Ajak Media Gali Potensi Bahasa Daerah

Ajak Media Gali Potensi Bahasa Daerah

  Sabtu, 13 Agustus 2016 10:31
BAHASA: Usai berdialog diluncurkan gerakan nasional literasi bangsa di Balai Bahasa Kalbar. MIFTAH/PONTIANAKPOST

Agar ekosistem dalam pembinaan bahasa dan sastra Indonesia di Kalimantan Barat terus menggeliat, Balai Bahasa Kalbar mengadakan dialog komunitas dengan mengajak jurnalis dari media massa, Kamis sore. Tujuan menggalakkan Gerakan Nasional Literasi Bangsa agar minat membaca dan menulis meningkat.

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

DILIBATKAN jurnalis media massa sebagai peserta dialog, menurut salah satu pemateri, Dedy Ary Asfar, karena media miliki peran penting sebagai corong informasi bagi masyarakat dalam menginformasikan beragam informasi. Dalam pemberitaan cetak, online dan TV kerap ditemukan penggunaan kalimat-kalimat yang justru menimbulkan ambigu.

Apabila kesalahan ini terus dibiarkan, akan menggiring masyarakat membenarkan maksud dari kalimat yang jika difaedahkan dalam Bahasa Indonesia yang benar justru arti dan maksudnya beda. 

Penggunaan bahasa daerah dalam media massa bagus. Ia justru ingin, media lokal membuat pojok khusus dalam pelestarian bahasa daerah.

Menurutnya, bahasa daerah saat ini tidak mendapat porsi besar untuk bisa dibantu pelestariannya dalam media massa. Memang pada kolom tertentu ada tulisan khusus untuk bahasa daerah, hanya saja jumlahnya tidak banyak. Padahal kini, bahasa daerah terancam punah.

Hal senada dikatakan Kepala Balai Bahasa Kalimantan Barat Firman Susilo. Ia menjelaskan, sudah selayaknya media massa menggunakan Bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah yang berlaku.

Menurut dia, media ikut berperan dalam mengaplikasikan Bahasa Indonesia, bagi pelajar atau guru. Bahkan, media juga jadi pembelajaran dan riset kecil yang dilakukan mahasiswa atau murid, khususnya untuk mengecek penggunaan kalimat per kalimat di pemberitaan itu.

Penggunaan Bahasa Indonesia di media massa secara keseluruhan sudah baik. Meski demikian, ada beberapa hal yang masih perlu disikapi secara bijak, terutama media majalah dan surat kabar di mana penggunaan judul kadang masih menyesatkan pembaca. Selain itu lanjutnya, ada beberapa kata seharusnya tidak dipotong pada baris tertentu tetapi kalimat justru di potong.

Kalau pemberitaan media televisi lokal, ia pribadi menilai berita yang disampaikan sudah bagus terutama dalam sisi penggunaan Bahasa Indonesia.

Sejumlah jurnalis juga dihadirkan jadi pemateri dalam dialog itu, di antaranya Teguh Imam Wibowo dari Kantor Berita Antara, Budi Miank dari Pontianak Post dan Aries Munandar, Media Indonesia.

Dalam diskusi itu juga menyampaikan tata cara dalam menulis berita dan bagaimana etika wartawan dalam mendapatkan sebuah berita. Diskusi berjalan mencair, banyak peserta melontarkan pertanyaan mengenai tata cara penulisan berita dan kode etik jurnalis.(*)