Ajakan Menikah dari Kekasih Orang

Ajakan Menikah dari Kekasih Orang

  Sabtu, 16 December 2017 10:00
Devy Hestiwana, M.Psi., psikolog // Psikolog

Berita Terkait

Banyak pertimbangan menjawab ‘iya’ ketika diajak menikah. Salah satunya adalah menunggu pasangan yang tepat. Apalagi, pernikahan adalah ikatan suci yang diharapkan hanya sekali seumur hidup. Namun, bagaimana jika ajakan menikah itu datang dari pria yang memiliki pacar?

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Tidak ada yang bisa menyalahkan rasa cinta yang tumbuh, meski salah satu dari keduanya telah memiliki tambatan hati. Seperti halnya Bagas. Pria berkaca mata ini merasa nyaman dan bisa jadi diri sendiri saat bertemu dan berkomunikasi dengan Ayu, teman semasa SMAnya. Dengan Ayu, ia bisa bebas bercerita dan bersikap.
Komunikasi yang intens, membuat Bagas menyakini hatinya, jika Ayu adalah sosok yang tepat untuk mendampinginya. Dengan tekad bulat, ia pun bertekad mempersunting Ayu. Padahal, saat mempersunting Ayu, Bagas berstatus sebagai kekasih wanita lain selama dua tahun terakhir. 
Psikolog Devy Hestiwana, M.Psi., mengatakan saat pria memutuskan mempersunting wanitanya, ia tidak bisa memutuskan secara sepihak. Menikah harus didasari keputusan kedua belah pihak. Harus dipikirkan matang dan dibicarakan secara terbuka. Dengan harapan bisa melihat keputusan apa yang diambil keduanya.
“Akankah melaju bersama atau bertahan sementara karena masih ada sesuatu yang jadi pertimbangan, misalnya salah satu belum siap dan ingin berkarir,” ujarnya. 
Saat pertimbangan telah diberikan, salah satu bisa menawarkan solusi atau memberikan pengertian. Sehingga, menunda sementara demi alasan tertentu. Jangan sampai menyebabkan perselisihan hanya sekadar mengejar status. Atau, khawatir karena banyak teman seumuran sudah menikah. 
Namun, suasana akan berbeda ketika keinginan menikah bukan ditujukan pada kekasih hati yang selama ini menemani hari-harinya, melainkan seseorang yang dapat membuat hatinya merasa nyaman. Menanggapi hal ini, tenaga kontrak di Dinsos Kalbar bidang perlindungan anak ini menyatakan sulit mengatakan apakah situasi ini benar atau salah.
Devi menuturkan, apa yang dilakukan pria bisa saja adalah proses memilih pasangan yang terbaik. Perlu diingat, selagi dalam batas pacaran, kedua belah pihak (pria dan wanita) masih diperbolehkan memilih pasangan paling terbaik. Bahkan, ada yang sampai melewati proses berdoa lebih dulu. 
Ketika dihadapkan pada situasi seperti ini, tetap saja rasa sungkan (tidak enak) menghampiri wanita baru yang sedang didekati sang pria. Terlebih, ketika kekasih sang pria mengetahuinya. Sosok baru yang hadir akan dianggap sebagai perebut kekasih orang. Padahal, belum tentu wanita baru tersebut memiliki rasa yang sama terhadap pria tersebut. 
Ketika wanita tersebut tidak memiliki keinginan yang sama, ia bisa memberikan alasan yang tepat. Termasuk meminta pria untuk memantapkan hati dengan kekasihnya. Namun, jika wanita tersebut merasa hal yang sama, ia bisa meminta pria lebih dulu memutuskan hubungan dengan pasangannya secara baik-baik. 
Pria bisa menyelesaikan hubungan dengan pasangannya sebelum memulai dengan orang lain. Mengungkapkan secara jelas apa penyebab kandasnya hubungan yang telah dibina. Meski, saat mengatakannya terlihat jahat, serta membuat mantan kekasih merasa sakit dan perih. Setidaknya, tidak ada dendam dan rasa sakit di kemudian hari. 
“Meski pada akhirnya, hubungan pria dan kekasihnya putus. Wanita jangan terlalu cepat memutuskan untuk langsung menjalin hubungan lebih serius. Pikirkan kembali,” tuturnya.
Perlu dipahami, dalam menjalin hubungan harus mempertimbangkan berbagai aspek. Jangan hanya mau menikah karena sudah merasa sama-sama nyaman dan saling cocok. Seseorang bisa menanyakan kembali landasan dasar dirinya dipersunting. Dikhawatirkan cocok saat awal, tetapi seiring berjalannya waktu mulai mengungkit ketidakcocokan. 
“Tanyakan juga sejauh mana rasa cintanya. Apakah sebatas cinta sebagai teman, atau sebagai pasangan. Ketika, ingin menjadikan ia pasangan, ia harus mengenal lebih dulu,” pungkasnya. ** 

Berita Terkait