Aktor Kekerasan

Aktor Kekerasan

Selasa, 22 March 2016 09:22   988

DARI hari ke hari tindakan kekerasan meningkat, ada dimana-mana, seakan-akan tidak bisa dicegah dan dihentikan. 

Lebih miris lagi, pelaku tindakan kekerasan dilakukan oleh orang yang terdekat dengan korbannya, misalnya kekerasan seorang ayah terhadap anak-anaknya, dan sebaliknya kekerasan seorang anak terhadap orang tuanya.     

Melalui jalur penegakan hukum juga sudah dilakukan, namun tetap saja tidak banyak membawa perbaikan, tindakan kekerasan tetap saja terjadi. 

Pertanyaannya mengapa tindakan kekerasan tidak bisa dicegah dan dihentikan?. Barangkali selama ini persepsi kita melihat dan memahami persoalan tindakan kekerasan tersebut hanya dari aktor kekerasan, yakni: “Pelaku Kekerasan”, sementara “Korban Kekerasan dan ”Penonton Kekerasan” yang mengundang atau membuat tindakan kekerasan itu terus terjadi jarang dipikirkan, dibicarakan, dan dijadikan pisau analisis ketika banyak orang membahas dan mengusahakan agar kekerasan itu tidak terjadi lagi. Misalnya, sangat jarang setiap terjadi kekerasan dilihat dari prespektif “Korban Kekerasan”, bukankah “Hukum Vicmatologi” menegaskan bahwa si korban kekerasan memiliki kontribusi sebesar 40-60% terhadap tindakan kekerasan yang dialaminya”, banyak korban kekerasan lalai menjaga dirinya, bahkan sikap dan perilakunya terkadang menggundang tindakan kekerasan itu terjadi, contohnya banyak gadis remaja atau ABG berpakaian mini dan ketat atau tidak menutup aurat, bentuk tubuhnya terlihat jelas, dan mereka pergi sendirian, sikap dan perilakunya mengundang daya tarik nafsu atau birahi sebagian laki-laki yang melihatnya, akhirnya berusaha memperkosanya. Contoh lain, seorang bayi mungil dibiarkan orang tuanya bermain sendirian di halaman rumahnya, sementara orang tuanya sibuk di dapur, ada seorang tertarik memiliki bayi mungil tersebut, ia pun membawa bayi cantik/ganteng itu pergi. Tindakan kekerasan dari prespektif “Penonton Kekerasan” lebih jarang lagi dibahas atau diusahakan pencegahannya. 

Barbara Coloroso (2007) dalam bukunya “Stop Bullying” mengatakan bahwa terdapat tiga aktor kekerasan, yakni pelaku kekerasan, korban kekerasan, dan penonton kekerasan yang memiliki tiga karakter dalam satu strategi, artinya setiap kali membedah, berupaya mencegah dan menghentikan setiap tindakan kekerasan, ketiga aktor kekerasan tersebut harus ditempatkan dalam satu bingkai teoretik yang sama. 

Barang kali selama ini, setiap kali kita berupaya mencegah dan menghentikan tindakan kekerasan lebih memfokuskan diri pada pelaku kekerasan dengan berbagai sudut pandang, sementara prespektif korban dan penonton kekerasan terabaikan. 

Dalam konteks tindak kekerasan ini, Wiliam Burroughs mengatakan bahwa “Tidak ada penonton yang tidak bersalah”.

Setiap terjadi tindakan kekerasan, mereka (penonton) yang telah menyaksikan kekerasan itu tidak semua menjadikan peristiwa kekerasan tersebut sebagai sebuah kesadaran kolektif, tidak berusaha sedikitpun untuk mencegah dan menghentikannya, masih banyak yang tidak peduli, seakan-akan tindakan kekerasan tersebut bukan permasalahan dirinya, melainkan persoalan pelaku, korban kekerasan dan urusan polisi. Dengan tidak melakukan apa-apa berarti para penonton kekerasan telah kehilangan tanggung jawab moral terhadap target atau korban kekerasan tersebut. Meminjam istilah bapak Amin Rais, sikap kita terhadap kekerasan ini ibarat “Kancil Pilek” atau cari selamat, yang penting saya selamat, sementara yang lain peduli amat. Memutuskan siklus atau mata rantai kekerasan adalah dengan cara menciptakan lingkungan kepedulian. 

Sejak dulu Lo Tsu, seorang filosofi China mengingatkan, “Setiap kesalahan, kejahatan dan sejenisnya dibiarkan, maka kesalahan dan kejahatan tersebut menjadi sebuah kebenaran”. Mahatma Ghandi menyatakan hal yang sama, “Satu kesalahan, kejahatan dan sejenisnya dibiarkan atau ditoleransi, berarti seribu kesalahan lain diundang”. Akibatnya masyarakat terperangkap dalam spiral kekerasan atau sulit keluar dari satu kekerasan ke kekerasan lainnya.   

Aristoteles, seorang filosof Yunani sejak lama mengajarkan tentang empat pintu dalam menyampaikan pesan atau berita dimana pesan tersebut sangat penting diketahui dan dilaksanakan oleh semua kita termasuk pegiat media masa dan penerbit buku, yakni “Pintu ke-1: Sampaikan sebuah kebenaran, Pintu ke-2: kebenaran yang diperlukan; Pintu ke-3; Untuk kebaikan; Pintu ke-4; dengan penuh rasa tanggung jawab”.

Bahan bacaan dan TV bertema kekerasan memiliki pengaruh yang sangat (300%) terhadap tindakan kekerasan itu sendiri. Media massa, baik cetak maupun elektronik, seperti televisi menyediakan tontonan kekerasan sehingga kekerasan menjadi satu acara tontonan yang menarik perhatian pembaca dan pemirsa melebih ketertarikan mereka pada acara lainnya.

Di negeri ini, berita tentang kekerasan menjadi bacaan dan tontonan setiap hari masyarakat kita, tidak jarang media massa menjadi tema kekerasan sebagai ciri atau “icon” dari sebuah media massa. 

Seseorang warga Singapura bermaksud ke Jakarta, pada waktu itu bertemu penulis di sebuah lobby hotel di Batam sambil menyaksikan siaran berita televisi tentang kekerasan di tanah air. Melihat peristiwa kekerasan tersebut, beliau membatalkan keberangkatannya ke Jakarta dan memilih kembali pulang ke negerinya. 

Selanjutnya, bahan bacaan dari waktu ke waktu memiliki durasi semakin cepat mempengaruhi perilaku pembacannya, semulanya dua puluh tahun, sekarang cukup dalam waktu lima tahun.

Pengalaman beberapa kali berkunjung ke negeri tirai bambu, penulis jarang sekali menemukan bacaan dan berita televisi mempertontonkan kekerasan. Jika sempat ada media massa menyiarkan kekerasan di media sosial, maka pemerintah bertindak tegas atau mencabut izin usaha media sosial tersebut. 

Demikian pula sarana dan prasana bermain dan nyanyian anak tidak terbebaskan dari tindakan kekerasan. Terkait hal tersebut, Di Inggris, dilakukan penelitian terhadap mainan dan nyanyian anak, akhirnya raturan jenis permainan dan nyanyian anak dimusnahkan karena diyakini berdampak sangat besar terhadap penyimpangan perilaku anak.

Baik di China, di Inggris dan di berbagai negera lainnya, asumsi dan pandangan mereka sama bahwa mencegah kekerasan lebih baik dari pada mengobati korban kekerasan.

*Penulis; Dosen FKIP Untan

Aswandi

Penghobi membaca dan menulis ini lahir di Tebas Sungai pada 13 Mei 1958 dan memiliki motto hidup "Mencapai Muttaqiiin melalui Iman, ilmu dan amal". Pria yang menikahi Rusnawaty ini dikaruniai tiga anak.

Aswandi lahir dari pasangan Asy’ari (almarhum) dan Fatimah (almarhumah). Dosen FKIP Universitas Tanjungpura (PNS) itu tinggal di Jalan Danau Sentarum, Gang Pak Madjid 3/18 Pontianak.

Jenjang pendidikan dilalui Aswandi dengan menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Tebas Sungai (1971), MTs Gerpemi di Tebas (1974), SPG Negeri di Singkawang (1977), S1 FKIP Untan Pontianak (1984), S2 IKIP Malang (1993) dan S3 Universitas Negeri Malang (2001).

Karier pekerjaan Aswandi diawali dengan menjadi Guru SDN di Pontianak 1978-1986. Kemudian guru SMP-PGRI, Dosen FKIP UNTAN, Dosen Universitas Muhammadiyah Pontianak, Dosen STKIP PGRI Pontianak, Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pembantu Dekan I FKIP UNTAN, Dekan FKIP UNTAN kini Wakil Rektor Bidang Akademik Untan 2015-2019