Ajung Mundur Jadi Tatung

Ajung Mundur Jadi Tatung

  Kamis, 18 February 2016 09:15
ONGKOS NAIK: Beberapa tatung mundur teratur karena nominal santunan dari panitia yang hanya Rp1 juta. Jumlah itu tak sebanding dengan pengeluaran para tatung yang mencapai belasan bahkan puluhan juta. Gambar di atas, seorang tatung remaja in action di jalan kota Singkawang saat Cap Go Meh beberapa tahun lalu. SHANDO SAFELA/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

SINGKAWANG- Beberapa kelompok tatung menyatakan saat ini sedang mempersiapkan untuk tampil dalam pawai tatung, Senin (22/2) mendatang. Namun banyak diantaranya belum bisa memastikan diri lantaran terbentur pendanaan.

Ajung misalnya. Dirinya mengaku sampai dengan Rabu (17/2), pihaknya belum bisa memastikan berapa jumlah tatung yang akan diturunkan saat Pawai Tatung Cap Go Meh 2016. Hal ini dikarenakan belum adanya dana yang mencukupi.“Kalau mau turun (ikut pawai tatung), itu sudah pasti perlu dana. Jadi sekarang ini kita belum bisa memastikan berapa dari tatung akan turun,” kata Ajung, ditemui wartawan di kediamannya, Rabu (17/2).

Pihaknya juga telah didatangi beberapa orang yang siap untuk memikul tandu tatung dari Kelompoknya. Namun dirinya belum juga memberikan kepastian.“Ramai orang yang datang berniat ikut memikul tandu tatung. Tapi karena kita sendiri belum bisa memastikan berapa tandu yang turun, kita sampaikan kepada merek,” katanya.Dari kelompok Tatung Datuk Chau Liu Nyian Shai di Jalan Budi Utomo, pada pawai sebelumnya. Paling tidak menurunkan sebelas tatung tandu. Namun pada CGM tahun ini, diperkirakan akan jauh dibawah jumlah tersebut.

“Kalau yang kita daftarkan ada sembilan tandu. Tapi kalau pun bisa turun pasti dibawah sembilan, atau paling parahnya hanya satu tandu saja yang bisa turun,” katanya.Pasalnya, seluruh biaya yang diperlukan untuk satu tatung tandu. Berkisar Rp6 juta. Sekarang dana dari panitia hanya Rp1 juta.“Dihitung saja, di tahun lalu kami memberi upah kepada orang yang memikul Rp360 ribu. Sementara untuk tandu ukuran kecil, memerlukan enam pemikul. Belum lagi untuk makannya, ditambah membeli sesajian, seperti gaharu, lilin dan lain-lain.

“Uang untuk orang yang pikul tak bisa hutang, untuk beli sesajian tak bisa hutang, beli nasi untuk pemikul tak bisa hutang. Panitia memang memberi buku paramita untuk meminta sumbangan kemudian mencari sponsor atau donatur.Hanya saja, ketika satu hari dicoba memutarkan buku paramita sumbangan yang terkumpul sekitar Rp21 ribu. Kemudian upaya mencari sponsor juga telah dilakukan, hanya saja kurang membuahkan hasil.

“Ada sponsor, tapi dana yang diberikan belum mencukupi untuk membiayai satu tatung tandu,” katanya.Meski demikian, dirinya tetap akan berupaya mencari sponsor. Kalaupun memang sudah maksimal dilakukan tapi belum juga mendapatkan hasil. Satu tatung tandu akan turun dalam CGM nanti.“Kita akan tetap turun, meski Ekonomi sedang mendung. Namun melihat dari kemampuan nanti. Terlebih sudah ada satu sponsor, kemudian ditambah santunan panitia yang hanya Rp1 juta, dan menunggu beberapa hari ini. Mudah-mudahan ada,” katanya.

Terlebih, sebagai warga Singkawang. Secara hati, memiliki tanggung jawab untuk meramaikan kegiatan yang membuat besar nama kota ini. “Kita kan tetap berusaha memeriahkan CGM Singkawang. Saya bisa tampil ke luar Singkawang tentunya dengan bayaran. Hanya saja kita lebih peduli untuk meramaikan Singkawang, dan itu seharusnya panitia pengertian,” katanya.

Tapi untuk ritual tolak bala atau bersih jalan. Ajung akan tetap turun. Kemudian dirinya juga memastikan meramaikan Pawai Lampion yang akan digelar Sabtu (20/2) malam. Ajung telah menyiapkan mobil tuanya, kemudian Patung Panglima Kera Batu yang merupakan benda unik dan bersejarah.“Mudah-mudahan bisa mendapatkan nilai bagus dari dewan juri pawai lampion, kalau bisa masuk peringkat 1,2 ataupun tiga, uang yang didapatkan bisa untuk modal ikut pawai tatung,” katanya.

Keluhan sama juga disampaikan Akhiong, Tatung dari Singkawang Barat. Dirinya mengkritisi mengenai santunan dari panitia CGM.  “Besaran insentif kok hanya Rp1 juta ya, padahal selain dari Pemkot yakni mendapatkan bantuan Rp1 Miliar. Panitia kan masih ada pemasukan dari donatur, sponsor dan tiket Taman Meihua di Kridasana. Tapi kenapasantunan yang diberikan hanya sejumlah itu,” kata Akhiong.

Dirinya berharap, panitia yang telah diberi kepercayaan dari Walikota. Bisa melaksanakan dengan sebaik-baiknya. “Kita berharap panitia yang sekarang, harus mementingkan bagaimana mensukseskan kegiatan ini, bukan berpikiran lainnya,” katanya.Selain itu, dirinya juga mempertanyakaan rute pawai Tatung, yang disampaikan Panitia CGM. Tak melewati Vihara Pusat Kota, padahal para Tatung harus melakukan ritual di Vihara tersebut. “Heran juga saya, dengan rute pawai yang tidak melewati kelenteng kota. Kami kan harus melakukan ritual disana seperti tradisi sejak dari leluhur,” katanya.

Warga kelahiran Singkawang yang sudah menetap di Jakarta, Yosep mengaku prihatin dengan adanya buku paramita yang diberikan panitia kepada para tatung untuk mencari sumbangan agar bisa tampil di Cap Go Meh.“Saya secara pribadi mengaku malu, kalau sampai para tatung Singkawang yang setiap tahun memeriahkan CGM dan membuat Singkawang terkenal ke dunia Internasional. Harus membawa buku paramita untuk mencari sumbangan agar bisa tampil di CGM,” kata Yosep, yang memiliki usaha di Tanah Abang Jakarta.

Dirinya dan rekan pengusaha lainnya. Biasanya tak segan-segan memberikan dana agar pawai tatung meriah. Namun karena sesuatu hal di kepanitiaan dua tahun ini. Pihaknya mengurungkan niat membantu terkait biaya.Kepala Seksi Bimas Buddha Kementerian Agama Kota Singkawang, Suyitno mengatakan beberapa tatung yang telah memiliki tanda daftar tempat ibadah. Diantaranya mengeluhkan masalah biaya agar bisa tampil dalam  awai Tatung, karena kalau hanya mengandalkan santunan dari Panitia, dirasa masih kurang.

“Ada sekitar 560 vihara atau pekong memiliki tanda daftar. Namun mereka belum bisa memastikan diri, apakah bisa ikut pawai atau tidak, karena umat (divihara tersebut) sampai sekarang masih mencari dana tambahan untuk mencukupi kekurangan sebelum hari H nanti,” kata Suyitno, Rabu (17/2) ditemui di ruang kerjanya.Menurutnya, bagi vihara yang memiliki umat banyak. Tentunya pengumpulannya sebentar. Sementara, untuk tempat ibadah yang memiliki umat sedikit, maka juga akan lama. “Memang bagi para penyumbang yang mencatatkan namanya di buku paramita didoakan. Hanya saja jumlah sumbangan juga tergantung jumlah umat yang ada,” katanya.

Namun sebagai Pembina, dirinya berharap semua kegiatan CGM bisa berjalan sukses. Kemudian para tatung bisa segera mendapatkan sponsor atau dana agar bisa tampil saat pawai nanti. Perlu diketahui, untuk CGM 2015. Sebanyak 400-an tatung ambil bagiandalam pawai tatung.(fah)

Berita Terkait