Air Sungai Berbau dan Menjijikan

Air Sungai Berbau dan Menjijikan

  Kamis, 5 November 2015 08:35
DANGKAL DAN BAU: Salah satu kawasan sungai di pusat perbelanjaan Kota Singakawang yang dangkal dan berbau. AIRIN FITRIANSYAH//PONTIANAK POST

SINGKAWANG--Masyarakat meminta aliran sungai cepat dinormalisasi oleh pemerintah Kota Singkawang. Terutama sungai yang berada di pusat kota sudah dangkal, berbau dan berlumpur. Diperlukan pemerintah terkait untuk menyelesaikan masalah aliran sungai tersebut. "Sudah lama aliran sungai di pasar tidak dikeruk. Sampai-sampai air sungai berbau dan menjijikan. Karena selama ini dibiarkan pemerintah begitu saja," ucap Warga Kota Singkawang Hasan Akbar, SH., Rabu (4/11) kepada Pontianak Post.

Dia menyatakan kondisi sungai harus bisa dijaga dan ditata dengan baik. Ini merupakan bagian cerminan masyarakat dan pemerintahan Kota Singkawang. Apalagi sungai tersebut memiliki ikon tersendiri karena berada di pusat perbelanjaan Kota Singkawang. Ia menuturkan pemerintah daerah tidak seharusnya berdiam diri hanya memperhatikan Sungai Singkawang dangkal dan berbau. Tetapi harus berupaya agar normalisasi Sungai Singkawang bisa terwujud dengan baik.

"Pembangunan tidak perlu menutupi aliran sungai. Tetapi sebalinya aliran sungai harus kita jaga supaya air bisa mengalir dengan lancar," ungkapnya saat melihat kondisi Sungai Singkawang.

Ketua LSM Publik Lingkungan Hidup Kota Singkawang Uray Albert, SH., menyayangkan atas sikap pemerintah terkait tidak menormalisasi aliran sungai Singkawang. Padahal perawatan dan penjagaan aliran sungai sudah menjadi bagian dari tugas dan tanggungjawab pemerintah daerah. "Normalisasi sungai sangat diperlukan untuk menjaga kebersihan lingkungan. Supaya aliran sungai tidak tercemar penyakit dan bisa berdampak negatif pada kesehatan masyarakat," paparnya.

Dia meminta instansi pemerintah terkait untuk memeriksa tingkat pencemaran air sungai yang berada di pusat perbelanjaan Kota Singkawang. Dikarenakan sungai tersebut menjadi salah satu tempat pembuangan kotoran, sampah organik dan non organik. Ia menilai banyak sampah yang mengendap cukup lama dipermukaan aliran sungai tersebut. Diduga belum ada uji laboratorium dari intansi terkait mengenai kondisi kelayakan sungai Kota Singkawang. "Selama ini kita selalu memimpikan Kota Singkawang menjadi pusat pariwisata dan jasa perdagangan. Tapi kita tidak pernah melihat kondisi sungai dan kehidupan masyarakat Kota Singkawang sendiri," pinta ayah tiga anak tersebut.

Ketua DPRD Kota Singkawang Sujianto menambahkan sudah layak Sungai Singkawang dinormalisasi oleh pemerintah daerah. Namun anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) Kota Singkawang tidak mencukupi untuk hal tersebut. "Saat ini APBD Kota Singkawang tidak memadai untuk normalisasi sungai. Sedangkan normalisasi sungai memerlukan biaya besar. Jadi kami hanya bisa mengajukan anggaran kepada pemerintah pusat," tuturnya. Dia mengakui sejarah Sungai Singkawang tidak dangkal seperti kondisi sekarang. Dikarenakan tahun 1960 Sungai Singkawang di Jembatan Angen menjadi tempat bersandarnya kapal-kapal dagang.

Ia menyatakan sebaliknya kondisi Sungai Singkawang sekarang malah tidak memadai dangkal dan berbau. Sehingga wajar di musim penghujan Kota Singkawang mengalami banjir karena aliran sungai tidak tertata dengan baik. "Kita akan berusaha meminta bantuan pemerintah pusat untuk menormalisasi Sungai Singkawang. Supaya ailiran sungai bisa mengalir dengan lancar sampai ke laut," imbuh Sujianto. (irn)