Akses Lumpuh Total

Akses Lumpuh Total

  Rabu, 22 June 2016 09:30

Berita Terkait

Warga Menginap di Hutan Setelah Kejadian

PUTUSSIBAU - Sulitnya mencapai Dusun Tosoing Loing, Desa Tanjung Lokang, Kecamatan Putussibau Selatan, membuat penanganan terhadap korban banjir bandang disertai longsor terhambat. Penerangan bersumberkan pusat listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) padam total. Demikian pula aktivitas masyarakat juga lumpuh. 

Berdasarkan informasi tim gabungan Pemkab Kapuas Hulu yang turun ke lokasi dikabarkan bahwa ada sejumlah fasilitas umum yang hanyut terbawa arus banjir bandang. Di antaranya dua unit perumahan guru, satu unit pendopo, satu unit Gereja Firman Allah (GFA) serta dapur, satu unit penginapan gereja GFA, dan satu unit rumah kios telepon desa. 31 unit lumbung padi juga ikut disapu banjir. 

Sedangkan PLTMH rusak berat. Sehingga mengakibatkan dusun tersebut mencekam sejak kejadian. Korban meninggal, atas nama Lawai, usia 11 bulan yang terbawa arus sungai sudah dimakamkan. 

Sementara itu korban luka berat, yakni Joma (7), Teri (33), Apui (56), Imun (27) dan Nunun (35). Luka ringan: Madang, Luhung (28), Nunun (32), Yoga (15), Sigin (9), Jeno (30), Tukou (28), Pirok (7), Risal (15), Vera (5), Erna (25), Dony (20), Onet (23), Topik (22), Diana (18) dan  Hangin. Sebagian korban sudah berada di RSUD Ahmad Diponegoro Putussibau, Senin (20/6) malam.

Ernawati, salah seorang korban yang ditemui Pontianak Post di RSUD Ahmad Diponegoro Putussibau, bercerita sebelum tanah longsor, warga dusun Tosoing Loing yang tinggal di rimba (hutan) lokasi kerja mendulang emas wilayah Sungai Bungan tak tidur semalaman. Saat yang bersamaan, terjadilah longsor di daerah sungai, yang menghantam pondok warga. 

Terjadi kepanikan, masing-masing warga berlarian menyelamatkan diri ke daerah yang lebih tinggi, sementara perkempungan penduduk jauh. “Kami panik, berlarian menyelamatkan diri masing-masing,” ceritanya. Warga Tanjung Lokang, yakni Jason mengatakan, jika warga yang berada dilokasi menambang emas sempat tertidur dipastikan tewas tertimbun longsor.

“Mereka ini lagi di hutan, karena sedang bekerja mendulang emas,” kata Jason. Tanah yang longsor berada diseberang Sungai Bungan, karena disebelahnya terdapat Bukit Marung yang berseberangan denga dengan pondok warga. Di lokasi longsor ada enam orang. Untung saja, sebelum kejadian mereka waspada, sehingga bisa menyelamatakan diri saat longsor terjadi.

Jason mengaku, saat banjir yang disertai longsor terjadi di Dusun Tosoing Loing dirinya lagi berada di Putussibau. “Mendengar informasi ini, saya langsung meluncur mudik, menjemput mereka untuk dibawa ke rumah sakit,” ucapnya. Bahkan kata Jason, pasca kejadian longsor, para korban sempat tidur dihutan malamnya, karena tidak mampu meneruskan perjalanan.

Karena untuk menemuh perjalanan pulang ke kampung yang berjarak sekitar 20 kilo meter terhadang banjir dan hujan. Dengan kondisi medan yang sangat sulit itu, warga terpaksa menunggu bantuan sampai siang. Setelah ada salah satu dari mereka meminta bantuan ke kampung. “Lokasinya sangat sulit dijangkau, harus berjalan kaki ber jam-jam,” ungkap Jason.

Bupati Kapuas Hulu A.M Nasir memastikan tim kabupaten yang diberangkatkan ke Dusun Tosoing Loing Desa Tanjung Lokang sudah tiba dilokasi. “Mencapai lokasi cukup berat. Bisa tiga hari baru sampai. Paling cepat satu hari satu malam baru sampai lokasi. Karena ada riam yang tidak bisa dilewati speed, harus diseret dulu baru dilanjutkan perjalannya,” terangnya. 

Untuk mencapai daerah hulu Kapuas, kata Nasir, membutuhkan nyali tinggi, terutama saat mudik. “Kalau mudik susah. Milir satu hari mungkin bisa sampai,” ucapnya.  Dia mengaku, begitu menerima laporan, langsung menggelar rapat dengan dinas teknis terkait dan jajaran Forkopimda. “Saya langsung rapat bersama SKPD terkait, termasuk Forkopimda,” terangnya. 

Dikatakannya, bantuan yang dibawa berupa makanan ringan, kelambu, tikar dan peralatan penting lainnya. Itu dikarenakan, sulitnya akses menuju Tanjung Lokang. “Medan kesana sangat sulit. Melewati beberapa riam yang ekstrem,” ungkapnya. Kendati demikian, ia juga ada mengutuskan tenaga medis, termasuklah dua orang dokter yang memakai speed khusus.

Pada kesempatan yang sama, Nasir juga memastikan pemerintah tetap memberi bantuan lanjutan. Namun sementara waktu masih diinventarisir oleh petugas. Ketika ditanya apakah biaya berobat korban di RSUD akan ditanggung Pemda. Bupati kapuas Hulu dua priode ini mengaku, sepanjang tak menyalahi aturan tetap dibantu, karena kajadian ini bencana alam.

Hingga berita ini diturunkan, tim yang turun ke lokasi sebagian besar masih berada di lokasi. Sementara korban yang mengalami luka berat dan ringan, sebagian sudah dirawat intensif di RSUD Ahmad Diponegoro, Putussibau. Para korban ini dibawa keluarganya menggunakan longboat dari Desa Tanjung Lokang. Lama perjalanan sekitar satu hari satu malam. (aan)

 

BANJIR: Kondisi perkempungan warga pasca banjir dan longsor. (Kanan) Korban banjir dan longsor di Desa Tanjung Lokang dirawat di RSUD Ahmad Diponegoro, Putussibau, Selasa (21/6). ISTIMEWA 

Berita Terkait