Ahok Merusak Momentum, PDIP Usung Risma Makin Terbuka

Ahok Merusak Momentum, PDIP Usung Risma Makin Terbuka

  Sabtu, 13 Agustus 2016 09:20
FOTO JAWA POS

Berita Terkait

JAKARTA - Wacana Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini diajukan PDIP dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 semakin kencang. Hingga kemarin (12/8), partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu terus membuka pintu untuk memboyong Risma -sapaan akrab Tri Rismaharini- ke ibu kota. 

"Sampai sekarang belum ada keputusan final. Kemungkinan (mengusung Risma, Red) kan masih terbuka," kata Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto di kediaman Megawati, Jl Teuku Umar, Jakarta. Hasto kemudian membeber sejumlah skenario yang telah disiapkan partainya menghadapi pilkada DKI. Yang pertama adalah kembali mengusung pasangan incumbent Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat. 

Opsi berikutnya ialah mengusung bakal cagub dari nama-nama yang telah mengikuti proses penjaringan di DPD PDIP DKI. Terakhir, melahirkan pemimpin alternatif berdasar hasil pemetaan politik. 

Di opsi ketiga itulah peluang Risma terbuka. Menurut Hasto, Risma masuk daftar sembilan kader PDIP yang mendapat dukungan untuk menjadi kepala daerah. 

"Opsi (yang dipilih, Red) tentu akan mengerucut berdasar dinamika politik yang ada. Termasuk mempertimbangkan nama-nama figur yang disuarakan publik. Sebagai partai yang memiliki roh kerakyatan, kami terus-menerus merespons positif aspirasi-aspirasi tersebut," terang Hasto. 

Sinyal menguatnya dukungan ke Risma di internal PDIP antara lain terlihat dari penunjukan yang bersangkutan sebagai salah seorang juru kampanye nasional (jurkamnas) PDIP untuk pilkada serentak 2017 beberapa hari lalu. Penunjukan Risma dilakukan langsung Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. 

Selain itu, menguatnya peluang Risma tergambar dari perkembangan terkini di internal PDIP. Bahwa peluang mengusung kembali pasangan incumbent sebagaimana yang menjadi skenario pertama sudah semakin tipis. Faktor Ahok yang menjadi sebab. 

Wasekjen PDIP Ahmad Basarah lalu menceritakan sejumlah titik yang membuat momentum tersebut rusak. Di antaranya adalah ketika Ahok sempat memberikan waktu kepada Megawati untuk memastikan pengusungan dirinya dalam waktu sepekan. Megawati mengabaikan intimidasi tersebut dengan pertimbangan menjaga marwah partai. 

Tidak cukup di situ, lanjut Basarah, Ahok juga dianggap telah merusak momentum ketika pengumuman yang bersangkutan memilih jalur parpol dan otomatis meninggalkan Teman Ahok, relawan pendukungnya. 

Namun, lanjut Basarah, bukannya mendaftar penjaringan PDIP, Ahok justru berbicara di media akan daftar lewat tiga parpol, yaitu Partai Golkar, Nasdem, dan Hanura. "Dan tidak menunggu dukungan PDIP. Artinya, Ahok sendiri yang ambil keputusan untuk tidak sama-sama dengan PDIP," imbuh ketua Fraksi PDIP di MPR tersebut.

Lalu, apakah dengan demikian peluang mengusung Risma makin besar? Basarah mengelak menjawab. "Itu yang saya belum tahu. Apakah Bu Risma, Pak Budi Waseso, Pak Djarot, Pak Boy Sadikin, Pak Sandiaga Uno, Pak Yusril, atau lainnya, semua masih berkembang di rapat-rapat," paparnya. 

Berdasar jadwal tahapan pilkada DKI Jakarta yang ada, pendaftaran calon dari parpol akan dibuka pada 21-23 September. Hingga saat ini, baru muncul satu nama, Ahok, yang sudah mengumumkan siap mendaftar.

Terpisah, pemerhati politik dari Universitas Nasional Jakarta Mohammad Hailuki menilai sosok Risma memang memiliki peluang terbesar untuk diusung PDIP. 

"Belum ada sosok lain yang lebih kuat daripada Risma, di luar Ahok, hingga saat ini. Karena itu, PDIP hampir tidak punya banyak pilihan selain mengusung yang bersangkutan," beber Hailuki. 

Dari Surabaya, Risma masih tetap pada sikapnya seperti yang ditunjukkan beberapa pekan terakhir. "Siapa yang mau berang­kat? Wong aku niat saja gak onok (tidak ada)," ucapnya kemarin. Dua hari lalu dia sempat menunjukkan kekesalan karena Ahok membanding-bandingkan Surabaya dengan Jakarta. (dyn/sal/c9/ang) 

Berita Terkait