Akhlak Rusak, Bangsa Ikut Hancur

Akhlak Rusak, Bangsa Ikut Hancur

  Jumat, 13 May 2016 09:02   1

Oleh: Santriadi Rizani

Masyarakat merupakan warga negara dalam sebuah bangsa yang keberadaannya menjadi salah satu syarat terbentuknya sebuah negara berdaulat. Warga negara itu sendiri terdiri dari anak-anak, remaja, orang dewasa dan lanjut usia (lansia), baik laki-laki maupun perempuan. Seperti itulah fitrah dan lazimnya. Usia kanak-kanak menuju usia remaja, kemudian memasuki usia dewasa dan menjadi lansia. Ada yang lahir dan ada pula yang mati, seperti itulah siklus dalam kehidupan ini yang di dalamnya terjadi sebuah proses yang sangat panjang sehingga terjadilah sebuah peradaban manusia.

Melihat dan mencermati perkembangan zaman masa kini ditambah lagi pesatnya arus globalisasi dan informasi serta cepatnya akses dalam menempuh suatu jarak/tempat sebagai dampak positif dari canggihnya teknologi seolah menjadikan masyarakat menjadi terlena dan terbuai olehnya, sungguh sangat memprihatinkan sekaligus sangat disayangkan. Betapa tidak, mulai dari anak-anak, remaja bahkan orang dewasapun tidak ketinggalan karena sudah banyak yang terlibat dalam tindak kriminal, mulai dari ngelem, pencurian, mabuk-mabukan, pesta Narkoba, pergaulan bebas (yang mengarah kepada seks bebas), keluyuran tak tentu arah dan tujuan yang jelas (seperti anak-anak punk), dan baru-baru ini kita disuguhkan headline news (Pontianak Post, 9 Mei 2016) tentang pemerkosaan seorang gadis hingga ling lung yang digilir oleh 19 pria. Na’udzubillahi min dzalik.

Beradab atau tidaknya suatu bangsa, dapat dilihat dari perilaku masyarakatnya, terutama aspek akhlak alias moral atau budi pekerti. Akhlak adalah cerminan hidup bagi penegak bangsa dan menjadi tolak ukur ‘kepribadian’ bangsa itu sendiri. Jika akhlak masyarakatnya hancur, maka hancurlah bangsa. Betapa banyak orang-orang terdahulu yang diazab oleh Allah SWT. disebabkan akhlak masyarakatnya yang rusak, seperti kaum nabi Luth As., nabi Nuh As dan masih banyak yang lainnya.

Di zaman yang serba modern ini, warga negara yang hidup dalam era kemerdekaan dan seharusnya mengisi kemerdekaan seolah sudah lupa dengan apa yang seharusnya mereka kerjakan, salah satunya adalah mempertahankan kemerdekaan dengan tetap menjunjung tinggi rasa persatuan dan persaudaraan. Namun warga negaranya sekarang lebih mementingkan hura-hura (hedonis) dan memperturutkan hawa nafsu daripada menjalankan kewajiban. Hal inilah yang dikhawatirkan, akhlak bangsa akan terabaikan.

Faktor Merosotnya Akhlak

Ada beberapa faktor utama penyebab menurunnya akhlak masyarakat kita saat ini di antaranya adalah:

Pertama, budaya baca sangat rendah. Seluruh masyarakat Indonesia lebih senang dan terlihat bergengsi ketika menggenggam HP/Smartphone/Tablet dan sejenisnya daripada memegang buku atau sumber pengetahuan/bacaan lainnya. Kedua, forum diskusi yang kian dihindari. Tidak sedikit rakyat Indonesia lebih senang bergosip mengenai selebritis daripada berdiskusi tentang perjuangan para pahlawan, sirah nabawiyah, ilmuwan dan sebagainya, hal ini diperparah dengan hampir seluruh channel TV di tanah air menayangkan program infotainment.

Ketiga, peran keluarga yang kurang dominan. Keluarga tidak bisa lepas dari tanggung jawab terhadap akhlak bagi anak-anaknya. Sehebat apapun seseorang, pastilah ia berasal dari keluarga. Pola didik dan pola asuh dari orangtua pastilah sangat berefek. Tapi jika keluarga itu terjadi broken home, maka alamatnya setiap anggota keluarganya akan sibuk dengan urusannya masing-masing di luar rumah karena tidak betah (tidak enjoy) tinggal di rumah yang broken home.

Keempat, jauhnya masyarakat dari agama. Agama bukan lagi jadi pegangan, tapi hanya mata pelajaran satu minggu sekali saja di sekolah. Merasa tidak berdosa sama sekali jika meninggalkan shalat. Namun akan merasa ada yang kurang jika satu hari tidak memegang HP. 

Kelima, mengidolakan orang yang salah dan bermasalah. Sebut saja selebritis, yang jelas-jelas punya kepribadian buruk, tetap saja disanjung dan dipuja tiada henti. Faktanya, berapa banyak selebriti di tanah air yang tersangkut masalah hukum. Rasulullah Saw. seakan tergeser ribuan kilometer, beliau sebagai teladan yang harusnya dicontoh seakan tergeletak pada kisah-kisah nabi dalam buku-buku Islam semata.

Tak dapat dipungkiri memang, perkembangan media massa dan teknologi begitu cepat sehingga sekat-sekat batas negara menjadi hampir tidak ada, karena kemajuan teknologi. Hanya dengan mengakses internet ataupun menonton media televisi, setiap orang dengan mudah mendapatkan informasi dari belahan dunia hanya dengan hitungan detik. Namun, kemajuan teknologi tersebut ibarat ‘pisau bermata dua’, bisa menguntungkan, bisa merugikan. Misalnya, sebagai dampak pengadopsian budaya luar yang berlebihan dan tak terkendali oleh sebagian remaja. Persepsi budaya luar ditelan mentah-mentah tanpa mengenal lebih jauh nilai-nilai budaya luar itu secara arif dan bertanggung jawab.

Seorang kolega/sahabat bercerita kepada penulis tentang rusaknya akhlak masyarakat kita hari ini. Orang-orang lebih peduli dengan bunyi HP daripada suara adzan yang berkumandang di masjid. Bunyi HP sekali, ia langsung dengar dan beranjak dari tempat duduknya untuk sesegera mungkin menghampiri HP itu. Namun suara seorang muazzin yang memanggil berkali-kali (5 waktu sehari-semalam) seakan tak didengarnya dan dengan santainya tetap sibuk dengan urusannya sendiri atau bahkan masih terlelap dalam tidurnya. Astaghfirullah!

Cerita di atas membuktikan, teknologi sangat berpengaruh terhadap perilaku orang sekarang ini. Peran keluarga sangat berpengaruh dalam membentuk akhlak yang terpuji, namun jika dalam suatu keluarga kurang memperhatikan tingkah polah antaranggota keluarga, maka jangan salahkan keadaan jika sebuah desa, kecamatan, kabupaten, provinsi dan bahkan negara ini kelak melakukan hal yang menyimpang. Lebih-lebih orang yang lemah iman dan spiritualnya, yang berada dalam posisi kehidupan yang ‘keras’.

Upaya Pencegahan

Menurut hemat penulis, ada cara yang bisa dilakukan untuk mencegah rusaknya akhlak masyarakat dan hal ini penting diperhatikan, misalnya: 

(1) Kesadaran diri sendiri. Jika seseorang diarahkan untuk memahami, sesungguhnya untuk apa dirinya diciptakan dan siapa sejatinya dirinya yang hina itu, maka diharapkan dia akan memanfaatkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan yang positif, sehingga ia tidak menyia-nyiakan waktunya dengan melakukan hal-hal yang dilarang agama. Kesadaran diri ini tentu saja harus didorong oleh diri sendiri secara internal dan didorong oleh orang lain secara eksternal, terutama keluarga.

(2) Kekuatan iman. Orang yang bisa mencegah hawa nafsunya untuk melakukan  maksiat, niscaya ia akan terhindar dari perbuatan amoral. Dalam konteks zaman yang semakin maju ini, keimanan menjadi barang berharga yang mahal harganya dan karenanya harus ditingkatkan.

(3) Merasakan kehadiran Allah SWT. Mereka yang bertanggungjawab atas perbuatannya tentu akan merasakan kehadiran Allah SWT. di mana saja mereka berada. Setiap tindakan apapun yang dilakukan pasti akan merasa diawasi oleh Allah SWT. karena Dia Maha Melihat dan Maha Mengetahui.

Perasaan merasa diawasi atau dipantau oleh Allah SWT. inilah yang dalam istilah Nabi Muhammad Saw. disebut dengan ihsan, suatu keyakinan bahwa Allah SWT. senantiasa melihat gerak-gerik kita, sekecil apapun itu. Dengan perasaan ini, semestinya kita pada umumnya, harus merasa malu jika kita kedapatan sedang berada di tengah-tengah orang yang sedang berpesta kemaksiatan. Sebaliknya, seharusnya kita malu juga jika Allah SWT. memantau sekelompok orang yang sedang melakukan kebaikan, sementara kita tidak berada di dalamnya. Wallahu a’lam.

*) Guru Madrasah ‘Aliyah GERPEMI Tebas dan SMP Negeri 1 Tebas, Kabupaten Sambas