Aksi Hari Autis di Bundaran Tugu Digulis

Aksi Hari Autis di Bundaran Tugu Digulis

  Minggu, 3 April 2016 09:55
TALKSHOW: Talkshow Hari Autis yang dilaksanakan guna menambah wawasan orang tua penyandang autis dan masyarakat tentang bagaimana menangani penyandang autis sejak dini di Bundaran Tugu Digulis, Sabtu (2/4). MIFTAH/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – Hari Autis Sedunia diperingati dengan melakukan aksi di Bundaran Tugu Digulis, Sabtu (2/4). Aksi ini lebih berbentuk seperti talkshow dan mengedukasi masyarakat bagaimana menanggapi dan menangani anak autis.

Aksi sore itu dihadiri banyak komunitas yang memenuhi sisi timur Bundaran Tugu Digulis. Mereka kompak mengenakan baju serba biru. Hari Autis Sedunia kemarin seperti ingin mengajak masyarakat dunia, untuk berhenti menggunakan kata autis sebagai bahan ejekan. Kata autis selayaknya hanya menggambarkan mereka yang memang sedikit berbeda dengan masyarakat normal.

Yulia Ekawati, psikolog dari Himpunan Psikolog Indonesia Wilayah Pontianak, mengimbau para orang tua untuk berkonsultasi tentang perkembangan anak-anak mereka. Gangguan perkembangan anak, menurut dia, dapat dilihat sebelum mereka berumur 3 tahun. Gejala anak autis, dijelaskan dia, berupa hambatan perkembangan perilaku. Perilaku yang dimaksud dia adalah perilaku wicara dan okupasi. Anak autis, menurut Yulia, bukanlah sebuah penyakit. Dikatakan dia bahwa para penyandangnya sebetulnya sama seperti anak normal lainnya. “Yang berbeda adalah mereka terhambat perkembangannya karena banyak hal,” kata dia.

Orang tua, menurut dia, dapat berkonsultasi dengan dokter tentang diagnosa yang tepat untuk anak-anak mereka. Karena autis, tak dipungkiri dia, juga memiliki banyak jenis dan penanganan tersendiri. “Setelah diketahui diagnosa yang tepat, barulah sang anak diberikan beberapa terapi untuk membantunya berkomunikasi lebih baik,” ujar Yulia.

Diakui dia jika peran para orang tua sebetulnya lebih besar daripada dokter dan terapis yang ada. Menurut dia, anak autis akan lebih cepat dalam tumbuh kembangnya, ketika orang-orang terdekatnya memberikan perhatian serta kasih sayang dengan penuh kesabaran.

Seorang ahli terapi autis, Salahudin, membeberkan ada banyak sekali penanganan pada anak autis ini. Dirinya fokus kepada terapi bicara dan perilaku. Kebanyakan, diungkapkan dia, kasus yang datang kepadanya adalah mereka yang mengalami gangguan bicara atau gangguan perilaku. Gangguan bicara, menurut dia, secara keseluruhan dapat diatasi. “Kesulitannya hanyalah membuat anak autis ini patuh dan mengartikan petunjuk dengan tepat,” aku dia.

Terapi paling awal yang diberikan kepada anak autis ini, diakui dia, ternyata membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Paling tidak, menurut dia, anak autis diberikan terapi kepatuhan seperti terapi duduk di kursi selama satu jam setiap harinya. Terapi itu, kata dia, akan dilakukan perlahan, mulai dari lima menit, naik ke sepuluh menit, dan seterusnya hingga satu jam. “Tujuan terapi duduk itu adalah untuk mengurangi sifat hiperaktif dari anak autis yang menurut orang tua susah sekali dikendalikan,” ungkapnya. 

Dipastikan dia jika dalam terapi tersebut, tidak sampai menghilangkan sifat hiperaktif dimaksud. Untuk yang satu ini, diakui dia, para terapis membutuhkan kesabaran. “Paling cepat, terapi duduk dilakukan selama 6 bulan yang biasanya membutuhkan waktu setahun,” ungkapnya.

Talkshow tersebut termasuk dalam kegiatan Forum Relawan Bahagia, yang terdiri dari Koalisi Perempuan Indonesia Cabang Pontianak, 1000 guru Kalbar, Sanggar Kacifa, Forum Anak Daerah, Komunitas Remaja Peduli, Lip Art, Earth Hour, Pontianak Mude, Ormas Indonesia, dan SLB yang ada di Kota Pontianak. (mif)

Berita Terkait