AKB Sebut Kratom Bukan Narkoba

AKB Sebut Kratom Bukan Narkoba

  Kamis, 5 May 2016 08:56
ISTIMEWA Seorang warga sedang menjemur daun kratom. Daun kratom kini menjadi salah satu penghasilan warga di sejumlah daerah.

Berita Terkait

PONTIANAK – Pedagang daun kratom Kalimantan Barat yang tergabung dalam Asosiasi Kratom Borneo (AKB) menegaskan bahwa kratom belum termasuk jenis narkoba. Menurut mereka sampai saat ini belum ada undang-undang yang menetapkan daun tersebut sebagai jenis narkoba. “Belum masuk dalam Undang-Undang Narkotika,” ujar Sekretaris AKB Suhairi, Rabu (4/5).

 
Suhairi mengatakan, daun kratom atau daun purik secara alami tersebar di wilayah hutan Indonesia khususnya Kalimantan Barat. Daun kratom sudah dimanfaatkan secara tradisional sebagai obat herbal. Beberapa tahun terakhir, daun kratom sudah menjadi komoditas di sejumlah daerah di Kalbar.

Daerah-daerah seperti Sekadau, Putussibau, Sungai Ambawang, Sanggau, Bengkayang, Ketapang, Melawi sudah memanfaatkan daun kratom untuk diekspor ke luar negeri. Menurutnya, ekspor kratom sendiri menyasar pasar sebagian besar Eropa seperti Inggris dan Belanda. Belum lagi konsumen yang datang dari Kanada dan Cina. “Di masa jayanya ekspor kratom pernah menyentuh angka 300 ton,” ungkapnya Rabu (4/5).

Sebelumnya, Badan Narkotika Nasional menemukan 41 jenis narkoba baru berdasarkan hasil penelitian di Balai Laboratorium Uji Narkoba. Hanya saja, dari 41 jenis tersebut, 18 di antaranya belum dicantumkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan nomor 13 tahun 2014. Salah satunya daun kratom. Menurut BNN, serbuk kratom memiliki efek seperti opiat dan kokain

Kepala Humas Badan Narkotika Nasional Kombes Slamet Pribadi menyatakan, pada prinsipnya BNN sudah mendorong satuan kerja di Kementerian Kesehatan agar 18 jenis narkoba baru yang ditemukan itu dicantumkan dalam Permenkes. "Kita ingin ada Permenkes baru. Kalau tidak diubah (Permenkes) ya tidak bisa masuk," kata Slamet saat dihubungi Pontianak Post tadi malam.

Slamet mengatakan, kalau ada kejahatan terkait narkotika yang belum dimasukan ke dalam maka tidak bisa ditindak. Karenanya, ia berharap ada Permenkes yang baru agar 18 jenis narkoba yang ditemukan itu bisa tercantum di dalamnya. 

Kepala BNN Pontianak, Agus Sudiman mengatakan hal serupa, untuk saat ini belum ada undang-undang yang melarang peredaran kratom di Indonesia. Pihaknya masih menunggu keputusan di pusat mengenai peraturan tersebut. BNN membutuhkan rekomendasi dari Kementerian Kesehatan untuk menempelkan kratom ke dalam Undang-Undang Narkotika.

Untuk saat ini, dia masih belum melihat adanya transaksi jual beli daun kratom di Pontianak, sedang di daerah luar Pontianak ia sendiri pun masih belum dapat mengonfirmasikan hal tersebut. “Jika peraturan yang melarang peredaran daun kratom telah dibuat. Kami akan langsung mengonfirmasi hal tersebut lebih lanjut,” ujarnya.

Karena belum masuk dalam Undang-Undang Narkotika, masyarakat masih bebas melakukan perdagangan kratom. Untuk bisa mengirim kratom ke luar negeri para pengusaha/ eksportir harus berbekal sejumlah dokumen, antara lain Surat Keterangan Asal (SKA) yang biasa disebut Certificate of Origin (COO). “Fungsinya sebagai pemberitahuan ekspor tentang negara asal eksportir dan dapat mempermudah masuknya barang ke negara ekspor,” kata Suhairi.

Proses produksi daun kratom dimulai dari mengambil daun, memisahkan daun dari batangnya, proses remasan, lalu dijemur hingga sempurna untuk kemudian digiling. Nantinya petani menjual ke para pengepul selanjutnya dijual ke pengusaha/eksportir untuk diekspor. Dalam proses produksinya, pengepul membawahi para petani. Suhairi menyontohkan, dari empat orang petani masing-masing dikepalai satu orang.

Ia mengatakan, berdasarkan situs shvoong.com yang dimuat pada 2012 lalu, pemanfaatan kratom ini sudah lama digunakan karena memiliki beberapa manfaat untuk kesehatan. Di antaranya mengatasi kecanduan narkoba, mengatasi diare, meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan tekanan darah, meningkatkan energi, mengatasi nyeri otot, mengatasi depresi, stimulan seksual dan mengontrol kadar gula darah.

Masyarakat biasanya memanfaatkan daunnya dengan cara mengunyah langsung atau diseduh dalam air panas atau dengan kopi. Daun tumbuhan ini juga bisa dibuat menjadi rokok. Menurut Suhairi, beberapa senyawa-senyawa yang ditemukan dalam daun kratom kering telah terbukti memiliki sifat antioksidan dan karena itu dianggap manfaat kesehatan yang signifikan. Selain itu, olahan kratom dapat digunakan sebagai obat bius selama operasi dan dapat membantu menambah serat saluran pencernaan. (mif/ody)

 

 

 

 

 

Berita Terkait