Alat Pengukur ISPU Kembali Tak Berfungsi

Alat Pengukur ISPU Kembali Tak Berfungsi

  Kamis, 11 Agustus 2016 10:55
EMBUN SANGIT: Kabut embun pagi sekitar pukul 07.00 menyelimuti Pontianak dan sekitarnya. Di simpang empat Jalan Adisucipto, Sungai Raya, Kubu Raya berselimut embun berbau sangit diduga ikut mengendapnya kabut asap. MUJADI/PONTIANAK POST

PONTIANAK - Pengukur Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Fix Station Air Quality Monitoring System (AQMS) milik Badan Lingkungan Hidup Kota Pontianak tidak berfunsi sejak tujuh bulan lalu. Kerusakan yang sama terjadi pada tahun lalu. Dampaknya, tidak ada data valid kualitas udara di Pontianak.

“Kondisi alat pemantau kualitas udara untuk di Pontianak dalam keadaan tidak beroperasional. Itu dikarenakan alat tersebut rusak. Jadi harus ada penggantian suku cadang,” kata Staf Kasubdit Pemantauan dan Penanggulangan Kerusakan Lingkungan BLH Kota Pontianak, Dina Angelina, Rabu (10/8) di kantornya.

Dina menyebut, kerusakan alat pengukur kualitas udara itu rusak sejak 13 Februari lalu. PM10, kata dia, Pada September 2015, juga pernah mengalami kerusakan. “Tahun lalu, sudah diperbaiki dan bisa running lagi. Tapi bulan Februari, rusak lagi,” ungkapnya.

BLH Kota Pontianak, kata Dina, tak bisa berbuat banyak. Apalagi, alat tersebut masih di bawah wewenang Kementerian Lingkungan Hidup. Sejak mengalami kerusakan, pihaknya sudah mengajukan perbaikan ke pusat, tapi masih belum ada tanggapan.

“Kami juga menunggu Kementrian Lingkungan Hidup untuk memperbaiki alat tersebut. Jadi untuk pergantian alat menunggu kebijakan dari sana,” jelasnya.

Ditegaskan pula alat Fix Station Air Quality Monitoring System (AQMS) yang saat ini berada di Kantor Camat Pontianak Barat itu, aset milik untuk perbaikan dan pergantian suku cadang, wewenang Kementrian LH.

“Sudah kami ajukan, tapi belum ada kabar. Katanya terkait anggaran juga. Kami pernah tanya ke pihak ketiga, harga perbaikan dan pergantian suku cadang itu sekitar Rp30 juta,” ujarnya.

Untuk mengetahui data kualitas udara, sejak alat tersebut rusak, BLH berkoordinasi dengan BMKG. Setiap data yang dikeluarkan dalam bentuk konsentrasi data udara dan sebaran hotspot.

“Tapi data tidak dalam bentuk ISPU. Kalau sudah dikonversi ke alat ISPU, ada indeks pencemaran udara,” tukasnya.

Sementara itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Kalimantan Barat mencatat, ada sebanyak 122 hotspot atau titik api di Kalbar sepanjang Januari hingga per 9 Agustus 2016. Titik api tersebut terpantau melalui satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).

Sekretaris Manggala Agni BKSDA Kalbar, Sahat Irawan Manik mengungkapkan, secara umum pada tahun 2016 ini peningkatan titik api terjadi di daerah Kabupaten Sanggau, Landak, Sintang, Sambas, dan Ketapang.

“Untuk Agustus ini saja, terhitung dari tanggal 1-9 Agustus sudah ada 68 titik api di Kalbar,” ungkapnya saat ditemui awak media di ruang kerjanya, Rabu (10/8).

Dia menjelaskan, pada bulan Januari hingga Februari terpantau masing-masing ada dua titik api di Kalbar. Sementara pada Maret terjadi sedikit peningkatan yaitu enam titik api. Pada bulan April satu titik, Mei tujuh titik, Juni 11 titik api dan sementara Juli ada 25 titik api yang terdeteksi.

Jika dilihat dari daerah penyebaran, pada tahun 2016 ini yang mendominasi ada di lima kabupaten yaitu Sanggau, Landak, Sintang, Sambas, dan Ketapang. “Sanggau ada 33 titik, Landak 19 titik, Sintang 13, Sambas 12, dan Ketapang 10 titik,” ujarnya.

Namun secara umum titik api yang terpantau di Kalbar sudah mengalami penurunan dibanding periode yang sama pada tahun 2015 lalu. Dimana pada tahun 2015 lalu, pada periode yang sama terpantau ada sebanyak 644 titik api.

Ihwal penyebab terjadinya kebakaran huta dan lahan dia mengatakan rata-rata yang terjadi di Kalbar bersumber dari pembakaran lahan yang dilakukan oknum masyarakat dan perkebunan.

Menurutnya harus dibedakan sudut pandangn antara kebakaran dan pembakaran. Hal tersebut juga cendrung ada hubungannya dengan aktivitas pengolahan lahan. "Tidak bermaksud meyudutkan masyarakat, tapi ada oknum-oknum tertentu yang sengaja melakukan pembakaran di musim-musim seperti sekarang ini," katanya.(gus/bar)