Ajarkan Anak Berkompetisi Sehat Sejak Dini

Ajarkan Anak Berkompetisi Sehat Sejak Dini

  Rabu, 28 Oktober 2015 11:32
LOMBA: Peserta tengah bersiap mengikuti perlombaan mading di SD Suster Pontianak. BUDI MIANK/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Memeringati bulan Bahasa Persekolahan Suster Pontianak menggelar berbagai lomba kesenian yang berhubungan dengan sastra antarsekolah dasar di Pontianak. Meski baru pertama kali diadakan, peminat kegiatan ini cukup tinggi. ARISTONO, Pontianak

TIDAK seperti biasa, area SD Suster Pontianak di Jalan RA Kartini tampak ramai. Di halaman sekolah dan beberapa ruangan, sekelompok orang berkumpul untuk menyaksikan babak-babak penyisihan perlombaan di sana.  Persekolahan Suster Pontianak tengah menggelar karya siswa dalam bentuk lomba antar SD se-Kota Pontianak pada 27-28 Oktober. “Ini kali pertama Persekolahan Suster menggelar kegiatan lomba antarsekolah dalam rangka bulan bahasa ini,” kata ketua panitia, Nano Basuki.
Biasanya lomba-lomba yang bersifat internal antarkelas seperti lomba membaca puisi, cipta puisi, drama, atau pun majalah dinding. Pada tahun ini kami membuat kegiatan yang dapat diikuti oleh adik-adik yang duduk di bangku SD se-Kota Pontianak, khususnya kelas 4, 5, dan 6. Lomba yang diselenggarakan antara lain, lomba cipta puisi, baca puisi, pidato bahasa Indonesia, dan membuat majalah dinding.
Sesuai dengan tema Bulan Bahasa, semua jenis lomba berkaitan dengan praktik berbahasa. “Kita tahu kalau satu di antara tiga sumpah para pemuda tahun 1928 adalah menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Maka, untuk mengkonkretkan tujuan dan sasaran kegiatan, kami mengadakan lomba-lomba yang terkait praktik berbahasa bagi anak-anak yang duduk di bangku SD,” kata sekretaris panitia tersebut.
Selain untuk memperingati Sumpah Pemuda, kegiatan yang akan diselenggarakan di lingkungan SD dan SMP Suster ini dimaksudkan sebagai sarana pembentukan karakter bagi kaum muda. “Melalui lomba, potensi anak akan berkembang. Sudah seharusnya sekolah memberi ruang untuk perkembangan minat dan bakat siswa. Kami sering menjumpai bahkan mengikuti lomba yang orientasinya hanya menang dan kalah. Kali ini, kami mencoba membuat perlombaan yang lebih menekankan nilai edukasi.
Pada acara pertemuan teknis, kami ingin ada semacam pelatihan singkat bagi siswa dan pembimbingnya. Sehingga, dalam lomba kali ini para peserta tidak hanya berfokus pada menang dan kalah saja. Jika menang, tidak tinggi hati. Sebaliknya, mereka puas dengan pembelajaran dan pengalaman, meski tidak juara,” kata penanggung jawab kegiatan, Hieronimus.
Senada dengan Hieronimus, Yosafat A’us mengatakan bahwa proses pembentukan karakter kaum muda harus dimulai dari usia dini. “Pembentukan karakter jujur, sportif, cinta tanah air dan bangsa mesti kita mulai dari bangku sekolah dasar. Anak-anak usia 6 hingga 12 tahun adalah anak-anak yang mudah dididik. Jika pondasi nilai dan karakter telah tertanam dengan baik, maka kelak ketika mereka duduk di bangku sekolah menengah maupun perguruan tinggi sudah memiliki bekal untuk menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik,” jelasnya. (*)

 

 

 

Berita Terkait