Air ”Kelat” Hantui Pembudidaya

Air ”Kelat” Hantui Pembudidaya

  Selasa, 8 March 2016 07:41
DIHANTUI PENCEMARAN: puluhan kotak keramba milik pembudidaya ikan air tawar memenuhi Sungai Mempawah. WAHYU ISMIR/PONTIANAK POST

Berita Terkait

MEMPAWAH- Seperti usaha-usaha lain yang kadang pasang surut, begitu pula budidaya ikan air tawar. Ancaman kerugian pun kerap menghantui para pembudidaya. Kualitas air Sungai Mempawah menjadi faktor penentu kelangsungan hidup ikan-ikan.

Faktor air ini pula yang menjadi momok bagi para pembudidaya. Tak heran jika ada pembudidaya harus gulung tikar apabila kondisi air sungai mempawah sedang tidak bersahabat. Air kelat begitu para pembudidaya menyebutnya yang selama ini menjadi ‘hantu’ bagi kelancaran usaha budidaya ikan air tawar.

Air kelat yang dimaksud pembudidaya yakni ketika terjadi pencemaran air sungai mempawah. Air sungai yang biasanya berwarna terang, berubah menjadi coklat dan mengental seperti kopi susu. Kondisi ini biasanya disebabkan terjadinya pencemaran air sungai mempawah dari wilayah perhuluan.

Baik itu  pencemaran akibat limbah merkuri Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) maupun penguraian air gambut pembakaran hutan dan lahan yang mengalir masuk ke dalam muara sungai mempawah. Kejadian air kelat ini pernah terjadi beberapa waktu lalu hingga menyebabkan puluhan ribu ikan air tawar milik para pembudidaya mati. Mereka pun harus merugi puluhan bahkan ratusan juta akibat air kelat tersebut.

“Yang paling menakutkan bagi para pembudidaya ikan air tawar disini (Sungai Mempawah), yakni air kelat. Ciri-cirinya air berubah warna menjadi lebih keruh dan terasa sedikit kelat (pahit),” kata seorang Pembudidaya Ikan Air Tawar di Sungai Mempawah, Abie Chindreas kepada Pontianak Post, Senin (7/3) di pinggiran Sungai Mempawah.

Abie mengaku, serangan air kelat di Sungai Mempawah cukup sering terjadi. Biasanya, dua kali dalam satu tahun. Untungnya sekarang sudah jarang masuk air kelat di sungai mempawah. Sehingga, pembudidaya pun sedikit bernafas lega dari ancaman kerugian.

“Namun, kalau datang air kelat maka kami harus pintar-pintar mengambil keputusan yang tepat. Salah satunya dengan melakukan panen dini. Sebab, kalau ikan sudah mati maka tidak akan laku dijual,” sebutnya.

Selain terkendala kondisi air, Abie mengaku persoalan lainnya terkait harga jual pakan ikan yang cenderung tidak stabil. Bahkan, saat ini harga jual pakan ikan semakin mengalami kenaikan mencapai Rp 250 ribu perkarung isi 30 kilogram.

“Untuk 30 kotak keramba, biasanya menghabiskan ratusan karung pakan ikan. Itu terhitung sejak bibit dimasukan hingga panen. Makanya secara keseluruhan modal untuk usaha budidaya ini terbilang besar. Namun, selagi hasil panen cukup bagus maka kami masih akan mendapatkan keuntungan. Secara pribadi, saya menilai usaha ini cukup menjanjikan,” pendapatnya.(wa

Berita Terkait