di Tanah Papua: Bercermin pada Fakta RSUD Abepura.
Buku yang terbit pada 2012 tersebut sekaligus menjadikan ayah empat anak itu dokter asli Papua pertama yang melahirkan buku. Karya kedua pria kelahiran 8 September 1972 tersebut menyusul diluncurkan bulan lalu, bertajuk Melawan Badai Kepunahan.
Alo percaya, lewat buku, perjuangannya untuk meningkatkan kondisi kesehatan di Papua bisa terbantu. ”Menulis itu untuk keabadian. Saya menulis agar generasi selanjutnya tahu apa yang kami perjuangkan di Papua,” ungkapnya.
Buku pertama memadukan racikan data dan fakta yang dibingkai kisah menyentuh seorang dokter asli Papua yang dipercaya untuk menduduki jabatan tinggi. Tak ada yang dilebih-lebihkan. Semua berfondasi pada pengalamannya menjadi direktur utama RSUD Abepura, Jayapura.
Pengalaman yang tak semuanya menyenangkan. ”Ketika saya diangkat (sebagai direktur utama, Red), banyak pihak menghina dan merendahkan. Ada yang bilang, kamu itu tidak bisa kerja atau orang Papua susah pegang jabatan tinggi,” ungkap pria yang kini menjabat kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua.
Alo mengaku menerima dengan lapang dada semua kritik dan cercaan itu. Dia memilih menjawabnya dengan kerja keras. Alhasil, di bawah kepemimpinannya, RSUD Abepura menjadi barometer rumah sakit di Papua.
”Kami pun mendapatkan penghargaan sebagai rumah sakit paling bersih,” ujarnya.
Fakta memang menjadi salah satu kunci dalam penyusunan buku yang memakan waktu hingga 1,5 tahun tersebut. Alo tak mau bukunya teoretis. Dia ingin karyanya bertumpu pada hasil penelitian dan tindakan selama ini.
”Prinsipnya adalah tulis apa yang sudah dikerjakan,” tuturnya.
Tak heran kalau buku pertama Alo itu menjadi pegangan luas kalangan paramedis di Papua dalam mengambil tindakan. Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Papua Beeri Wopari bahkan menyebutnya sebagai ”kitab suci” bagi praktisi kesehatan di provinsi tersebut.
”Sebab, berisi fakta yang ada di lapangan dan memberikan solusi,” jelasnya.
Setelah buku pertama cukup memberikan dampak dalam pelayanan bagi kesehatan di Papua, Alo dan rekan-rekannya pun menginisiatori sebuah kelompok: Unit Percepatan Pembangunan Kesehatan Papua (UP2KP). ”Ini semacam ’DPR’-nya kesehatan Papua. Memperjuangkan hak rakyat,” tuturnya.
Pemahaman mendalam tentang kondisi kesehatan di Papua terbangun karena Alo benar-benar memulai karir dari bawah. Dimulai dengan menjadi staf puskesmas pada 2002 sampai kini dipercaya memimpin Dinas Kesehatan Papua.
Dari pengalaman itu, Alo tahu beragam persoalan klasik yang menghadang peningkatan kondisi kesehatan di provinsi di ujung timur Indonesia tersebut. Mulai tantangan geografis, kultur sosial, sampai kemampuan ekonomi.
Apalagi, Alo juga merasakan sendiri kepedihan karena kehilangan saudara-saudaranya. Dari delapan bersaudara dengan Alo sebagai bungsu, hanya tiga orang yang masih tersisa sekarang. Lainnya meninggal karena penyakit ”khas” Papua: kolera dan malaria.  
”Karena itu, keinginan saya hanya satu, anak-anak Papua pada masa mendatang tidak mengalami sakit, apalagi meninggal seperti saudara-saudara saya,” tutur Alo.
Bagi dia, gebrakan menuju Papua sehat, bangkit, mandiri, dan sejahtera memerlukan dorongan dari lintas sektor. ”Papua itu ktitis. Ibarat orang Papua itu mati tiga, non-Papua mati satu,” jelasnya.
Dengan rasio tersebut, dia memprediksi, pada 2030 tanah kelahirannya tersebut sangat minim warga asli. Perbandingannya 1:3. Kekhawatiran terhadap badai kepunahan itu pula yang mendasari lahirnya buku keduanya.  
Buku kedua yang digarap selama setahun itu mencoba menawarkan perspektif baru dalam melihat kondisi kesehatan di Papua. Yakni secara sederhana, revolusioner, dan berkelanjutan. Menurut dia, dari atas kursi empuk kekuasaan, para elite perlu melihat bagaimana realitas yang terjadi di masyarakat.
Fokus utama dalam buku setebal 796 halaman itu terkait dengan program ibu dan anak, imunisasi, sanitasi lingkungan, serta penerapan STBM (sanitasi total berbasis masyarakat). Tujuannya, indeks pembangunan manusia di Papua bisa meningkat. Begitu juga angka harapan hidup di Papua. Dari saat ini 65,4 tahun menjadi 70 tahun pada 2018. Sedangkan untuk skala nasional, rata-rata angka harapan hidup sudah mencapai 72 tahun.
”Buku itu akan saya bagi gratis ke puskesmas, kepala kampung, sekolah, dan pelayan kesehatan,” katanya. (*/c11/ttg)