Ajak Konjen Malaysia Ungkap Jaringan Narkotika

Ajak Konjen Malaysia Ungkap Jaringan Narkotika

  Sabtu, 30 April 2016 08:58
NARKOTIKA: Polisi menunjukkan kemasan permen dan makanan ringan yang dikemas menutupi sabu saat masuk ke wilayah Indonesia. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Kepolisian Daerah Kalimantan Barat berkoordinasi dengan Konsulat Malaysia dan Mabes Polri untuk membongkar jaringan narkoba internasional dengan barang bukti sabu seberat 17 kilogram yang diamankan Polsek Ledo, Bengkayang pada 17 April 2016.

"SAAT ini kasus penyelundupan sabu seberat 17 kg telah diambil alih oleh Dit Narkoba Polda Kalbar. Kami telah berkoordinasi dengan Konsulat Malaysia dan Mabes Polri untuk membongkar jaringan narkoba itu," Ujar PJs Kabid Humas Polda Kalbar AKBP Badarudin dalam keterangan persnya, kemarin.

Dikatakan Badarudin, Sabu seberat 17 kilogram dikirim dari Serikin Malaysia melalui Pos Lintas Batas Jagoi Babang di Kabupaten Bengkayang oleh seseorang bernama Murni dengan tujuan Hendro warga Pemangkat Kabupaten Sambas. Barang haram itu dikirim oleh seseorang bernama Jum. "Saat ini Jum masih kita selidiki dan menjadi buron," katanya.

Dalam pemeriksaan Murni sudah ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan barang bukti yang ada, sedangkan Hendro saat ini masih berstatus sebagai terperiksa.

Seminggu setelah ungkap kasus tersebut oleh Kapolda Kalbar, tepat setelah 6x24 jam waktu yang dibutuhkan dalam penyidikan, akhirnya Hendro dilepaskan pada Minggu (23/4) dengan alasan tidak cukup bukti.

"Murni saat itu ditetapkan sebagai tersangka karena sudah memenuhi unsur yang ada dalam pasal  112, 114 dan 115 UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Sedangkan untuk Hendro, berdasarkan gelar perkara yang dilakukan Polda Kalbar, belum cukup bukti," katanya.

Menurut Badarudin, dalam pemeriksaan, baik melalui sarana komunikasi maupun konfrontir, tidak ditemukan adanya hubungan dengan keduanya, baik dengan Murni maupun dengan Jum. Sehingga dari hasil gelar, Hendro belum memenuhi unsur pasal yang dipersangkakan.

Selain melakukan pemeriksaan terhadap Hendro, polisi juga melakukan tes urin terhadap Hendro. Dan hasilnya positif mengandung amphetamine. Namun belum diketahui, apakah itu berasal dari obat-obatan terlarang atau obat lainnya. "Saat ini yang bersangkutan kami serahkan kepada Badan Narkotika Nasional untuk melakukan asessment, apakah akan direhabilitasi, atau melalui tindakan lainnya. Yang jelas saat ini keberadaannya masih kita awasi," terangnya.

Badarudin menambahkan, saat pengembangan kasus, berdasarkan pengakuan Murni, sabu yang dibawanya tersebut merupakan pesanan dari  Jum untuk diserahkan kepada Hendro. Hanya saja, saat itu alamat yang diberikan tidak tepat. Sehingga, ketika polisi mendatangi alamat yang dituju, menemukan Hendro, tapi bukan dia yang dimaksud.

Pada saat barang haram itu diserahkan oleh Murni kepada Hendro, lanjut Badarudin, Hendro juga menolak karena merasa tidak pernah memesan.

Terkait dengan dilepaskan Hendro, Badarudin membantah jika Hendro merupakan korban salah tangkap. “Polisi tidak ada istilah salah tangkap. Kalau informasi yang dicurigai, ya kita melakukan penangkapan. Polisi memiliki kewenangan untuk itu, tergantung  dari pidana apa yang akan disidik. Kalau narkoba, 3x24 jam, bisa ditambah hingga 6x24 jam. Kalau tidak terbukti yang bisa kita lepas,” katanya.

Jum saat ini masih dalam pencarian kepolisian. Namun karena keberadaanya yang saat ini diduga berada di Malaysia, Polda Kalbar pun sudah berkoordinasi dengan otiritas disana untuk bersama-sama mencari keberadaan Jum. (arf)

Berita Terkait