Albiner Sitompul, dari Istana Kepresidenan ke Panggung Drama Musikal

Albiner Sitompul, dari Istana Kepresidenan ke Panggung Drama Musikal

  Rabu, 28 Oktober 2015 10:38
BERLATIH. Albiner Sitompul ditemui di Balai Latihan Kesenian Jakarta. Foto Fedrik Tarigan/Jawa Pos

Berita Terkait

Tanpa background teater, Albiner Sitompul memberanikan diri menyutradarai drama musikal lewat penghayatan skenario dan adegan demi adegan. Bertema refleksi Sumpah Pemuda, dia juga berharap bisa memanggungkannya di berbagai daerah. NORA SAMPURNA, Jakarta

MENGENAKAN kemeja putih berlengan panjang dan celana hitam, Albiner Sitompul duduk bersila di dalam ruangan Balai Latihan Kesenian, Jakarta. Ditemani secangkir kopi, dengan sabar dia menunggu para pemain bersiap untuk latihan dan kru menyiapkan properti malam itu (20/10).

Beberapa saat kemudian dia memberikan aba-aba. ”Yuk, kita latihan satu babak sebelum break magrib,” ujar pria yang pangkat militernya kini brigadir jenderal itu.

Mantan kepala Biro Pers Istana Kepresidenan itu memang tengah sibuk mempersiapkan drama musikal bertajuk Jambar Ni Parsubang. Drama buat perayaan Sumpah Pemuda itu akan dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, nanti malam.   

Karena itu, malam itu pandangannya sangat terfokus untuk memperhatikan adegan demi adegan yang dimainkan sambil mengatur tempo. Mengarahkan kapan saatnya musik masuk untuk mengiringi adegan.

Sesekali sosok berpostur tegap tersebut berdiskusi dengan pria berambut panjang dikepang yang duduk di sampingnya. Pria itu adalah Eddie Karsito, seniman yang kerap memproduksi pertunjukan teater dan drama.

Eddie-lah yang meyakinkan bahwa Albiner mampu menyutradarai pertunjukan drama musikal tersebut. Idenya memang datang dari Albiner. Juni lalu, saat masih menjabat Kabiro Pers, Media, dan Informasi, pria kelahiran 23 Februari 1954 tersebut ingin menyiapkan sesuatu untuk menyambut peringatan Sumpah Pemuda.

”Saya khawatir, 28 Oktober tidak ada yang menyelenggarakan acara. Sebab, fokus orang lebih banyak ke peringatan 17 Agustus,” papar Albiner.

Misi yang diemban adalah refleksi momen Sumpah Pemuda 87 tahun silam sekaligus kembali memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Media yang dipilih adalah seni pertunjukan melalui drama musikal yang dimainkan kalangan muda.

Lalu, apakah Albiner punya latar belakang seni teater? ”Ada, teater kehidupan langsung, ha ha ha,” ucapnya.

Berangkat dari ide tersebut, dia lantas berusaha mewujudkannya. Terlebih, sejak tidak lagi bertugas di biro pers istana, dia punya waktu yang lebih luang. Tapi, di tengah perjalanan, dia sempat mengalami stagnasi.

Padahal, waktunya sudah mendesak, makin dekat dengan Oktober. Akhirnya, pada 20 September lalu, lewat perantaraan seorang teman, Albiner menemui Eddie di Cibubur.

Dari diskusi itu, Eddie mengeksplorasi gagasan Albiner dan meyakinkan mantan birokrat tersebut untuk menjadi sutradara. ”Drama musikal ini akan menjadi yang pertama disutradarai oleh orang dengan background militer dan birokrat,” tutur Eddie, menyemangati.

Dia pun setuju menjadi supervisor produksi untuk membantu Albiner. ”Dari situ, saya menghayati diri, membaca lingkungan, situasi, budaya. Kembali ke skenario, terus dihayati adegan per adegan,” lanjut Albiner.

Pementasan tersebut juga didukung sejumlah seniman profesional. Antara lain Albert Indra (line producer), Makmun Sitanggang (chief organizer), dan Kohar Kahler (music director). Selain mereka, ada Serip Airmas, Gusti Mayani, Vita Valeska (asisten sutradara), kelompok musik Batak Bona Gondang, dan Budi Klontong (artistic director). Juga Dewi Sulastri serta putranya, Bathara Saverigadi (koreografer).

Bakal tampil pula para aktor dan aktris muda seperti Ikaruz Wulan, Jerio Jeffry, Yulieta Pasaribu, Deliana Siahaan, Beatrix Sinaga, Rudy Tornado, dan Muh. Zaini. Drama tersebut diproduksi Gabema (perkumpulan besar masyarakat Tapanuli Tengah) Sibolga dan mantan Kepala Badan Intelijen Negara Letjen TNI (pur) Marciano Norman sebagai penasihat acara.

Judul Jambar Ni Parsubang diambil dari bahasa Batak. Dalam kehidupan masyarakat Tapanuli Tengah dan Sibolga, maknanya memberi dan menerima.

Bila diartikan ke dalam seni drama, terkandung makna harmoni. Ikrar teguh untuk melakukan sesuatu demi Indonesia yang berdaulat dengan keragaman suku, etnis, agama, dan latar budaya tapi tetap damai dalam harmoni.

Drama itu mengangkat cinta. Bukan sekadar cinta ala remaja, tapi cinta sebagai roh kehidupan. Bahwa hidup manusia disebabkan adanya cinta. Cinta juga menjadi kekuatan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan. ”Konflik sebesar apa pun bisa diselesaikan dengan cinta,” terang Albiner. 

Dalam budaya Batak, ditanamkan cinta. Hormat kepada atasan, mengasuh kepada bawahan, dan bersahabat dengan yang setara. Hal itu ingin dia sampaikan dalam cerita tersebut.

Drama itu dikemas dengan latar Sibolga, menggambarkan keberagaman budaya, mulai Batak, Jawa, Padang, Sunda, keturunan India, Arab, hingga Tionghoa. Meski memiliki latar agama yang berbeda seperti Islam, Kristen, dan Khonghucu, mereka tetap bersatu.

”Ini bukan hanya untuk masyarakat Batak, tapi untuk seluruh bangsa Indonesia. Ini cerita kehidupan,” lanjutnya.

Elemen budaya Batak dia sebut ”hanya” 30–40 persen. Ada elemen Melayu, Tionghoa, Jawa, Arab, dan banyak lainnya.

Kisah Jambar Ni Parsubang bermula dari pertemuan Jamila dan Parlaungan. Jamila adalah perempuan cantik putri kiai. Sedangkan Parlaungan anak pendeta. Dia harus lari dari kampungnya demi memperjuangkan cinta dengan membentuk rumah tangga bersama Jamila.

Namun, setelah mempunyai anak, dia sadar bahwa tidak boleh lari dari adat. Dia pulang dengan membawa istri dan anaknya, Hasonangan. Hasonangan itulah yang kelak menjadi cucu kesayangan, pemersatu dua keluarga yang berbeda agama dan kultur.

Setting dan isi cerita mayoritas diambil dari apa yang dilihat dan dirasakan Albiner sebagai putra Sibolga. ”Masa kecil saya dari lahir, SD, SMP, SMA, sampai (menjadi) komandan kodim di Sibolga,” urai suami dr Giriwati Yogasara MARS yang berasal dari Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta, itu.

Selanjutnya, dia bertugas dalam Paspampres di Padang, Jakarta, dan Papua. Kemudian, dia menjadi kepala biro pers istana sejak September 2014 hingga Agustus 2015.

Ayah tiga anak tersebut suka menonton film-film petualangan. Dia juga penikmat tayangan yang bernuansa kultural. ”Saya paling suka nonton Mahabharata versi India, versi wayang Jawa, suka sekali,” ungkap dia.

Tapi, tetap saja pengalaman terjun langsung sebagai sutradara dalam sebuah drama musikal merupakan tantangan besar bagi Albiner. Karena itu, semakin dekat dengan waktu pementasan, semakin deg-degan pula dia.

”Istri sampai bertanya kenapa saya terlihat gelisah, mau tidur rasanya tidak tenang,” bebernya.

Durasi persiapan pementasan itu praktis hanya 27 hari. Latihan setiap hari membuat waktu istirahat Albiner berkurang. Karena itu, dia melengkapi diri dengan suplemen makanan.

Mengarahkan produksi seni pertunjukan serta menangani pemain dan kru membuat Albiner merasakan bahwa disiplin dalam seni lebih berat daripada militer. Lalu, apakah dia tergolong sutradara galak?

”Tidak juga. Beliau mengayomi dan ada saatnya memang harus galak, lebih tepatnya disiplin,” kata Gusti Mayani yang turut andil dalam pemilihan pemain dan penyusunan skenario.

Memang, sebelumnya sebagai birokrat, orang-oranglah yang harus mengerti dia. Tapi, dalam proses produksi drama musikal itu sebaliknya, Albiner-lah yang harus memahami seluruh tim dan pemain. Di proses awal, ada sesi bedah naskah bersama untuk menggali pemahaman dan pendalaman karakter dari tiap pemeran.

Jambar Ni Parsubang akan dipentaskan di Teater Besar TIM yang berkapasitas sekitar 1.200 orang. Albiner mengungkapkan, target pementasan perdana itu bukan sekadar jumlah penonton.

”Target saya, Jambar Ni Parsubang nantinya diminta untuk ditampilkan di wilayah lain. Misal Jawa Tengah minta, kami datang. Sumatera Utara minta, kami siap,” ucap dia. (*/c11/ttg)

 
 

 

Berita Terkait