Alihfungsikan Terminal Kota Putussibau

Alihfungsikan Terminal Kota Putussibau

  Senin, 22 February 2016 08:26
SEPI : Terminal kota yang sudah lama tidak diperhatian tanpak sepi.FOTO MUSTA’AN

Berita Terkait

PUTUSSIBAU—Sejak dibangun dan dibuka, terminal dalam kota Putussibau tidak berfungsi sebagai mana mestinya. Untuk itu masyarakat meminta terminal kota Putussibau agar segera dialihfungsikan ketimbang tidak mendapatkan perhatian dan kondisinya memprihatinkan. Terutama untuk pasar kota yang hingga kini pedagang kaki lima (PKL) masih menyewa pasar yang di kelola pihak suwasta.

Seperti yang diungkapkan Tambunan warga Putussibau Selatan, terminal kota sudah tidak layak disebut terminal. Selain kenderaan yang bongkar muar barang dan menurunkan penumpang hanya beberapa armada. Angkutan umum kota Putussibau, baik antar kota kecamatan maupun antar kota dalam provinsi banyak memilih bongkar muat barang dan penumpang di rumahnya masing-masing.

“Pemerintah sudah tidak memperhatikan terminal ini. Buktinya, terminal ini sudah lama tak diperbai oleh pemerintah. Lebih baik pemerintah memikirkan untuk mengalihfungsikan terminal tersebut daripada terkesan dibiarkan seperti ini,” terang tambunan. Alih fungsi tersebut, bisa saja dijual atau disewa kepada pihak ketiga, untuk lokasi pasar, rumah walet, supermarket, hotel atau yang lainnya.

Menurut Tambunan, jika terminal kota ini dialihfungsikan, tentu akan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD). Demikian juga dengan terminal antar kota dalam provinsi di Kedamin Kecamatan Putussibau Selatan yang menghabiskan anggaran sekitar Rp 2 Milyar juga difungsikan. Intuk itu dia berharap terminal Kedamin segera difungsikan, semua bus wajib bongkar muat diterminal tersebut.

"Kalau tidak dialihfungsikan, terminal kota dan terminal kedamin lebih baik ditutup saja. Terutama terminal dalam kota ini sudah tidak layak untuk difungsikan," ungkapnya. Senda dengan Tambunan, yakni Sariana pemilik kios di terminal kota mengaku sudah 11 tahun ia berjualan di terminal Kota. Sejak diresmikan Bupati pada tahun 2003, hingga hari ini terminal tersebut belum pernah diperbaiki.

Semenatara, sambung Sariana, ia bersama teman-temannya yang tinggal diterminal  setiap bulan wajib membayar retribusi Rp 120 ribu perbulan, sementara perbaikan fasilitas maupun kios tidak ada. Saat ini, Sariana mengaku pendapatannya sudah jauh berkurang. “Sudah beberapa tahun belakangan ini penghasilannya hanya Rp 70 ribu setiap harinya karena pengunjung sepi,” paparnya.

Berbeda dengan Tambunan, Sarian mengaku tidak sependapat jika terminal kota dialihfungsikan, lebih baik dimanfaatkan sebagaimana terminal. Menurutnya terminal masih sangat layak difungsikan jika pemerintah benar-benar melakukan perbaikan terminal. Jika ingin mengalihfungsikan terminal kota tentunya pemerintah harus menyediakan terminal yang baru lagi bagi angkutan pedesaan.(aan)

 

Berita Terkait