Ajak Pelajar Gunakan Telok Belanga dan Baju Kurung

Ajak Pelajar Gunakan Telok Belanga dan Baju Kurung

  Sabtu, 22 Oktober 2016 09:30

Berita Terkait

"Saya belum tahu pakaian khas melayu seperti apa. Untuk hari ini sekolah menggunakan pakaian bebas," ucap seorang pelajar SDN 03 Pontianak Selatan, yang mengenakan seragam muslim itu, langsung berlalu.

Pontianak Post juga memantau SDN 42 Kota Pontianak. Di sana, pelajar yang menggunakan pakaian khas melayu corak insang hanya sebagian saja. Sebagian anak menggunakan pakaian muslim. Pelajar laki-laki kebanyakan mengenakan koko dan pelajar perempuan mengenakan baju terusan. Sisanya ada juga menggunakan pakaian kebaya.

Salah satu Orang tua murid, Wahyu mengaku tak terlalu paham dengan busana khas melayu Pontianak. "Yang saya tahu pakaian melayu warna kuning. Kalau secara detail khasnya saya tak tahu," tuturnya.

Kepala SDN 42 Kota Pontianak, Sahiri mengatakan, memperingati Hari Jadi Pontianak, seluruh dewan guru dan siswa menggunakan pakaian khas melayu Pontianak. Laki-laki pakai telok belanga, perempuannya baju kurung dengan corak insang. "Di sekolah juga mengadakan berbagai perlombaan, seperti pawai membawa manggar dan saprahan," jelasnya. 

Perlombaan ini dilakukan sebagai pelestarian agar budaya ini tak pudar dan dapat dikenal generasi muda Pontianak. 

Dijelaskan dia, pakaian khas melayu Pontianak itu gampang dikenal. Baju telok belanga dan baju kurung miliki motif khas corak insang. Untuk warna didominasi kuning dan hijau. 

Ia menyadari, pelajar di sekolahnya tidak semua menggunakan pakaian khas melayu Pontianak. Sebagian besar pelajar menggunakan pakaian muslim bagi perempuan, kalau laki laki mengenakan baju koko. Namun kata dia, sebagian pelajar itu biasanya murid-murid baru. Kalau siswa kelas 3 ke atas, rerata memiliki baju khas melayu ini, karena tiap tahun di Hari Jadi Pontianak pakaian melayu digunakan ke sekolah.

Secara pribadi, ia setuju apabila Pemerintah Kota Pontianak buat aturan penggunaan pakaian khas melayu di sekolah. Dengan begitu, budaya Pontianak tidak bakalan pudar. "Bisa saja sebulan sekali atau dua minggu sekali kenakan pakaian khas kita. Menurut saya ini baik," pungkasnya.

Untuk melestarikan budaya Pontianak, tiap tahun ia menyelenggarakan lomba Bujang dan Dare tingkat SD. "Dengan begini anak anak akan tahu pakaian khas melayu Pontianak," ungkapnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Pontianak, Mulyadi mengatakan, penggunaan pakaian khas melayu Pontianak, yaitu telok belanga dan baju kurung bagi pelajar digunakan hari ini (Jumat kemarin). Untuk hari Sabtu tidak diwajibkan.

Dinas Pendidikan miliki rencana membuat satu modul muatan lokal. Isinya materi budaya khas Pontianak. "Rencananya akan diberlakukan 2017," terangnya.

Mengenai penggunaan pakaian khas melayu Pontianak digunakan di sekolah pada hari tertentu, calon kuat Sekda Pontianak itu akan membicarakan ini dengan semua perwakilan sekolah. Apabila sekolah siap ia tak masalah, namun yang ia hindari protes orang tua ke depan karena tidak siap dengan aturan itu. Makanya harus ada pembasan terlebih dahulu. "Untuk saat ini kadang pakaian yang dikenakan pelajar masih menyewa. Pemberlakuan pakaian ini sudah dijalankan sejak dua tahun lalu," ucapnya.

"Penggunaan baju telok belanga dan baju kurung memang seperti busana muslim. Pakaian ini tidak ketat, harus longgar, tidak membentuk badan dan tidak menghalangi gerak gerik,” ucap Kepala Dinas Pariwisata dan kebudayaan Kota Pontianak, Elfira Hamid.

Baju kurung dan telok belanga ada namanya pesak. Bentuknya di pinggir kiri jahitan tangan. Untuk khas pakaian Melayu Pontianak tentu ada pada corak insang dan tenunannya. “Sosialiasi pakaian melayu Pontianak sudah kita lakukan sejak dua tahun lalu,” terangnya.

“Memang tidak semua pelajar menggunakan pakaian melayu khas Pontianak ke sekolah. Faktor ekonomi yang tidak menyukseskan program pemkot dalam menggalakkan pakaian daerah agar diapakai saat memperingati ultah Kota Pontianak,” terang anggota DPRD Kota Pontianak, Amelia Atika.

Menurut dia, bagi pelajar yang mampu membuat baju khas daerah tidak masalah. Namun lanjutnya, bagi pelajar yang tidak mampu, tentu ini akan menjadi persoalan. Jalan lainnya, mereka harus menyewa baju atau menjahit yang semua menggunakan uang, sedangkan untuk makan saja mereka susah.

“Kalau hemat saya jangan terlalu dipaksakan untuk kesemua siswa menggunakannya, cukuplah perwakilan saja dari masing-masing kelas atau dibuat lomba pakaian khas yang mengutus masing-masing kelas agar tetap mengenal dan melestarikan pakaian khas. Saya rasa cukup efektif,” tutupnya.(iza)

 

 

Berita Terkait