Akrab dengan Buku

Akrab dengan Buku

  Selasa, 17 May 2016 10:32

Berita Terkait

Setiap 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Salah satu tujuannya, agar masyarakat akrab dengan buku. Membaca buku menjadi kebutuhan,  mengambil manfaat dari apa yang dituliskan. Kali ini, For Her berkesempatan mewawancarai Pay Jarot Sujarwo, salah satu penggiat buku di Kalbar. Selain aktif menularkan semangat menulis dan membaca, karyanya tersebar luas, terutama dikalangan anak muda Kalimantan Barat. 

Oleh : Marsita Riandini

Mengenakan peci putih dengan baju kokonya, Pay Jarot Sujarwo semangat menceritakan pengalaman menulisnya yang dimulai sejak duduk di kelas 2 sekolah dasar. Berawal dari kebiasaan menulis catatan harian, kini satu persatu karyanya bermunculan. “Sejak SD saya sudah terbiasa menulis catatan harian. Tamat SMA saya meneruskan kuliah di Jogjakarta  tahun 1999. Disitulah saya mulai tertarik ikut dunia kepenulisan, dengan bergabung di Kelompok Sastra Pendapa,” tutur dia yang mulai mengirimkan karyanya ke media cetak yang ada di Jogjakarta. 

Bila banyak anak muda yang menulis untuk berkeluh kesah, Pay kecil lebih memilih menulis ragam kisah unik dan menarik yang dilaluinya. “Aku merasa catatan harian itu adalah kawan paling keren. Segala peristiwa bisa diabadikan. Karena setiap hari menulis, lalu menjadi kebiasaan akhirnya menjadi kebutuhan,” ulas dia. 

Tak hanya terbiasa menulis, Pay kecil juga akrab dengan buku-buku anak-anak. Dari yang berbentuk komik hingga cerita rakyat. “Dulu itu setiap satu bulan sekali bapak saya selalu belikan buku, dari komik petruk, cerita Si Buta dari Gua Hantu, Kapak Geni 212 Wiro Sableng. Ada sekitar 30 buku, dengan harga satuan 150 rupiah. Belum lagi masa itu saya langganan majalah Bobo, dan Ananda,” tutur pria yang lahir dan di besarkan di Kampung Arang ini. 

Banyaknya koleksi buku di rumahnya, Pay pun berinisiatif menyewakan buku-bukunya kepada teman-temannya. “Saat itu kalau baca ditempat bayarnya 25 rupiah, kalau bawa pulang 50 rupiah,” terang dia. 

Senang membaca dan menulis, membawanya akrab dengan dunia imajinasi. “Karena aku suka menulis catatan harian, kemudian juga senang berimajinasi, jadilah saya kombinasikan menjadi tulisan yang menarik. Dari kecil juga suka menulis cerita, sehingga akrab dengan kosakata,” papar dia. 

Karya pertama Pay yang berbentuk buku terbit tahun 2005, yakni berupa puisi dan cerpen.  Pay terus mengasah kemampuan menulisnya. Hingga akhirnya buku Sepok berhasil mencuri perhatian pembaca. Buku terjual sebanyak 1500 buku. “Buku Sepok ini saya tulis ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah Eropa, tepatnya di Bulgaria. Disana saya mengalami situasi yang unik, lucu yang membuat saya merasa sepok. Seperti makan keju campur nasi, dan hal-hal konyol lainnya,” kenangnya. 

Awalnya saya menuliskan itu di Facebook dengan menggunakan bahasa Melayu. Ternyata responnya bagus, ratusan komentar diterima. Bahkan ada yang menyarankan kenapa tidak dijadikan buku. “Setelah dikumpulkan ternyata tulisan tersebut emang menarik untuk dibukukan. Respon bukunya ternyata juga bagus,” ucap dia. 

Selain menulis, Pay juga hobi jalan-jalan. Itu sebabnya, beragam pengalaman di kampung orang disulapnya menjadi buku bacaan yang menarik bahkan menginspirasi. “Hobi traveling sejak tahun 2008. Dulu masih mahasiswa juga suka traveling. Awalnya masih di Indonesia, tahun 2010 kali pertama ke luar negeri, tepatnya di Bulgaria. Tahun 2011 saya ke Belanda lanjut di Spanyol dan sempat singgah sebentar ke Portugal. Kemudian lanjut ke Thailand, Kamboja, Malaysia, dan Vietnam. Rencananya akan terus menjalankan hobi traveling, dan kembali dengan pengalaman-pengalaman untuk dibukukan,” harapnya. 

Setelah sukses menerbitkan buku Sepok pertama di Bulgaria dengan judul Sepok; cerite orang kampong, yang kampongan, di kampong orang (catatan perjalanan penulis selama berada di Bulgaria), Pay kembali menerbitkan buku Sepok Duak #Belande (dari kampong arang ke kampong orang). Lebih dari 1200 buku laris terjual.  Tak lama lagi, pembaca juga bisa menikmati buku Sepok Tige saat Pay berada di Spanyol. Meskipun belum terbit, pemesan buku Sepok tige ini cukup banyak. “Buku Sepok ini saya khususkan untuk perjalanan di Eropa saja. Bukan saya tidak ingin meng-Indonesia, tetapi bukan melalui buku Sepok melainkan buku lainnya dengan cerita dan pengalaman yang berbeda,” terangnya. Lebih jauh bisa kunjungi paysepok.blogspot.co.id.

Saat ini, selain aktif menularkan semangat membaca di Pustaka Cafe yang terletak di Perpustakaan Daerah Provinsi Kalbar, Pay juga memiliki program acara di Pontianak TV (PONTV) yakni Pay Sepok dengan bahasan para penulis yang menginspirasi yang sudah berjalan lebih dari satu tahun ini. **

/////////////////////////////////

Tanya Jawab

Memilih Berbahasa Melayu?

Sebenarnya saya juga banyak menulis dengan bahasa Indonesia. Saya pikir menuliskan dengan bahasa Melayu itu memberikan kesan lucu pada buku Sepok saya. Itu letak menariknya. Disisi lain, saya juga ingin melestarikan bahasa daerah. Sebab bukan tidak mungkin bahasa daerah akan punah, seperti yang terjadi di Lampung. Banyak orang Lampung yang tidak mengerti bahasa Lampung. Secara bisnis, ada nilai jualnya. 

Kampanye ke sekolah-sekolah ?

Tahun 2005 saya pulang ke Pontianak. Masa itu dunia perbukuan di Kalbar masih sepi. Saya bermimpi orang di Kalbar ini senang membaca, dengan menularkan semangat membaca dan menulis. Meskipun tidak menampik ada sisi bisnis untuk menjual buku. Dari 14 kabupaten kota yang ada di Kalbar, yang belum saya datangi itu daerah Melawi sama Kapuas Hulu. Selebihnya saya datang ke kampus, sekolah, asrama mahasiswa dan kampung-kampung. Ada sekitar 80 lokasi. 

Dunia Perbukuan di Kalbar Saat Ini ?

Saya melihat ada kemajuan dari tahun-tahun sebelumnya. Begitu banyak komunitas perbukuan di Kalbar. Di IAIN ada Club Menulis, ada Forum Lingkar Pena, Forum Sastra Kalbar, dan komunitas lainnya. Apalagi sekarang mencetak buku itu lebih mudah. 

Rencana Karya Selanjutnya?

Ada keinginan untuk menuliskan perjalanan religi. Menuliskan perjalanan hijrah saya dari dulu sampai sekarang ini. Tentu saja tetap mempertahankan gaya menulis catatan perjalanan seperti yang selama ini dibuat. Seperti saat perjalanan saya ke Bangkok dan beberapa tempat lainnya yang berperan dalam proses hijrah saya. 

Mengikat ide ?

Pengalaman ketika traveling ke Bulgaria, awalnya saya ingin menulis tentang kebudayaan Eropa. Tetapi saya menyadari tidak punya banyak teman dan referensi. Akhirnya saya menulis pengalaman yang saya alami. Saya tidak membawa kertas atau buku catatan, melainkan menuliskannya ketika berada di rumah. Kalau membawa buku catatan, saya khawatir tidak menikmati perjalanan tersebut. Sama halnya ketika saya kehilangan ide, bagi saya gagasan itu tidak perlu dipaksakan, sebab ada banyak cara untuk menemukannya. (mrd)

 

Berita Terkait