Ajak Masyarakat Sadar Gizi

Ajak Masyarakat Sadar Gizi

  Selasa, 30 January 2018 10:00
PEMERIKSAAN KESEHATAN: Dinkes Kalbar bersama Persagi Kalbar dan Dinkes Kota Pontianak menggelar pemeriksaan kesehatan dalam peringatan Hari Gizi Nasional. MADEFRANS/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Minggu (28/1), Kawasan Car Free Day, Ahmad Yani Pontianak diwarnai gelaran Karnaval yang diikuti ratusan peserta. Karnaval yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Gizi Nasional ke-58 itu, mengajak masyarakat melek gizi. Harapannya masyarakat turut berperan mendukung peningkatan kesadaran, serta kepedulian masyarakat terhadap gizi seimbang. Rangkaian kegiatan diisi konseling gizi ibu hamil dan pemeriksaan kesehatan.

Persoalan gizi jadi perhatian serius Dinas Kesehatan Kalimantan Barat. Dinkes melakukan pemantauan status gizi secara terus menerus. Salah satunya meningkatkan peran serta masyarakat melalui posyandu. “Ini yang harus digerakkan. Mewujudkan masyarakat dengan peningkatan status gizi tidak bisa dikerjakan sendiri. Tidak hanya dinkes tetapi juga gerakan serentak seluruh masyarakat,” kata Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, drg Hary Agung Tjahyadi.

Dinkes juga melakukan intervensi asupan gizi pada bayi dan balita. Menimbang berat badan balita setiap bulan menjadi sesuatu yang wajib. Sehingga tidak mungkin mendapatkan status gizi buruk secara tiba-tiba, kecuali ada penyakit. Jika dalam waktu tiga bulan, berat badan anak tidak naik maka perlu perhatian orangtua dan tenaga kesehatan untuk memberikan asupan makanan.

Gerakan masyarakat hidup sehat terus ditingkatkan. Menurut dia, ketika pola hidup masyarakat dari makanan hingga sanitasinya sehat, maka akan menciptakan generasi berkualitas. “Jangan sampai status gizi buruk atau stunting menghantui keluarga. Gerakan masyarakat terkait asupan makanan, terutama sayur, buah, dan ikan. Jadi tinggi protein, tidak hanya karbohidrat dan lemak, tetapi tinggi protein. Sehingga anak-anak kita menjadi kuat secara fisik dan rohani, tetapi juga otaknya,” tuturnya. 

Program 1.000 hari pertama kehidupan juga menjadi program penting mewujudkan generasi lebih baik. Ibu hamil sehat dan siap melahirkan, anaknya tidak BBLR (berat badan lahir rendah), pemberian IMD dan ASI eksluisif, dan pemberian makanan pendamping hingga usia dua tahun. 

Selain itu, kata dia, status gizi ada kiatnya dengan sanitasi dan kesehatan lingkungan. “Bagaimana anak bisa tumbuh kembang dengan baik jika sanitasinya tidak baik. Ini saya kira sangat menunjang,” ujarnya.

Pengelola Program Gizi Dinkes Kalbar, Rayna Anita mengatakan, untuk meningkatkan status gizi bayi dan balita dibutuhkan kemandirian keluarga. Peran keluarga diharapkan mampu mengenali dan mengatasi masalah gizinya sendiri. “Ketika menyadari anak kurus, maka lakukan penimbangan berat badan. Lihat standar pada panduan pada buku KIA (kesehatan ibu dan anak). Ada standarnya di situ. Sudah sesuai belum menurut umur,” kata dia.

Jika ternyata memang kurang, perlu perhatian lebih lanjut agar tinggi badan anak sesuai umur. Begitu juga pada ibu hamil. Seharusnya pada tiga bulan pertama berat badan naik. Jika tidak ada kenaikan, berarti harus sadar ada satu hal yang kurang. Maka segera antisipasi agar mencegah anak stunting.

Sementara itu, Agus Hermansyah, ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kalbar menyampaikan, anak bertubuh pendek (stunting) karena kekurangan gizi akan mengalami hambatan tumbuh kembang. Selain memiliki tingkat kecerdasan lebih rendah, stunting lebih beresiko terkena penyakit degeneratif di masa dewasanya. (mrd)

 

 

 

Berita Terkait