Ajak Warga Dusun Menuju Kampung Pintar

Ajak Warga Dusun Menuju Kampung Pintar

  Selasa, 25 Oktober 2016 09:30
MEMBACA: Jepriadi (berkopiah) bersama anak-anak Dusun Semayong di Rumah Baca Semayong Institute.FAHROZI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Relawan Baca Kalbar; Sosok Inspirasi Menuju Indonesia Membaca 2019

Sejumlah nama diusulkan pembaca Pontianak Post sebagai Duta, Relawan dan Tokoh Baca Kalbar 2016. Salah satunya Jepriadi, warga Dusun Semayong, Desa Sungai Kumpai, Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas. Harapannya tak muluk. Mengajak warga melihat jendela dunia dengan banyak membaca. Rumahnya pun disulap jadi perpustakaan.

FAHROZI, Sambas

TAK sulit menemukan kediaman Jepriadi di Dusun Semayong, Desa Sungai Kumpai, Teluk Keramat. Begitu menyebut nama Jepriadi, sudah pasti warga langsung tahu.

Jepriadi dikenal karena kepeduliannya membangun kampung. Dia punya cita-cita mulia. Mengajak warga kampungnya suka membaca sehingga wawasannya terbuka, terutama pada anak-anak. Dirinya ingin, dengan gemar membaca menjadi generasi penerus pembangunan desanya.

Namun untuk memulainya, bukan perkara mudah. Mulai dari keluar modal sendiri, hingga harus mencari dukungan. Paling sulit lagi, bagaimana memulai mengajak warga Dusun Semayong untuk membaca. Beragam masalah muncul. Terbatasnya buku, tempat, kesibukan warga dengan pekerjaannya serta seabrek masalah lainnya. Tapi hal itu tak membuat patah semangat.

Jepriadi memulai mengajak warga dusun membaca dengan melihatkan aktivitasnya sendiri. Warga RT 04 RW 02 ini menjadikan membaca awal 

dari aktivitasnya setiap hari. Ribuan buku yang terpajang di rak dinding rumah milik almarhum bapaknya itu menjadi sarapan pagi.

Kecintaan Jepri terhadap buku dimulai sejak ia memasuki perguruan

tinggi pada tahun 2005. Meskipun tidak dikatakan "kutu buku", namun

Jepri senang sekali dengan mengoleksi buku bacaan. Setiap ia pergi

keluar daerah (saat kuliah), yang menjadi oleh-oleh utama ialah

buku. Bahkan pernah berburu buku di Kwitang, yang merogoh koceknya ratusan ribu rupiah kala itu.

Kesenangannya terhadap buku, membuat ia bercita-cita mendirikan sebuah komunitas yang menggerakkan masyarakat pada budaya membaca. Karena itu, selesai kuliah, semua buku koleksinya habis di boyong kerumahnya. “Saat kuliah, membaca bisa dibilang hobi, karena setiap pagi bangun tidur pasti yang dicari adalah koran," katanya.

Mengenai buku yang paling senang dibaca, menurut Jepriadi, adalah kisah-kisah inspiratif tokoh, pengembangan diri, cerita-cerita sukses,

motivasi dan novel yang diangkat dari kisah nyata.

Keinginannya untuk mendirikan sebuah gerakan membaca di kampungnya berbuah manis. Pada tahun 2014 Perpustakaan Daerah Provinsi Kalimantan Barat membuat program Gerakan 1000 buku. Kampungnya menjadi salah satu tempat tujuan penempatan 1000 buku itu. Karena kekurangan fasilitas di kampong nya, Jepri menggunakan rumahnya sebagai tempat perpustakaan mini.

Rumahnya itu pula, ia bersama rekan-rekan yang tergabung dalam Karang Taruna Tunas Harapan Bersama Desa Sungai Kumpai membuat Komunitas Semayong Institute. Salah satu kegiatan utamanya adalah "Rumah Baca Semayong Institute". Hampir setiap hari rumah baca ini dipadati anak anak, baik sekadar membaca, iseng-iseng lihat-lihat gambar pada buku, meminjam, dan lain sebagainya.

Jepri bersama rekan-rekannya juga sering mengadakan lomba-lomba membaca, menulis, bercerita, pidato di tingkat desa. Kini sedang digalakkannya Gerakan Semayong Membaca. Dengan salah satu kegiatannya adalah "Warung Baca", dan "Rumah Baca". Semangat senang membaca ingin ditularkan kepada generasi muda di kampungnya. 

Sebagai tenaga pelaksana adalah para pemuda setempat. Antara lain Verawati SE dan Yetri, S.Pd. Mereka adalah relawan yang bekerja tanpa digaji, murni untuk menularkan semangat membaca pada anak anak.

Pria kelahiran 1 Juni 1986 juga mengkampanyekan gerakan membaca melalui website semayonginstitute.com, grup Facebook : Semayong City Institute. Semayong Institute ; Menuju Kampong Pintar. Jepri menyadari bahwa, hanya dengan membaca dan pendidikan bisa  membuka wawasan dan merubah cara pandang masa depan anak bangsa. Meskipun mereka tinggal di pelosok negeri, yang akses transportasinya sangat memprihatinkan, Jepri dan kawan kawannya optimis, suatu saat perubahan paradigma masyarakat terhadap pendidikan dan budaya membaca akan semakin meningkat.

Kini, Rumah Baca Semayong Institute telah menjadi referensi  orang di luar Kampong Semayong untuk belajar dan studi banding. Alhamdulillah, pada tahun 2015 terpilih sebagai Pemuda Pelopor Nasional bidang pendidikan. Beberapa kali mengisi acara yang berkaitan dengan Perpustakaan.  Jepri pun memiliki impian besar yang ingin diwujudkan. Setelah Kampong Semayong adalah gerakan Satu Desa Satu Rumah Baca. Semoga. (*)

Berita Terkait