Ajak Jaga Kelestarian

Ajak Jaga Kelestarian

  Kamis, 4 Agustus 2016 10:15
BETANG : Rumah betang Lunsa Hilir merupakan salah satu betang di Kapuas Hulu yang ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah dan sering mendapat bantuan. MUSTA’AN/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

RUMAH betang  juga biasa disebut rumah panjang (long house) merupakan salah satu cagar budaya dan yang melambangkan identitas bangsa ini. Karenanya, keberadaan betang mesti tetap terjada kelestariannya. Melalui kementerian terkait, pemerintah telah memberikan perhatian ke berbagai cagara budaya di negara ini, termasuk betang Lunsa Hilir, Kecamatan Putussibau Selatan.

 
Betang Lunsa Hilir milik suku Dayak Taman ini mulai dibangun pada tahun 1942, dan ditempati tahun 1947. Betang dengan panjang 118 meter, ketinggian 5 meter dengan jumlah 30 pintu atau bilik yang dihuni 57 Kepala Keluarga dengan 219 jiwa. “Betang Lunsa Hilir pernah beberapa kali dapat bantuan dari pemerintah daerah kapuas hulu,” terang Thomas kepala dusun Urang Unsa, Rabu (3/9) kemarin.

Pertama, kata Thomas, pada tahun 1986-1988 dari Dinas Sosial Kabupaten Kapuas Hulu, kemudian tahun 2006-2007 Pemkab Kapuas Hulu melalui Bagian Kesra kembali membantu renovasi betang yang awalnya beranda depan menghadap ke Sungai Kapuas, menjadi ke jalan raya. “Kami masih tetap berharap dukungan penuh pemerintah daerah, provinsi  dan dari pemerintah pusat,” tutur dia.

Dikatakannya, dalam menata pembangunan desa hasil pemekaran Desa Suka Maju, Kecamatan Putussibau Selatan itu pihaknya akan melakukan berbagai upaya. Karena di desanya masih banyak kekurangan, terutama masalah listrik dan air bersih. “Sebagai salah satu cagar budaya, betang lunsa hilir bisa menjadi salah satu tujuan wisata.Karenanya perlu dungan dari pemerintah,” papar Thomas.

Senada dengan Thomas, Ketua Kelompok Pelestari Betang Dusun Danumdoro Lunsa Hilir, Damianus Sintan mengatakan, perehaban rumah betang membutuhkan waktu tiga bulan, dengan sistem kerja gotong royong. Mengingat, kemampuan keuangan hanya Rp 438 juta. “Yang kami rehab bagian bawah, penamabahan tiang tengah, pendopo dan separuh atap bagian depan betang ini,”terangnya.

Menurut Damianus, masih ada dibagian belakang bangunan betang butuh paritispasi pengerjaannya. Karena belum rehab total, dia berharap tahun depan ada bantuan rumah cagar budaya ini. “Rumah ini bukan milik warga Urang Unsa seutuhnya, ini menjadi aset pemerintah daerah juga,” ucapnya. Menjaga dan melestarikan betangsebagai identitasbangsa ini menjadi tanggungjawab bersama.(aan)

Berita Terkait