Ajak Jalankan Kebaikan

Ajak Jalankan Kebaikan

  Kamis, 11 February 2016 11:16
IBADAH: Umat Hindu saat melakukan ibadah pada hari raya Galung. SUTAMI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

HARI Raya Galungan diisi umat Hindu Sintang dengan sembahyang. Peribadatan berlangsung khusyuk baik di Pura Giri Penataran Agung, Desa Tinum Baru Kecamatan Tempunak dan di Pura Giri Luhur, Desa Lundang Baru Kecamatan Dedai, Rabu (10/2).

Pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sintang, Edy Widodo mengatakan, hari raya Gulungan merupakan hari raya kemenangan Dharma atau kebaikan melawan kebatilan. Maknanya, manusia sebagai mahluk Tuhan mesti membuang jauh perilaku jahat dan senantiasa harus berbuat baik kepada sesama.  “Kebaikan diberikan tidak terbatas karena agama, suku maupun golongan,” katanya.

Menurut Edy, pelaksanaan ibadah umat Hindu pada hari raya Galungan dipusatkan di Pura yang berlokasi di Tinum Baru dan Dedai. Keduanya merupakan tempat bermukim umat Hindu di Sintang. “Umat Hindu melaksanakan sembahyang di Pura terdekat,” ujarnya. Alumni Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya ini menambahkan, makna hari raya Galungan yang bisa diambil adalah kisah perang Bharata Yudha. Pandawa merupakan keluarga baik berperang mengalahkan Kurawa dari keluarga tidak baik.

“Kisah kemenangan kebenaran melawan kebathilan tertulis dalam kitab Bhagawad Gita yang menuliskan semua percakapan Sri Krishna dan Arjuna dalam menyampaikan mana yang benar dan salah,” kata Edy.

Menurut Edy, bila diaktulisasikan dalam hidup keseharian yakni manusia mesti mentaati aturan. Tindakan dan perbuatan tidak boleh sewenang-wenang. Hidup harus dijalankan sesuai dengan pedoman agama. Larangan mesti dijauhi.“Kalau jadi pemimpin misalkan harus bertindak adil. Jabatan dijalankan dengan penuh tanggungjawab. Tidak arogan terhadap rakyatnya. Jauhi serta musuhi korupsi. Amanah bukan jalan untuk memperkaya diri apalagi menindas rakyat. Jujur dan adil harus jadi prinsip pemimpin supaya rakyat terayomi,” kata Edy.Dia menambahkan, adapun sembahyang hari raya Galungan, umat hindu di Sintang melaksanakan sebanyak dua kali. Pagi dan petang. “Usai sembahyang dilanjutkan Dharma Wacana atau siraman rohani,” ujarnya.(stm)

 

Berita Terkait